Tentang dodytape

saya hanya salah seorang anggota brimob polri yang pengen menyalurkan hobi dan uneg2....

Pra ops di bulan mei 2012

image

Detasemen C / SL untuk sekian kali dipercaya untuk mengemban tugas dari negara yakni mengamankan suatu event nasional. Maka, guna menunjang keberhasilannya, sebanyak 2 SSK dari Detasemen ini melaksanakan pelatihan yang sifatnya merefresh kemampuan satuan maupun perorangan. Salahsatunya CQB

image

image

” Doakan kami ya….” (jadi inget takeshi castle , hwhwhw)
*by the way, kami juga mohon dukungan untuk rekan2 yang sekarang ini bahu-membahu bersama rekan2 TNI dan tim SAR lainnya dalam evakuasi korban kecelakaan pesawat sukhoi didaerah kaki gunung Salak           

Anggota brimob siaga demo kenaikan BBM

image

Sat II Pelopor menyiagakan anggotanya menyusul makin maraknya unjukrasa yg menolak kenaikan BBM. Di titik 2 rawan, termasuk obyek vital…telah ditempatkan personil POLRI, termasuk anggota brimob satuan II pelopor yang siap menanggulangi tindak anarkhis yang mungkin terjadi.  Penulis sebagai manusia biasa yg juga tak luput dari mengkonsumsi BBM(motornya…) sangat mengerti tujuan unras ini. Cuma yang bikin saya ga ngerti, kenapa harus anarkhis? Dan akhirnya polisi yang disalahkan…. * be smart, be wise

Mengenal Wong Fei Hung : Ulama, Pendekar dan Tabib

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

Sumber : kaskus.us

http://www.indospiritual.com/artikel_mengenal-wong-fei-hung-ulama-pendekar-dan-tabib.html

BinTra

image

Hari ini dilaksanakan pembinaan dan tradisi( bintra) dijajaran subden 2. Para pesertanya adalah bintara remaja yang diorganikkan ke detasemen c singalodaya.
Setelah hampir setahun para bintara remaja ditampung di Makosat II Pelopor…mereka akhirnya dibagi ke Detasemen-detasemen.

Ada apa dengan POLISI?

Kalimat di atas sekilas memang mirip judul sebuah film. Tapi pertanyaan ini sangat pas dengan situasi saat ini. Banyak kritik bahkan judgement negatif terhadap polisi. Meskipun berbagai hujatan mendera, saya dan temen2 ga ambil pusing dan ga mw terpengaruh dalam menjalankan tugas sehari-hari. Saya sempet teringat kata2 seorang polisi senior…,”anggota polisi itu bukan datang dari langit, tapi berasal dari masyarakat. Jadi bila anggota polisi itu kurang baik,maka itulah cerminan dari masyarakatnya. Peran tokoh masyarakat dan ulama/tokoh agama lah yang diperlukan disini. Untuk membimbing jiwa2 yang sudah mulai “jauh”.

WELCOME HOME, 3rd FPUers

Bertempat dilapangan Baharkam Mabes Polri, Kapolri jend Timur Pradopo menyambut 130 dari 140 personel FPUer III dalam sebuah upacara penyambutan. Disebutkan bahwa POLRI telah mengirim 4 kontingen Garuda Bhayangkara dalam kurun waktu 2008 hingga sekarang. Dan FPUer dari indonesia sampai kini masih dinilai terbaik oleh UN,dibandingkan dengan kontingen negara lain.
Sekelumit penggalan cerita dari darfur,bahwa tim cpc yang biasa dikawal oleh fpu Indonesia,di ambuse oleh kelompok bersenjata. Pada saat itu cpc dikawal oleh rwandan army. Sejumlah cpc dan rwandan army tewas. Padahal selama hampir setahun cpc tersebut dikawal oleh fpu indonesia,dan tidak pernah mendapat gangguan..
Aniway, welcome home brades… Selamat berkumpul dengan keluarga, dan selamat berjumpa dengan tameng sekat..(^^,)

Ied Mubarak, Iedl Qurban

Kutipan

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.., la Ilaha Illallahu Allahu Akbar.. Allahu Akbar walIllahilham..
Renungan: kambing dan sapi,dari lahir selalu dalam ketidakenakan. Ga pernah makan enak, ga pernah dibeliin pakaian pas lebaran, tidurpun ga pernah dapat tempat yg bersih. Begitu dah gede, dipotong..
Kambing dan sapi harusnya menginspirasi manusia. Bila ada orang yang berbangga telah berqurban sekian ekor kambing/sapi, maka ia harus malu pada kambing/sapi yang telah mengorbankan kehidupannya..

SELAMAT BERTUGAS FPU IV

Malam ini, sejumlah 140 personil FORMED POLICE UNIT (FPU) IV berangkat menuju Al-Fashir, Northern Darfur, Sudan. Mereka akan menggantikan kontingen Garuda Bhayangkara yang telah kurang lebih setahun bertugas disana. Selama setahun kedepan,kontingen ini akan menjalankan misi perdamaian PBB. Disana mereka akan melaksanakan pengawalan terhadap CPC, VIP, Refugees dan International Aids Org. juga akan melaksanakan patroli diseputaran IDP Camps, penjagaan terhadap staff dan aset2 PBB, bersama dengan FPU negara lain. SELAMAT BERTUGAS KAWAN. JAGA NAMA BANGSA, DAN KIBARKAN MERAH PUTIH. SEMOGA KEHADIRAN KONTINGEN INDONESIA DIDARFUR MEMBAWA PERDAMAIAN DISANA.