SAT II PELOPOR KORPS BRIMOB POLRI

Posted on Updated on

Sat II Pelopor adalah Satuan Brimob yang secara struktural berada dibawah Korps Brimob Polri. Satuan ini mempunyai 4 Detasemen(Den) yang masing2 membawahi 4 sub detasemen. Dulu, sebelum bernama Sat II Pelopor, satuan ini bernama Resimen I,yang mana mempunyai tugas/fungsi utama sebagai pasukan pemukul inti POLRI. Berbagai tempat di Indonesia pernah dipijak oleh anggota Sat II Pelopor.

Dari ujung barat sampai ke ujung timur Indonesia adalah wilayah tugas operasi. Wilayah yang pernah merasakan kehadiran Sat II Pelopor( yang waktu itu masih bernama Resimen I) adalah propinsi NAD. Bagaimana tidak, sejak bergolak yang diawali dengan Referendum, Resimen I telah dikirim ke wilayah itu hingga berakhirnya konflik yang ditandai dengan ditandatanganinya MoU di Helsinsky.

Tidak sedikit korban yang jatuh dari anggota Resimen I. Tapi tidak sedikit pula satgas dari resimen ini yang menuai keberhasilan dalam misinya. Sebut saja satgas tiger..satgas rimeung.. Satgas tersebut mendapat sambutan yang baik bagi rakyat Aceh, meskipun ada juga oknum yang membuat nama baik kesatuan ini jadi agak buruk sedikit.

Tapi secara keseluruhan, nama Resimen I ato Sat II Pelopor ditakuti lawan dan disegani kawan.

hagu(aceh2001)

*)salah satu kemampuan Resimen I ato Sat II Pelopor: tugas tempur

P1030988

*) PHH Brimob

Kemampuan lain yang dimiliki oleh satuan ini selain tugas tempur adalah pengendalian huru hara. Kemampuan yang dimiliki inilah menyebabkan kesatuan ini harus rela bolak-balik bogor-jakarta. Maklum..semenjak reformasi banyak demonstrasi yang berakhir pada unjuk rasa anarkhis. Dan kebanyakan demonstrasi seperti itu dilakukan di Jakarta.

Ada lagi kemampuan yang saat ini merupakan salah satu ciri khas Sat II Pelopor, yakni S.A.R. ato Search And Rescue. Kualifikasi SAR ini difokuskan pada salah satu Detasemennya dan dinamakan Tim DELTA. Tim Delta ini sudah  berkecimpung di banyak upaya penyelamatan terhadap korban kecelakaan maupun bencana alam.

338 pemikiran pada “SAT II PELOPOR KORPS BRIMOB POLRI

    riska cute berkata:
    Juli 25, 2008 pukul 10:22 pm

    huuuueeheehehheeee….

    ini om dody lagi bawa2 senjata ya?
    ampun ah, takut di tembak…..
    om, kenalin ama yang bagian admin itu atuhh,,,,

    hwhwhwweeeeee…………….

    slm apa ya?

    riska

    dodytape responded:
    Juli 27, 2008 pukul 8:46 pm

    admin yang mana riska?
    kan udah om kenalin ma mas eko…
    cieeee…….

      antonius panji suseno berkata:
      Juli 6, 2009 pukul 2:45 pm

      Salam buat Resimen 1 brimob batalyon B, Mei 1998 : nono suherno,dario da silva L,julito S,miquel fernandes,alerindo,deden sudrajat,penta ali P,rogerio mendosa,muklis,andi FP,IK sudiarta,marka alves,X santos,sanco A,Alcino silvano,Antoni fernandes,K neno,Antoni da Costa,sutrisno,joao arnaldo,rachmat subagyo,jose fernandes,samuel amaral,Crystoporus U,guntur R,nana sumarna,virgilio coirera,thomas B,kustapa,Dwi wahyono,Dedi risandi.
      Terima kasih..dari keluarga Alm. Letda Brimob Thomas Pandji Purwonegero.(DANTON Resimen 1 Brimob Batalion B,April 1998 sampai 24 Mei 1998).

    echa berkata:
    Juli 28, 2008 pukul 9:24 am

    pagi..

    RONI_FAISAL G2N berkata:
    Agustus 10, 2008 pukul 6:32 pm

    Smoga Prajurit Baret Biru Brimob Tetap Jaya Selalu dan sukses dalam setiap Penugasan….. Salam Komando
    Buat Senior dan Rekan2 yang lain di Sat II Pelopor….
    TTd AKP RONI FAISAL.Sik
    Mantan Alumni Brimob Kelapa Dua RESIMEN 4 GEGANA BRIGADE……!!!!!!!!

    siap komandan…terimakasih atas atensinya. dengan ucapan yang sama,BRIGADE !!!!

      yogi berkata:
      Agustus 28, 2012 pukul 11:28 pm

      ma kopasus tading fisik ma strategi kaya seru yaaa

        dodytape responded:
        Agustus 30, 2012 pukul 7:44 am

        Bapaakk…..pengusaha kompor ya? *kok tau? Ya tau lahh

      salamat tambunan berkata:
      Oktober 11, 2013 pukul 5:16 pm

      macam Kopassus aja pake istilah salam komando..brimob itu kan bagian dari polisi bukan militer kan..nga ok banget sebut salam komando , kalo Paskhas AU atau Marinir itu baru

    echa berkata:
    Agustus 11, 2008 pukul 4:45 pm

    om dody slm knal dr aquw…
    dinas dmn om ???

    salam kenal juga buat mbak Echa…saya bertugas di SAT II Pelopor Korps BRIMOB POLRI di Bogor, mohon ijin,kalo boleh tau…mbak Echa dimana?

    KArsan berkata:
    Agustus 27, 2008 pukul 8:05 pm

    Buat Semua anggota Brimob Kedung Halang,

    Dari Kualitas dan kwantitas, maupun persenjatan kalian masih jauh dari harapan. kalian belum seperti Resimen Pelopor/RANGERSnya Anton Sudjarwo,

    Pada saat operasi gerilya melawan SAS dikalimantan yang mana mereka terkenal dengan Sistem four man patrol,tetapi kita menggunakan three man patrol untuk menghadapi mereka. dan kami berhasil memotong garis perthanan mereka berulang kali dan menghancurkan mereka. bukan satuan lain seperti yang sekarang dijadikan sejarah.

    Dijaman kita dahulu, Rangers sangat ditakuti karena mempunyai salah satu keahlihan yaitu menembak tepat sasaran dalam kondisi apapun dan ini sangat desegani oleh satuan lain diindonesia. Bagaimana dengan Kalian? Kalian diserang oleh satuan lain yang menyerang markas kalian, begitu panik dan tidak berhasilmenghancurkan mereka. jadi jangan terlalu bangga dengan operasi ini itu.

    Salam

    Karsan

    Salam hangat buat Mbah Karsan.(maaf manggilnya Mbah karena Anggota MENPOR adalah Pendahulu/Senior dari anggota Resimen ato pun Satuan I,II,III Brimob yang ada sekarang ini)
    Trimakasih atas masukan Mbah Karsan bagi anggota Sat II Pelopor Kedunghalang. Kiprah Ranger ataupn MenPOr di dalam sejarah POLRI memang tak bisa di pungkiri.Satuan yang ada saat ini berusaha mewarisi nya.
    cuma ada beberapa pernyataan yang sedikit perlu diberi atensi disini.
    1. Masalah persenjataan…Menurut pengamatan saya pribadi, senjata yang dimiliki Sat II Pelopor sekarang ini sudah memenuhi standar, disesuaikan dengan standar Nato dan situasi politik saat ini. Jadi kalo kurang lengkap,bagian mananya?
    pada saat Jayanya MenPor sampai keadaan Brimob saat ini terdapat link yang terputus. Ini terjadi pada saat peciutan/pengecilan Brimob dimasa Orde Baru. ini juga menjadi faktor penentu mengapa regenerasi di tubuh MenPor tidak berjalan dengan baik.(klo memang Brimob yang sekarang beda jauh dengan Pendahulunya)
    2. Untuk yang pernyataan Mbah Karsan bahwa Sat II Pelopor pernah diserang oleh satuan lain kemudian panik dan ga berhasil menghancurkannya, tolong bisa disebutkan kapan waktunya?oleh pasukan mana?Dan posisi Mbah Karsan waktu itu dimana? karena sepengetahuan saya, dalam kurun waktu tahun 2000 sampai sekarang, tidak ada yang namanya penyerangan terhadap Makosat II Pelopor
    Dan satu lagi yang ingin disampaikan..tugas operasi yang dilaksanakan oleh anggota Brimob,sengaja ditulis bukan untuk menunjukkan kehebatan. Tapi menunjukkan rasa pengabdian Brimob generasi sekarang terhadap intitusi dan Republik ini. Jangan sampai kiprah Brimob maupun POLRI pada umumnya, tidak dilirik oleh sejarah.
    Trimakasih kepada Mbah Karsan yang menginginkan Brimob Jaya sepeti masa KeEmasannya.

      Kawan Sejati berkata:
      Maret 13, 2012 pukul 3:25 pm

      Maaf Saya Hanya Meluruskan Bahwa Prabowo bukan dedengkotnya Kopassus,,,Ada Komandan Pertama Idjon Djambi, Terus Kaharudin Nasution, RE Djaelani, dan Komandan2 Kopassus lainnya, jd mohon ijin bahwa prabowo bukan satu2nya dedengkot Kopassus, tetapi pernah menjadi Komandan Jenderal Pada kesatuan elit no 3 di dunia ini, terima kasih.,,,,salam komando

      rahman berkata:
      Mei 22, 2012 pukul 2:36 pm

      mohon ijin apabila dulu ada menpor ada four man patrol atau sbgnya,tapi apakh diturunkan ilmu dan materinya jadi biar para generasi penerus tahu dan bisa mengembangkannya yang disesuaikan dengan zaman

    Karsan berkata:
    Agustus 31, 2008 pukul 7:37 pm

    Salam hangat buat anak2ku dikedung halang,

    Satuan Brimob adalah Satuan khusus dari POLRI yang diorganisir secara militer untuk menghadapi situasi apapun dinegara ini karena POLRI sebagai pemegang kendali keamanan dalam negeri yang diamanatkan oleh undang2 jadi otomatis berbeda dengan satuan ditubuh polri yang lain. tetapi yang sangat menyedihkan Brimob diejek oleh satuan lain sebagai satuan yang tidak jelas kelaminnya atau militer bukan tetapi……. you knowlah tentunya. ini perlu disikapi oleh Brimob.

    Saya pernah dengar pada saat operasi keamanan di aceh pos satuan pelopor 2 ini pernah diserang oleh satuan lain yang mengakibatkan satu anggota Sat 2 ini tewas dan 3 lainnya luka2. seharusnya serangan ini bisa dinetralisir apalagi didaerah merah seperti aceh, SAT 2 harus waspada baik kepada lawan atau Kawan. jangan sampai anda diumpan oleh satuan lain. Anda tau kan ada satuan lain dinegeri ini yang selalu Sok jadi Pahlawan.

    Mengenai persenjataan, sudah saatnya Brimob juga menggunakan senjata berat sebagai penghancur material lawan. ini mengingatkan kita pada saat operasi di TImtim yang mana kita pernah dikerjain oleh departemen ha…… pada saat kita telah merebut daerah2 dari musuh dan kita berpindah ketempat lain( MObile) dan daerah yang sudah direbut ternyata tidak mampu dipertahankan oleh satuan lain sehingga jatuh ketangan lawan dan kami yang sedang bergerak terus dipanggil untuk mempertahankan daerah tersebut sedangkan senjata yang kami punya bukan untuk bertahan tetapi serbu. dan karena ketiadaan senjata yang kami minta, maka terpaksa kami mundur sambil membakar gudang senjata.

    Ada baiknya tehnik2 perang baru, Brimob juga harus mempelajari agar dilapangan tidak sampai dipandang sebelah mata oleh satuan lain.

    Saya juga punya masukan untuk Kalian, kalau bisa satuan pelopor hanya ada dijakarta saja dan jangan didaerah. ini unttuk menjaga kualitas dari pasukan itu sendiri( Pelatihan,dll) dan gampang dievaluasi. mungkin didaerah bisa memakai nama RECON saja. jangan terlalu gampang memakai nama Pelopor kalau gak berkualitas.

    pengembangan Pasukan pun harus melihat jumlah penduduk dan luas wilayah dan keseimbangan dengan satuan lain. akibat ketidak seimbangan ini Polri sering mengahadapi kesulitan dalam mejalankan tugas akibat tekanan2 dari satuan lain.

    Semoga Brimob tetap Jaya, dan Bravo PELOPOR.

    Anton A Setyawan berkata:
    September 2, 2008 pukul 1:38 am

    Dear all

    nama saya Anton A Setyawan pekerjaan Dosen Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta Alamat: Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta e-mail: rmb_anton@yahoo.com hp: 08156718444

    Ayah saya, Kapten (Pol)/AKP Purn Kartimin adalah mantan anggota Kompi A Brimob Rangers (pendahulu Menpor/Sat II Pelopor), beliau dididik di Watukosek tahun 1958.

    Pengalaman tempur/operasi:
    1959-Test Mission pengepungan DI/TII Kartusuwiryo di Jawa barat.
    1960-Gerakan Operasi Militer IV di Riau,Sumsel sampai dengan Sumatera Barat dan Sumut, mengejar sisa2 PRRI.
    1961-Gerakan Operasi Militer IV dan ops Sapta Marga mengejar gerombolan Daud Beureuh di Aceh.
    1962-Operasi Mandala tergabung dalam Komando Trikora/RTP I mendarat di Fak-Fak pada perebutan Irian Jaya/Papua.
    1964-Gerakan Operasi Militer VII mengejar pemberontak Kahar Muzakar
    1984-Rotasi XI Ops Seroja sebagai Kapolsek di Watu Kerbau Kab Vique-que Timor Leste.

    Dalam setiap operasi itu keterlibatan kompi A Brimob Rangers/Menpor sangat besar, saya berkeinginan menuliskan pengalaman pasukan ini dalam sebuah buku, sebagai sarana untuk menambah pengetahuan sejarah Indonesia. Saya mohon rekan-rekan di kesatuan Brimob Sat II Pelopor atau di Mako Kelapa 2 bisa membantu memberikan info tentang pelaku sejarah (mungkin yang membaca komentar ini anak atau cucu) sehingga penulisan buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Saya bisa dihubungi via e-mail diatas atau nomor HP.


    buat Mas Anton,teriring salam buat Ayahanda. Jika dilihat dari komentar2 yang bercokol disini, Mas Anton bisa menghubungi Mbah Karsan.Untuk Mbah Karsan, mohon ijin dibantu dong Mas Antonnya..(^^)

    romeo berkata:
    September 11, 2008 pukul 9:58 am

    Buat pak karsan,,,
    Kebetulan sy pernah mengabdi d bwh panji2 Resimen 1/Sat 2 Pelopor. Satuan ini setau sy tdk pernah berafiliasi, reinkarnasi atau turunan dr satuan Rangers Menpor Brimob. Kalau mau melihat sejarah dan tradisi satuan ini cukup unik. Kalau pada umumnya satuan TNI dan Brimob menarik benang merah berdasarkan satuan sebelumy yang divalidasi dan likuidasi maka Sat 2 merupakan satuan Brimob yang pernah ada di kedung halang ( termasuk Sukasari ). Asrama Brimob Kedung Halang diresmikan oleh Kapolri RS. Soekanto pada tanggal 21 Agustus 1951.

    Sat 2 Pelopor bukan pasukan elit, namun setahu saya satuan ini berisikan prajurit2 yang berani, tegas dan loyal. Dengan keterbatasan materil, logistik, perwira dan support dari “para petinggi” satuan ini mampu memberikan yang terbaik kepada bangsa, negara dan institusi melebihi beban tugas yang dipercayakan. Ini bisa dibuktikan dengan KPLB yang diterima oleh para perwira dan prajurit adalh yang paling banyak diantara satuan2 Brimob lainnya.

    Saya kira Rangers Menpor jaman dahulu adalah yang terbaik yang pernah dimiliki Polri, Pelopor sekarang ini tidak akan pernah menyamai kualitas sebelumnya dikarenakan proses rekrutmen dan pendidikan serta kebijakan yang sudah jauh berbeda.

    TARSIUS berkata:
    September 12, 2008 pukul 3:29 pm

    BUAT MAS KARSAN…….
    MEN I/SAT 2 POR merupakan satuan Brimob diera Polri Mandiri otomatis arah dan kebijakan pimpinan Polri untuk Brimob pun berubah,jadi tidak bisa disamakan dengan Menpor Ranger jaman ABRI dulu karena jaman itu status Brimob adalah sama dengan TNI sebagai satuan untuk pertahanan otomatis persenjataan pun disesuaikan dengan fungsinya pada waktu itu dan fokus kemampuannya adalah teknik taktik tempur, sy pikir masalah persenjataan kita sudah cukup memadai untuk saat ini untuk senjata penghancur kita masih punya meskipun peninggalan dulu tapi yang terutama adalah “the man behind the gun/equipment” betul kata romeo meskipun dengan segala keterbatasan tetapi didaerah operasi SAT 2 POR selalu berhasil dan mengibarkan panji-panji Polri diantara satuan-satuan lain,masalah tidak jelas kelaminnya itu dilihat dari sudut mana kalau yang melihat dari satuan yang apriori dan iri pasti pendapatnya seperti itu, tetapi kalau dia melihat lebih dalam, merasakan bahwa SAT 2 POR merupakan Polisi Plus karena bertugas dengan sifat Back up, melengkapi, menggantikan polisi satuan wilayah,untuk seluruh anggota SAT 2 PELOPOR tetap pertahankan dan tingkatkan kemampuan,loyalitas, keberanian anda,kita bukan militer tetapi militansi harus tetap kita jaga.

    KArsan berkata:
    September 19, 2008 pukul 11:18 am

    BUat Romeo dan Tarsius,

    Ketika Anda menggunakan Nama Pelopor dan menggunakan Brevet Rimba dan laut/Bala, berarti anda harus menjalankan doktrin pelopor dan Bala itu sendiri.

    kalau sekiranya kemampuan masih dibawah standard, lebih baik jangan ikut operasi karena nyawa anda lebih berharga dari operasi itu sendiri/MATI KONYOL.

    kami dulu setelah selesai pendidikan pelopor selama hampir setahun, belum boleh memakai tanda lokasi Pelopor dibahu kiri dan kanan kalau belum memotong kepala lawan didaerah operasi. begitu juga pemakaian Wing terjun, harus minimal terjun 6x + terjun malam dan terjun pantai sekali baru boleh make itu wing. gimana dengan sekarang.

    jadi gak cukup hanya militansi aja tanpa dibarengi dengan pelatihan yang mumpuni secara terus menerus.

    PAda saat pembentukan MENPOR/RANGERS, kita masih belum bergabung dengan tentara sampai Menpor bubar tahun 1972 yang mana awal integrasinya Polisi dengan tentara menjadi ABRI.

    Saya ngomong gini hanya untuk mensupport kalian agar kalian benar2 bisa mejadi satuan yang hebat juga. kalau dulu Brimob dikerdilkan dari luar, sekarang dikerdilkan dari dalam dengan teori2 berbau militeristik( sgt teoritis) padahal memang dilatih dan diorganisir secara militer karena memang merupakan tugasnya beda dengan polisi biasa.

    sebagai contoh debat para petinggi Polri mengenai apakah tugas brimob juga mencakup insurgensi atau tidak? Lha kalau brimob diirian dan aceh gak punya kemampuan insurgensi ya otomatis gak bisa memback up pos2 terdepan polri/Polsek don bung.

    dodytape responded:
    September 19, 2008 pukul 9:57 pm

    sebenarnya ga ada yang perlu di permasalahkan. MENPOR harus begitu karena tuntutan jamannya. Sedangkan Resimen I (yang bermutasi menjadi Sat II/pelopor)memang begitu karena tuntutan jamannya. klo sistem perekrutan MenPor diterapkan pada saat 1998/1999,maka indonesia pada waktu itu modal_madul. Bayangkan…dengan dibayangi disintegrasi bangsa,yg diawali dengan lepasnya TIM-TIM,referendum Di Aceh,konflik horisontal di ambon,POso,Sampit,Papua di tambah juga kerusuhan di Jakarta pada mei 1998, polisi (khususnya brimob) dengan jumlah yang relatif cukup sedikit harus mengendalikan semuanya. mengutip kata mutiara dari senior saya yaitu….“BAYANGKAN…!?” jadi klo memakai sistem perekrutan kayak jaman dulu yang selektif dan menghasilkan anggota berkualitas tinggi tapi sedikit adalah kurang tepat..maka perekrutan dalam jumlah besar memang perlu dilakukan.Dan secara praktek dilapangan,berhasil juga.tapi itungannya bukan potong kepala.(karena sy inget kata2 Danki saya pada waktu ituukuran keberhasilan suatu penugasan bukanlah berapa jumlah lawan yang dapat kita habisi,melainkan masyarakat merasa aman dengan kehadiran kita….akur ga ni?)
    jadi kesimpulannya, ga ada yang perlu dicari mana yang paling benar.
    terimakasih atas komentar2 pada blog ini. semoga ini menjadi ilham bagi para pemikir dan penerus korps brigade mobil di masa depan.”

    TARSIUS berkata:
    September 20, 2008 pukul 12:40 pm

    Buat mas karsan…..
    Terimakasih atas supportnya,saya hanya sekedar memberikan gambaran atas apa yang telah disampaikan oleh mas Karsan sebelumnya, bahwa era sekarang ini tampilan Brimob disesuaikan dengan keberadaan Polri mandiri, untuk doktrin Pelopor tetap menjadi pedoman setiap prajurit Sat II Pelopor dan tidak ada perubahan sampai sekarang ini,masalah militansi dan pelatihan saya rasa sekarang ini Brimob lebih banyak pelatihan bahkan kerjasama dengan luar negeri pun mgkn lebih banyak dari jaman waktu masih ABRI,jadi militansi dan kemampuan tetap sejalan dan perlu mas karsan ketahui sekarang ini Sat II POR bukan hanya kemampuan lawan insurjensi tapi ada 5 kemampuan lain yang menjadi kemampuan Brimob. Soal Operasi saya sudah mengalami 5 daerah operasi baik horisontal maupun vertikal dan tidak pernah saya liat Anggota Sat II POR yang MATI KONYOL malah dibanding dengan satuan-satuan Brimob lainnya Sat II POR paling banyak mereduksi/menyita senjata,menembak mati,menduduki markas baik lawan GAM maupun teroris yang diambon maupun Poso. (masalah potong kepala itu gak perlu diumbar-umbar).Memang tugas Sat II POR merupakan tugas khas Kepolisian karena memang berbeda dan sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tugas Brimob melengkapi,memback up dan menggantikan satuan wilayah apabila tidak mampu melaksanakan tugasnya khususnya didaerah konflik dari konsukwensi tugas tersebuat anggota Sat II POR tidak hanya asal berangkat tentu dan pasti dilengkapi kemampuan untuk itu termasuk operasi lawan gerilya. Masalah Militerisme atau bukan itukan hanya pandangan orang darimana dia melihat,dan dimana mana status pasukan Polisi dengan menggunakan senjata api sudah pasti bersifat semi militer karena kalau tidak jadilah kita gerombolan bersenjata.

    Anton A Setyawan berkata:
    September 22, 2008 pukul 2:55 am

    Kepada semuanya,

    Menyikapi diskusi yang semakin menarik tentang Menpor jaman dulu dan jaman sekarang, bagaimana dengan tawaran saya untuk menyusun sebuah buku saja tentang perkembangan pasukan ini dari awal berdirinya, perubahan-perubahan yang terjadi dan hal-hal lainnya. Anda semua dari berbagai generasi pasukan ini bisa menjadi narasumber yang kompeten. Saya akan menulisnya, karena saya mempunyai kompetensi untuk itu (pekerjaan saya dosen dan peneliti. Penulisan buku ini bisa bermanfaat baik untuk internal Brimob dan Polri sebagai sebuah panduan dari senior pada yunior dan informasi perkembangan bagi senior ke yunior. Bagi eksternal masyarakat, buku ini juga bermanfaat untuk memperkenalkan pasukan elit (bagi saya baik Rangers/Menpor atau Satuan Pelopor tetap satuan elite) ini bagi masyarakat. Hal ini kan bisa menjadi sarana kehumasan bagi Brimob dan Polri yang terkadang oleh masyarakat dipandang negatif. Bagaimana tawaran saya? saya hanya butuh akses informasi saja (misalnya kesediaan untuk diwawancarai) karena untuk sponsor saya sudah ada.

    Salam,

    Anton
    rmb_anton@yahoo.com

      Rudy Kristiadi berkata:
      Mei 31, 2010 pukul 7:19 pm

      Sebenarnya sudah tidak usah dipermasalahkan semuanya, zaman sudah berubah. Institusi akan berubah mengikuti perkembangan zaman. Sekarang bagaimana menyusun sejarah yg ada mumpung senior2 masih ada. Silakan koordinasi dgn Bp. Brigjen Polisi Boy Salamuddin, beliau adalah anak Bp. Nazaruddin (alm) dari Brimob Sukasari (mantan ketua RBC Sukasari), beliau pernah bercerita di depan PP POLRI Sukasari tetap akan menomor satukan BRIMOB karena dia berasal dari anak BRIMOB. Mari kita satukan suara untuk kemajuan POLRI, yang muda menghormati senior2, yang tua memberikan saran dan pendapat kepada yunior2 yang penting berjalan selaras, ngapain kita ributkan pepesan kosong. Semuanya tidak akan menjadikan baik kalo kita tidak mau duduk sama2 untuk sharing. Demikian sedikit masukan dari saya

        dodytape responded:
        Juni 15, 2010 pukul 2:24 am

        Wah, dengan Bpk. Brigjen pol. Boy Salamudin saya ga ragu lagi.beliau memang brimober..Beliau lah salah satu petinggi POLRI yang bersusahpayah atas pengiriman anggota brimob ke misi PBB…

    Anton A Setyawan berkata:
    September 22, 2008 pukul 3:02 am

    Maaf ada ralat sedikit dari komentar terakhir maksud saya buku tersebut juga bisa bermanfaat bagi para senior tentang perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pasukan ini. saya sangat yakin pasukan elite ini punya jasa yang sangat besar bagi perkembangan NKRI sehingga layak dong untuk ditulis dalam sebuah buku, layaknya Divisi 101 Parachute Infantry Regiment punya AS yang legendaris itu.

    Salam untuk Mas Doddy, Bapak Karsan, Mas Romeo dan Mas Tarsius (Anda semua saya anggap orang-orang hebat)

    romeo berkata:
    September 23, 2008 pukul 3:13 pm

    Pak Karsan Lagi
    Ada beberapa hal yang mungkin pak Karsan ketahui bahwa format pelopor jaman pak Karsan tidak bisa menjadi tolak ukur sat por sekarang ini. Pelopor jaman dulu adalah nama satuan pelopor dan qualifikasi kemampuan yang semuany terwadahi dalam satuan yang bernama Menpor. Yang ada sekarang ini satuan Pelopor hanyalah nama satuan yang bukan hanya terdapat di Korps Brimob namun juga tersebar diseluruh jajaran satbrimobda ( kompi2 organik juga berlebel pelopor ) sedangkan untuk kualifikasi pelopor mungkin hanya satu atau dua anggota dalam tiap2 kompi pelopor atau bahkan tidak sama sekali. Sedangkan untuk Duaja Menpor jaman pak karsan sekarang merupakan Duaja Sat 3 pelopor. Ini tidak mengherankan karena pada validasi brimob Resimen 3 memang diproyeksikan untuk melanjutkan tradisi menpor. Karena di resimen inilah diaktifkan 1 kompi pelopor pertama yang telah mendapatkan kualifikasi pelopor. Oleh karena itu namanya adalah Resimen 3 Pelopor disamping Resimen 2 Gegana dan Resimen 1 yang tidak punya embel2 dibelakangya.
    Jadi kalau mau melihat sekarang ini maka seluruh brimob di Indonesia adalah satuan pelopor. Akhirnya jadi rancu, seringkali orang atau senior2 melihat pelopor sekarang ini dipikir seperti pelopor dulu.
    SaYA tidak salahkan pak karsan dalam kasih koment karena ini memang kebijakan yang salah dari pimpinan Polri. Ingin mendapatkan satuan yang sudah punya nama tapi tidak diikuti untuk meng upgrade isinya. Yang seharusnya Satuan pelopor berisikan orang yang berqualifikasi pelopor, sama seperti format Menpor.
    Ini menjelaskan kenapa sekarang rata2 brimob menggunakan kualifikasi pelopor beserta atribut lainny.

    Dalam pertempuran kami tidak pernah terikat dalam doktrin pelopor atau bala. Kami berlatih dengan teknik dan taktik yang kami dapat dari hasil penugasan2 sebelumnya yang kami evaluasi lagi serta yang kami dari dapat dari satuan samping. Teori perang sangat dinamis, variabelnya sangat banyak untuk mencapai suatu kemenangan, teknik yang berhasil dipakai pelopor dulu tidak serta merta menjamin keberhasilan dalam penugasan2 brimob sekarang ini.

    Apa yang saya alami membuktikan keberadaan satuan2 khusus tidak menjadi garansi memenangkan suatu pertempuran atau peperangan, bahkan mereka cenderung eksklusif, menafikan kerjasama dan memandang enteng kawan2nya yang lain, justru satuan konvensional dibawah kepemimpinan yang baik, semangat tempur yang tinggi dan pengalaman operasiny yang akan menjadikan satuan itu besar.
    Dan ini yang terjadi di Resimen 1/ Sat 2 Pelopor, berisikan oang-orang biasa namun dapt menyelesaikan tugas2 yang luar biasa.

    Ralat ”Ksatriaan Kedung Halang di resmikan Kapolri RS Soekanto tanggal 25 Agustus 1952″

    Karsan berkata:
    September 23, 2008 pukul 9:02 pm

    Salam Sejahtera buat semua.

    Kalian Benar. . . Saya senior kalian, tidak lain dan tidak bukan, hanya ingin mensupport kalian saja. sejak Pak Dibyo Widodo( ex,Kapolri) membentuk 2 resimen Brimob dan keinginan beliau pada saat itu untuk membentuk kembali Menpor yang mana kami diminta untuk memberi masukan kepada beliau tetapi kebijakan yang dijalankan oleh penerus beliau ternyata agak berbeda jauh dan hasilnya seperti yang Mas Romeo sudah katakan. . .

    Memang Perang itu gak hanya text Book doang. semua Pasukan dilatih sama kok, dimedan tinggal adu taktik aja. dan pada saat Menpor operasi, kita menggunakan taktik yang berbeda2, dan yang paling seru dan berkesan waktu lawan SAS inggris + gurkanya dikalimantan. Anda bisa bayangkan Satuan elit dari negara besar yang punya pengalaman perang diberbagai medan perang didunia ketemu sama RANGERS Indonesia yang menguasai Tehnik perang rimba ketemu dimedan yang sangat ganas. dan yang saya inginkan kalian juga hebat dan ingat kalian memakai nama PELOPOR itu akan mengingatkan Nama Menpor( sebenarnya telah menjadi sejarah) yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan karena pernah ada teman lama dari satuan lain yang nanya apakah sekarang dibentuk pasukan pelopor lagi? tapi kok gak menggunakan seragam loreng menpor dst dst……..!

    Saya agak terganggu ketika membuka situs AU dan Brimob bener2 dikecilkan termasuk menpor yang katanya satu kompi mati disana. waduhhh….. kita masuk timtim udah gak pake nama menpor tapi sukarelawan yang memakai pakaian biasa bukan uniform ( Menpor SUdah bubar 1972) dan kita yang korban hanya 2 orang gugur. tapi saya mau katakan mereka pergi satu batalyon, pulang tinggal satu regu doang dan ini juga terjadi dibeberapa batalyon mereka. Buktinya apa? taman makam terbesar ditimtim isinya Siapa? dan operasi paling ngawur yang pernah terjadi dlm sejarah indonesia. gak ada koordinasi dan saling tembak antar teman. dan saya akui ada juga brimob yang habis satu kompi tapi bukan menpor.

    Mas Romeo, Mas Dody, Mas Tarsius, Mana yang lebih efektif untuk menghadapi Gerilya, dengan pasukan yang jumlahnya lebih besar untuk menghancurkan atau pasukan yang lebih kecil karena gerilya khan menggunakn taktik hit and run. ini PR buat kalian yaa he he…. karena saat ini tentara menggunakan pasukan yang besar spti di aceh dan tim tim tp gak sukses tuch.

    WAktu aceh lagi hangat2nya tahun 2000 sampe 2002, saya dan temen2 terpanggil untuk membantu Brimob disana karena waktu itu banyak sekali brimob yang gugur disana, tohk udah tua paling2 mati ini. karena taktik ynag dijalankan oleh mereka bukan gerilya murni kok.

    Buat Mas setiawan, nanti saya akan kontak temen2 karena kita punya ceritera yang berbeda.

      Manan Bin Abdullahtif Rumbaty berkata:
      Februari 20, 2012 pukul 6:05 pm

      Selamat malam Senior…..saya sangat senang mambaca tulisan bapak di atas, karna saya menyadari bahwa tugas PELOPOR itu sangatlah berat, sebenarnya taktik yg telah di ajarkan PELOPOR kepada kita itu lebih baik 1000% di banding yg di latih oleh Polisi luar, saya sering melakukan taktik har (hit and run) dan mendapat beberapa pengalamn darinya….seorang prajurit jika dia mengenal taktik tempur (dengan baik) tapi tidak punya nyali yg bagus dia akan berisiko dalam pertempuran begitupun sebaliknya, dan pelopor melatih kita untuk memiliki keduanya….saya bangga di tempah di kedunghalang dan mengenal banyak taktik tempur, (yg sempurna cuma taktik tempur yg di miliki pelopor)salah satu taktik tempur yg di miliki pelopor adalah pergerakan yg tak berpola, ini sangat sulit dan sagat susah di baca lawan, taktik ini hanya di miliki satuan kecil yg bermoril tinggi yaitu PELOPOR….kalau dulu yg di gunakan PELOPOR hanya menggunakan penembak jitu untuk pelengkap team, sekarg di lengkapi dengan SNIPER. tapi sayang di kesatuan kita belum di bentuk pleton SNIPER, padahal satuan kecil yg sangat di seganilawan adalah SNIPER….Salm hormat

    Anton A Setyawan berkata:
    September 24, 2008 pukul 6:37 am

    Kepada Yth Bapak Karsan

    berikut ini adalah daftar, mantan anggota Rangers/Menpor yang sudah saya identifikasi bersedia menjadi narasumber (mungkin bapak kenal)

    1. AKP (Purn) Kartimin, ex Brimob Rangers Kompi A Kelapa 2, aktif di Menpor dari 1959-1970.
    2. Kompol (Purn) M Chafidz ex Brimob Rangers Kompi A Kelapa 2, aktif di Menpor dari 1959 – 1972.
    3. AKBP (Purn) Suyatno, ex Menpor Kompi D Kelapa 2,akif di Menpor dari 1962-1980.
    4. AKP (Purn) Soeprapto ex Menpor tahun 1962-1980.
    5. Aiptu (Purn) Suad, ex Menpor tahun 1962-1980.

    Narasumber 1 dan 2 terlibat dalam operasi penumpasan DI/TII Jabar dan Aceh, PRRI Sumatera, Komando Mandala pembebasan Irian dan pengejaran Kahar Muzakar di Sulawesi. Beliau berdua tidak masuk kompi yang berangkat ke Kalimantan untuk konfrontasi karena waktu itu Menpor harus dibagi beberapa kelompok untuk kepentingan operasi yang berbeda dan beliau berdua kebagian jatah ke Sulawesi (mohon konfirmasi tentang hal ini). Beliau berdua juga sempat mendapat tugas ke Tim-tim namun dalam kapasitas sebagai Kapolsek di wilayah Tim-tim bagian Timur.

    Narasumber 3-5 berdasarkan interview awal terlibat dalam operasi Seroja tahun 1975. Hal ini dibuktikan dengan SK penugasan dan bintang penghargaan, tetapi saya belum sampai ke isi wawancara apakah mereka termasuk Densus Alap-alap atau Brimob Polda DKI atau bahkan Recon dari beberapa Polda di Jawa Tengah,maklum sudah sepuh alias tua jadi saya harus berhati-hati melakukan wawancaranya. Mungkin bapak Karsan kenal dengan beliau bertiga ini.

    Salam

      Dwi Narso berkata:
      Februari 8, 2014 pukul 9:22 pm

      Salam Sejahtera Buat Semua,Salam Hangat & Salam Perkenalan dari saya Dwi Narso keluarga Besar Putra Putri Ex MOBRIG / BRIMOB Kompi 5112 & 5135 Batalyon 309 Resimen III (Dulu dipimpin oleh Komandan Pasukan Almarhum Bapak Bismo), yang berkedudukkan di Tegal & dulu hanya Kompi 5112 yang di BKO-kan di Petamburan DKI Jakarta hingga sekarang riwayat Kompi 5112.
      Saya sangat bangga sebagai putra putri ex Resimen III yang hilang/yang dihapus riwayatnya dulu sangat besar dengan sebutan pasukan “Super Hero” oleh masyarakat diperbatasan Jawa Barat,Jawa Tengah & sekitarnya pada masanya.
      Jayalah & Sejahteralah Keluarga Besar MOBRIG/BRIMOB Resimen Pelopor yang hilang, serta kembalilah, bangkitlah Resimen Pelopor yang hilang, teruskan panji-panji & semangat dari pendahulu MOBRIG/BRIMOB Resimen Pelopor yang hilang, ukir sejarah tegakkan Pancasila & UUD 1945, keutuhan NKRI harga mati.
      Salam Hormat,
      Dwi Narso

        dodytape responded:
        Februari 8, 2014 pukul 9:45 pm

        Trimakasih sudah berbagi informasi di blog ini. Semoga dapat menjadi pelengkap puzzle sejarah hingga dapat menjadi pelajaran bersama. JASMERAH!

    romeo berkata:
    September 24, 2008 pukul 11:48 pm

    Pak Karsan Lagi

    Perang Gerilya?????
    Waduuuh PR nya Pak Karsan ini sebenarnya masalah penyelesainnya terletak kebijakan para pengambil keputusan di negara ini. Perang gerilya ada juga yang menyebutnya perang asimetris, low intensity conflict, unconventional warfare, third world warfare atau yang dalam doktrin pertahanan RI yang dikonsepkan dalam buku putih yang diterbitkan oleh Dephan adalah perang semesta. Biasanya perang ini menghadapkan antara si kuat dan silemah, Pemerintah vs Pemberontak, TNI vs GAM dll. Salah satu pihak yang karena memiliki segala keterbatasan memilih cara yang tidak lazim dalam menghadapi pihak yang kuat ( sabotase, raid, penculikan, pembunuhan, teror, bom bunuh diri dll ). Perang seperti ini masih terjadi seperti philipina, thailand, Irak, Afganistan, Sudan.
    Selama ini di Tim-Tim dan Aceh militer kita memang menggelar kekuatan dalam jumlah besar dengan maksud untuk memperbanyak teritori yang menjadi pengaruh pemerintah. Terakhir TNI beroperasi di Aceh tergelar kurang lebih 20.000 pasukan ditambah Polri 6000 personil. Benar bahwa semakin banyak pasukan RI yang tersebar dapat menguasai wilayah2 kedudukan musuh sehingga semakin terbatas atau menyusut kekuatan lawan, namun ini hanya keberhasilan maya saja. Karena pada kenyataannya walau sudah berhasil menguasai teritory Aceh pemberontakan tidak pernah padam. Ini dikarenakan perang di Aceh sebenarnya adalah perang ideologi, yang mana perang yang harus dimenangkan adalah hati masyarakat Aceh, atau kalau boleh meminjam teknik yang dipakai oleh pasukan SAS dalam menghadapi insurjen Indonesia termasuk Menpor di Malaysia adalah “to win hearts n minds” yang mana pasukan SAS berhasil menarik dukungan dari masyarakat lokal di kalimantan untuk melaporkan keberadaan insurjen2 dari Indonesia. Jadi menurut saya konsepnya adalah rangkul dan pukul. Kita harus merebut hati dan pikiran masyarakat Aceh seperti dengan adanya pembangunan ekonomi yang adil namun pada kesempatan lain harus mampu untuk meniadakan kemauan bertempur/pemberontak yaitu militer kita harus mempunyai keunggulan mutlak yaitu dengan cepat menetlalisir kemampuan bersenjata pemberontak dalam hal ini termasuk dgn para tokoh2nya…….
    Namun semua tergantung Political Will para pemimpin negara ini,mau perang atau damai, buktinya kalau kita menginginkan perdamaian, itu dapat terwujud seperti sekarang ini di Aceh…………..

    situs AU dan Brimob
    Well memang saya pernah membaca koment, namun satu hal yang perlu kita ketahui bahwa satuan yang mereka sebut yang gak jelas kelaminnya ini ( Brimob) telah sangat besar jasanya bagi bangsa dan negara RI. Kalau boleh Pataka Brimob dikasih pita penghargaan seperti tradisi kesatuan militer di AS dimana kotama/kesatuan yang habis melaksanakan operasi/penugasan diberikan penghargaan berupa pita pada ujung patakanya maka saya yakin Brimob bila dihitung dari tanggal 17-08-45 sampai sekarang akan lebih banyak mengumpulkan pita dibanding kesatuan2 militer lainnya di negara ini. Brimob itu adalah kotama/ kesatuan di bawah Angkatan yah kalau dimiliter kira2 seperti Kostrad, Kodam, Kopassus, Marinir, Paskas. Coba kalau pataka masing-masing kesatuan dijejerkan terhitung sejak Indonesia merdeka akan kelihatan bahwa darma bakti Brimob tidak bisa dipandang sebelah mata. Belum lagi kalau ditambahkan penghargaan dari Presiden Soekarno ” Nugraha Cakanti Yana Utama ” atas kesetiaan dan pengabdian dalam perang kemerdekaan dan melawan musuh2 negara. Saya yakin yang yang nulis brimob itu tidak jelas kelaminnya kesatuannya mungkin harus menghormat kepada pataka Brimob (kalau dia militer sejati yang mengutamakan ksatriaan dan penghormatan kepada kepada pejuang bangsa yang telah gugur).
    Harus diingat pula dari sekian banyak palagan (medan pertempuran) yang terjadi di negara ini maka palagan Surabaya adalah yang diakui negara sebagai palagan yang terhebat sehingga negara sampai harus menghargainya dengan hari Pahlawan. Ini terjadi karena pengorbanan yang besar dari masyarakat kota Surabaya beserta motor penggerak pertempuran Surabaya yaitu Brimob ( Polisi Istimewa ). Jadi bukan Bandung Lautan Api, pertempuran 5 hari di kota semarang, atau pertempuran Ambarawa yg kita kenal sebagai hari juang kartika atau bahkan pertempuran yogya yang mendapat penghargaan yang terbesar dari pemerintah.
    Antara tahun 1945-1965 begitu banyak operasi militer yang dilaksanakan oleh Brimob, baik itu bertempur dengan musuh bangsa lain maupun dengan musuh bangsanya sendiri. Yang sebenarnya konflik-konflik/pemberontakan yang terjadi adalah konflik intern TNI AD. Brimob mendapat kepercayaan dari negara selain karena kesetiaanya tetapi juga karena pada kurun waktu itu brimob boleh dikata mendekati profesional sebagai organisasi yang berkemampuan militer. Ini tidak mengherankan karena sejak tahun 1948 sudah mendapat bantuan military aid dari AS baik pelatihan personil maupun bantuan peralatan(beberapa senior brimob pernah mengeyam pendidikan militer di fort benning, quantico, okinawa dan Philipina), awal 50an mendapat panser M8 Greyhound, awal 60 an oleh-oleh dari okinawa membawa pulang sekitar 100 pucuk AR 15 (trade marknya menpor).
    So kayaknya banyak lagi peristiwa atau palagan yang telah ditempuh Brimob yang kalau ditulis tidak akan cukup kalau harus diungkapkan satu persatu.
    Jadi kalo ada yang nganggap brimob itu banci biarlah mereka tenggelam dengan anggapan mereka mungkin saja satuan mereka masih harus mencari bentuk dan pengakuan dari bangsa dan negara, sesuatu yang tidak harus dicari / dibuktikan lagi oleh Brimob.
    Saya rasa para pemimpin negara telah sangat bijaksana menempatan brimob pada kedudukannya sekarang ini walaupun exsistensiny diperdebatkan oleh sekelompok golongan baik itu di dalam Polri sendiri dan kalangan militer, bahkan seorang LB Moerdani pun tidak dapat membubarkan Brimob walaupun beliau sudah mengonsepkan untuk melikuidasi secara total.
    Mungkin peran dan fungsiny selalu mengalami perubahan berdasarkan waktu namun si Baret Biru akan selalu setia berada di samping Ibu Pertiwi.

    Peristiwa di Tim-Tim
    Untuk pak Karsan kalau boleh saya tahu sebenarnya apa yang terjadi kepada kompi “regrouping” menpor sehingga menjadi kontroversial sampai sekarang ini, karena info yg saya dapat dari senior2 dari Brimob membenarkan bahwa memang kompi regrouping ini setelah mengalami pertempuran hebat melaksanakan “konsolidasi” di Kupang kemudian pulang ke Jakarta. Akibatnya sebagai hukumannya dari tanjung priuk harus long march ke kelapa dua. Ini dapat saja terjadi karena dari pak karsan Menpor sudah bubar tahun 1972 sedangkan operasi seroja tahun 1975. Kompi regrouping ini terdiri dari anggota yang masih aktif di Brimob maupun yang sudah dinas di polisi umum bahkan dankiny sudah menjabat Kapolsek di komdak metro jaya. Kompi yang diaktifkan tiba2 ini mungkin tanpa persiapan yang cukup diberangkatkan ke medan operasi, mungkin saja selama 3 tahun menjadi polisi umum naluri dan kemauan bertempurnya sudah hilang. Mohon Klarifikasinya…bagi saya bukan untuk justifikasi namun kita setidak2nya dapat mengambil sesuatu untuk penugasan yang dipercayakan kepada brimob kedepan.

    Salaaaaaam Hormat buat Pak Karsan…………

    srigunting berkata:
    September 25, 2008 pukul 2:25 pm

    TO ALL RANGERS ( The New and olds)
    Hiduplah kita pada jamannya ,, perjalanan panjang Polisi Istimewa , kemudian menjadi Mobrig dan Brimob dengan salah satu ikonnya adalah MENPOR,, adalah bagaimana kita bersama memandang dan mengenangnya,, besar harapan saya yang pernah mengabdi bersama RESIMEN 1 adalah tradisi ulet , ketabahan dan semangat , untuk selalu memberikan yang terbaik dalam tugas , kehormatan dan pengabdian ,,,,,,,, jauh melebihi panggilan tugas ,, fakta dan pengalaman yang mengiringi ketika harus berlaga dimedan juang , hanya keberanian , nekat , sedikit konyol, kreativitas , ulet ketabahan dan semangattttttttttttttttttt, yang membuat misi-misi RESIMEN 1 ataww SAT II PELOPOR , gilang gemilang,, karena politisasi kepentingan antara tarik ulur jargon militerisme dan sipil Police atau ( CIVIL POLICE ) , harus menghilangkan kemampuan khas Brimob MENPOR , so what ,,,,, kemampuan tetap harus diasah , keberanian harus terus dibangkitkan, dan semangat tetap tabah ,, sudah tradisi di RESIMEN 1 mungkin sampai jadi SAT II Pelopor,, jangan pernah mengharapkan ada pelatih yang khusus memberikan training, jangan mimpi dapat dukungan anggaran, jangan membayangkan ikut pendidikan atau kursus sampai luar negeri ,,,,,,,,,,,,,
    Resimen 1 cukuplah belajar sendiri, cari materi sendiri, latihan sendiri anev sendiri, trus biayai sendiri nggak usah mimpi sekolah atau kejuruan ,, nggak bakalan ,,,,,, sudah tradisi biar babak belur dalam latihan dan penugasan lebih dulu untuk kemudian tampil tangkas tanggap tanggon dan trengginas.

    Topan berkata:
    Oktober 3, 2008 pukul 12:29 am

    Salam Brigade..
    Bagi Saya Brimob Masih Yg Terbaik..!!!!!!!!!!!!!
    Hidup Brimob

    Trimakasih buat mas Topan atas supportnya

    Anton A Setyawan berkata:
    Oktober 9, 2008 pukul 10:46 pm

    PERISTIWA PENARIK, MUKO-MUKO, PERTENGAHAN TAHUN 1960

    Hasil wawancara dengan mantan anggota Kompi A Brimob Rangers. Mei 2008

    Peristiwa pertempuran antara dua peleton pasukan dari Kompi A Brimob Rangers pimpinan Aiptu Ketut Wahadi dengan satu batalyon pemberontak PRRI/Permesta. Seperti kita ketahui, tahun 1958 muncul pemberontakan PRRI/Permesta dengan pusat di Pekanbaru dan Padang yang dimotori oleh beberapa perwira menengah Angkatan Darat di Sumatera. Inti dari pemberontakan ini adalah ketidakpuasan dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta.
    Pemberontakan dalam skala besar sudah berhasil ditumpas dengan operasi Tegas dan Operasi 17 Agustus. Pada akhir tahun 1958, semua kota besar di Sumatera, baik Pekanbaru dan Padang sudah kembali ke pangkuan RI, selain itu banyak dari pasukan pemberontak yang menyerah. Namun demikian, sampai dengan tahun 1961 banyak sisa pasukan pemberontak PRRI. Salah satunya batalyon yang dipimpin Letkol Nawawi yang bergerilya di hutan pedalaman Sumatera. Batalyon ini dipersenjatai dengan senjata-senjata bantuan dari Amerika Serikat pada awal 1958. Para prajurit Infanteri Sumatera ini semuanya memegang senjata M1 Garrand, M1 Karabin (Jungle Lipat), senjata otomotatis Thompson, senjata berat mortir 60 mm dan 80 mm.
    2 peleton Kompi A Brimob Rangers didaratkan di kawasan pantai Ipoh pada bulan Mei 1960 dengan kapal pendarat milik Polairud dengan kode lambung 801. Seperti standar pendaratan operasi ampibi, pendaratan diawali dengan tembakan senapan mesin 12,7 dari kapal pendarat untuk memastikan tidak ada pemberontak yang menguasai pantai. Setelah penembakan dilakukan, baru satu kompi pasukan Brimob Rangers mendarat dengan aman. Kompi A Brimob Rangers ini dikirim ke Sumatera untuk memback up Brimob Bengkulu yang beberapa minggu sebelumnya di bantai oleh batalyon Nawawi. Satu batalyon Brimob Bengkulu ini mengalami jumlah korban yang sangat besar karena serangan mendadak (raid) dari pemberontak PRRI. Markas Brimob Bengkulu ini sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan di dalam markas hanya tinggal tersisa beberapa anggota yang selamat dari serangan dadakan tersebut.
    Pasca pendaratan 2 kompi Brimob Rangers melakukan konsolidasi di pantai dan langsung mengejar gerombolan pemberontak yang berlokasi di kecamatan Ipoh. Mereka kemudian bergabung dengan satu batalyon TNI AD dari Pekanbaru dibawah komando Letkol Dani Effendi. Oleh Danyon Letkol Dani Effendi, Brimob Rangers difungsikan sebagai peleton pengintai dengan jarak 5 kilometer di depan Batalyon Infanteri.
    Masuk perbatasan Sumatera Selatan, peleton 1 bertemu dengan kompi terakhir Batalyon Ahmad Lubis, dan terjadi kontak senjata pertama. Anehnya, posisi peleton 1 justru mengejar satu kompi pemberontak. Pada saat hari menjelang malam, ada teriakan dari pasukan pemberontak “Istirahat makan….!!!”. Sangat aneh, pada saat kontak senjata seru, musuh menyerukan untuk istirahat dulu. Permintaan ini dituruti oleh Danton 1 Brimob Rangers karena kedua pasukan dihalangi sungai sehingga kesulitan untuk menyeberang, selain itu pasukan butuh istirahat setelah hampir beberapa hari bergerak sambil terus melakukan kontak senjata.
    Pada akhirnya, peleton 1 sampai di daerah Penarik, Muko-Muko (saat ini menjadi daerah transmigran). Pada jam 17.00, Agen Polisi Ristoyo mendengar kokok ayam jantan ditengah hutan. Hal ini aneh karena biasanya yang terdengar adalah ayam hutan. Setelah melapor pada danton, dua prajurit Rangers dari peleton 1 merayap menuju arah suara tersebut, ternyata Kompi staf batalyon dan beberapa kompi lain dari pemberontak sedang beristirahat. Musuh yang beristirahat diperkirakan berjumlah 300 orang, mereka sedang menunggu giliran menyeberang sungai.
    Peleton 1 segera mengambil posisi menyerang. Pada saat itu (tahun 1960) Brimob Rangers menggunakan senjata M1 karabin (jungle riffle), sub-machine gun Carl Gustav dan bren MK3. Persenjataan dan posisi pasukan dipersiapkan oleh Danton sebaik mungkin. Kemudian, danton memberikan komando,tembak….!!!maka desing peluru dari senapan anggota peleton 1 berhamburan. Pada tembakan magasin pertama, mereka masih membidik dengan baik sesuai dengan teori. Namun pada magasin kedua dan selanjutnya penembakan reaksi lebih banyak dilakukan, karena pertempuran terjadi pada jarak dekat, selain itu hari sudah malam sehingga posisi musuh hanya bisa diketahui dari bunyi tembakan balasan mereka.
    Pada awal posisi pertempuran, jarak antara pasukan musuh dengan peleton 1 Brimob Rangers sekitar 300 meter, namun yang terjadi kemudian adalah pertempuran jarak dekat. Jarak antara pasukan Brimob Rangers dan musuh hanya sekitar 5-6 meter. Pertempuran yang terjadi tanpa ada garis pertahanan. Balasan dari musuh dengan berbagai senjata ringan sangat hebat, namun tampaknya mental bertempur mereka sudah jatuh karena banyak perwira yang tewas. Akhirnya setelah 1,5 jam, pertempuran usai dan musuh mundur. Peleton 1 tidak mengejar karena anggota pasukan kelelahan. Setelah mengatur giliran jaga, anggota peleton 1 tidur di lokasi yang sebelumnya menjadi medan pertempuran.
    Pagi harinya, anggota peleton 1 menghitung jumlah korban dan senjata yang ditinggalkan. Ada sekitar 60 mayat pasukan musuh dan ada sekitar 10 perwira yang tewas. Senjata yang ditinggalkan adalah puluhan M1 Garrand (pada awal 60-an senjata ini dianggap sangat canggih), mortir dan bazooka. Para anggota peleton 1 Brimob Rangers lega, karena musuh tidak sempat menggunakan senjata-senjata tersebut. Jika senjata itu digunakan ceritanya bisa lain. Agen Polisi Kartimin, terkaget-kaget karena tempat yang ditidurinya semalam dekat dengan mayat pemberontak. Dalam pertempuran ini tidak ada satu pun prajurit Brimob Rangers yang menjadi korban.

    romeo berkata:
    Oktober 11, 2008 pukul 10:44 am

    Bravo, untuk mas anton….
    Ada baiknya tulisan mas anton di muat di majalah Teratai di korps Brimob secara berkesinambungan,,, sehingga penggalan2 perjuangan senior2 Brimob dapat diketahui oleh rekan2 lainnya diseluruh Indonesia.

    alex berkata:
    Oktober 13, 2008 pukul 12:32 pm

    Mohon maaf sebelumnya saya ikut bergabung,saya juga seorang anak purn POLRI,ayah saya pernah bergabung di Brimob sebelumnya dan pensiun terakhir di Ditlantas PMJ,secara pribadi saya kagum akan profil pasukan elit POLRI ini,banyak sekali referensi dan gambar yang saya koleksi(maklum cita-cita ingin jadi Polisi tapi gagal…hik’s) tapi ironis sekali performa nama besar Brimob sejak bergulirnya era reformasi banyak sekali disalah gunakan,terutama bagi segelintir orang yang “ingin sekali dibilang gagah”banyak sekali atribut Brimob yang di serupai walaupun “serupa tapi tak sama”dimulai dari warna baret dgn emblem yang hampir mirip,seragam hitam yang jelas-jelas peruntukkannya bagi pasukan khusus,hal tersebut banyak sekali kita jumpai pada satpam-satpam di banyak tempat,apakah ini yang dinamakan demokrasi yang kebablasan?dan bukankah aturan pemakaian seragam tersebut telah di atur tersendiri dalam Kep Kapolri no 24 tahun 2007 tentang sistem manajemen pengamanan organisasi,perusahaan dan atau instansi/lembaga pemerintah,tapi sepertinya Kep Kapolri tsb tidak berlaku,bahkan satpam-satpam sekarang bertingkah over acting melebihi aparat TNI-POLRI,dan adakah upaya yang tegas dari pihak POLRI itu sendiri untuk menertibkan hal tsb…mohon maaf sebelumnya jika saya agak sedikit keluar dari materi pembahasan,mohon tanggapan nya dari para senior Brimob atas fenomena ini

    Terima Kasih
    salam
    BRAVO POLRI – VIVA BRIMOB

      thommie berkata:
      Mei 29, 2012 pukul 9:39 am

      Saya juga sangat sependapat dengan anda…mungkin saat ini petinggi-petinggi Brimob khususnya dan Polri umumnya masih membahas tentang permasalahan ini serta mencari solusi yang terbaik guna kepentingan yang lebih baik lagi. Kita memang perlu untuk mereformasi polri…walaupun sudah dimulai dan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang, tentunya dengan saling komunikasi dan kerja yang nyata…Bravo Brimob.

        dodytape responded:
        Mei 30, 2012 pukul 4:58 am

        Betul mas tomie..mereform polri emang butuh lama..tapi sekarang udah nampak kok perubahannya…brimob aja udah ga galak2(kecuali cintanya ditolak..hwhwh)

    Dave berkata:
    Oktober 14, 2008 pukul 11:52 am

    Salam Kenal Buat Bapak2 Brimob dan Mas Anton,

    Diskusi yang sangat menarik, antara senior dan yunior yang hebat dijamannya. dan saya sangat setuju dibuat kisah2 hebat ini dalam suatu buku oleh Mas Anton dan mungkin bisa dijual kepada khalayak lewat toko2 buku seperti Gramedia, dll agar generasi yang ada saat ini bisa mengetahui bahwa Pasukan Brimob dengan rangernya telah menorehkan tinta emas kepada bangsa ini lewat perjuangan bersenjata yang tiada putus2nya. Salah satu kelemahan diPolri ( Brimob) adalah jarang ada yang mau menulis untuk mengungkap sejarah perjuangan Polri dengan Brimobnya.

    Saya sendiri adalah anak dari seorang anggota Menpor yang lahir diasrama Menpor kelapa dua cimanggis. Bapak saya kalau gak salah dari kompi E yang pernah juga ikut berbagai operasi termasuk dwikora melawan Inggris( telah diceriterakan oleh Bapak Karsan) dan pernah menjadi pelatih BALA dipelabuhan Ratu.

    Pada tahun 1970 sekitar 1 Pleton Menpor dan 2 kompi Brimob, Bapak saya dipindah Ke Irian Barat untuk memperkuat kedudukan tempur Resimen XII Brimob yang baru terbentuk pasca PEPERA tahun 1969 sampai pensiun.

    Stelah SMA, Saya baru mengetahui kalau Bapak saya berasal Ksatuan Elit yang sangat disegani dinegara ini. ini terlihat dari cara2 dia bertindak dengan tegas, keras, dan arogan, baik itu didalam melaksakan tugas, Olahraga, maupun sosialisasi Beliau terkenal dengan ucapan2nya: ” Didalam Pertempuran, Pekelahian maupun olahraga, tidak ada satuan lain bisa menang melawan mereka. dan ini dibuktikan selain dalam tugas, didalam olahraga seperti menembak antar angkatan dia menunjukan prestasi keahlian menggunakan senjata( Demonstrasi) dan piala itu benar2 kekal ditangan Polri. setelah saya konfirmasi dengan teman2 beliau memang benar bahwa itu kebanggaan mereka sebagai satuan elit dengan segala ucapan2nya yang arogan.

    Jadi saya gak heran lagi melihat seorang Pak Karsan selalu Bangga dan mau memotivasi yang lebih Yunior untuk lebih berprestasi lagi.

    Salam,
    Dave
    indonesia.mineral@yahoo.com

    Anton A Setyawan berkata:
    Oktober 16, 2008 pukul 6:37 pm

    To Mas Romeo, terima kasih responsnya, saya sudah berusaha mencari alamat redaksi Majalah Teratai tetapi belum saya peroleh, mohon info jika ada.
    Berikut ini hasil riset dan wawancara saya berikut, tentang Operasi Mandala Trikora dari beberapa anggota Brimob baik Menpor maupun Brimob dari beberapa Kompi di Polda DKI dan jabar.

    BRIMOB RANGERS WAR 2-
    MENYUSUP KE BELAKANG GARIS PERTAHANAN MUSUH DALAM OPERASI MANDALA/TRIKORA
    DARI PEMBURU MENJADI YANG DIBURU
    Anton A. Setyawan,SE,MSi
    Dosen Fak. Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen UGM
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57102
    Hp 08156718444
    e-mail: anton_agus@ums.ac.id dan rmb_anton@yahoo.com

    Wawancara dengan mantan anggota RTP 1 Operasi Mandala merebut Papua-Juni 2008.

    Operasi Mandala yang dipimpin oleh Mayjend Soeharto adalah sebuah operasi militer sebagai jalan terakhir menyelesaikan masalah Irian yang ditunda oleh Belanda dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Dalam operasi gabungan ini, semua unsur dari Angkatan Bersenjata dikerahkan. Angkatan Darat yang dimotori oleh RPKAD, Banteng Raiders dan beberapa unsur Divisi Siliwangi beserta Pasukan Gerak Tjepat (sekarang Pasukan Khas) TNI AU disusupkan dengan penerjunan ke beberapa wilayah di Irian Jaya. Pasukan Marinir disiapkan di Ambon untuk melakukan pendaratan ampibi, jika pertempuran frontal terjadi.
    Pasukan Brimob dari beberapa Polda dan Resimen Pelopor menjadi bagian dari RTP 1 (Resimen Tempur) 1 yang akan disusupkan ke daerah Fak-Fak, Papua. Anggota Resimen Pelopor yang menjadi inti dari RTP 1 terdiri dari 60 orang, yang sebagian besar berasal darii Kompi A. Mereka sudah menggunakan senjata AR 15 yang dibagikan pada tahun 1961, pada saat operasi Gerakan Operasi Militer (GOM) IV di Aceh tahun 1961. Pasukan berangkat dari Tanjung Priok Jakarta pada bulan Februari 1962. Mereka berangkat menuju Ambon yang menjadi salah satu pusat komando operasi Mandala.
    Setelah sampai di Ambon, pasukan dibagi lagi menjadi detasemen-detasemen kecil. Pasukan Brimob dari beberapa Polda dipecah untuk disusupkan ke beberapa wilayah dan sebagian menjadi petugas radio dan transportasi. Petugas transportasi yang dimaksud adalah menjadi pengendali perahu motot kecil yang digunakan untuk menyusup ke wilayah lawan. Pasukan dari Resimen Pelopor tidak dipecah karena mereka memiliki misi khusus yaitu melakukan serangan demolisi (penghancuran) instalansi milik Belanda.
    Sesampai di Ambon, 60 orang anggota Menpor dipindahkan ke kapal nelayan untuk berangkat ke Pulau Gorom di kawasan Kepulauan Kei. Maluku. Pulau Gorom adalah pulau tidak berpenghuni yang hanya berisi pohon pala. Mereka menunggu di pulai itu menunggu perintah infiltrasi.
    Pada bulan April 1962, perintah untuk mendarat di Fak-Fak datang, dan segera dipersiapkan perahu kecil untuk melakukan pendaratan. Misi pendaratan ini bukan pendaratan ampibi, melainkan infiltrasi sehingga perahu pun disamarkan dengan perahu nelayan. Jarak antara Pulau Gorom dengan daratan Fak-Fak hanya 4 jam pelayaran, sehingga tidak dibutuhkan waktu lama untuk sampai di daratan Fak-Fak.
    60 pasukan Menpor mendarat di Fak-Fak pada pukul 03.00 pagi. Pasukan ini mendapatkan “sambutan hangat” dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda, berupa tembakan meriam dari arah lautan. Rupanya penyusupan tersebut diketahui oleh AL Belanda. Tembakan kanon dari kapal AL Belanda mengenai garis pantai sehingga pasukan kocar-kacir. Mereka juga tidak mampu membalas karena hanya membawa senjata ringan AR 15 dan granat tangan. Pertempuran yang tidak seimbang itu hanya berlangsung beberapa menit, namun segera diketahui akibatnya. 20 anggota Menpor salah arah dan langsung menuju markas musuh, mereka akhirnya ditawan. 40 sisanya terpencar tidak karuan.
    Pasukan Menpor yang terpecah itu kemudian kehilangan kontak karena semua peralatan komunikasi rusak akibat pemboman. Masing-masing kelompok terpecah menjadi 4 sampai 8 orang dan berasal dari regu yang berbeda-beda. Mereka kehilangan kontak dengan pasukan induk, tidak mempunyai dukungan logistic dan berada di daerah lawan. Hampir semua anggota Menpor yang berada dalam situasi itu, ketika diwawancarai yakin bahwa mereka pasti mati. Perintah dari komandan operasi pasukan Menpor tidak boleh menembak kecuali dalam kondisi tidak bisa menghindari musuh.
    Pasukan yang tercerai berai itu masih “dihadiahi” Belanda dengan pemboman dari laut dan tembakan senapan mesin dari pesawat tempur/ Ajun Brigadir Wagiyo mengingat saat itu, sebagai jam tanda bangun pagi yaitu suara meriam dan mereka harus segera mencari perlindungan. Pesawat tempur yang terbang rendah (waktu itu Belanda masih menggunakan pesawat baling-baling) adalah gangguan lain yang memaksa pasukan Menpor bersembunyi dengan baik.
    Ajun Brigadir Kartimin mengingat, pada saat itu sering keliru mengira pesawat Belanda sebagai pesawat dari TNI AU yang menerjunkan logistic. Ia menunggu makanan yang datang adalah peluru senapan mesin dan kadang-kadang roket udara ke darat. Logistik dari TNI AU sebenarnya sering datang, namun lokasi penerjunan logistic lebih dekat ke wilayah musuh daripada di hutan.
    Pasukan Menpor yang ditawan Belanda mempunyai “kesibukan” sendiri, setiap pagi mereka harus melakukan senam militer dan kadang-kadang senam tersebut dilakukan semakin mendekati garis pantai. Mereka harus bersenam sambil melakuka gaya injak-injak air.
    Beberapa anggota Menpor yang terpencar sempat kepergok oleh patroli AD Belanda dan terjadi kontak senjata. Pasukan Menpor tersebut bisa menewaskan 11 anggota pasukan Infanteri Belanda dan seorang perwira infanteri berpangkat Letnan Dua. Setelah melakukan kontak mereka segera bersembunyi untuk menghindari kejaran pasukan yang lebih besar.
    Pasukan Menpor akhirnya bisa melakukan konsolidasi setelah gencatan senjata disepakati pada Bulan Mei 1962. Pasukan akhirnya dikonsolidasikan dan ditarik ke kapal perang milik TNI AL. Sebagian besar anggota Menpor yang belum sempat kontak senjata dengan Belanda merasa kecewa karena amunisi yang mereka bawa belum sempat dipergunakan, padahal mereka sudah merasakan hantaman meriam dan roket Belanda. Mereka juga beranggapan sangat tidak enak menjadi buruan musuh, karena pada operasi militer sebelumnya mereka selalu memburu musuh.

    deztea berkata:
    Oktober 22, 2008 pukul 5:55 pm

    hallo salam kenal,

    cowok ku juga di asrame kedung halang bogor lo.
    nama nya sigit,dia angkatan 2000…
    kenal kah?………..
    makasih

    heru berkata:
    Oktober 23, 2008 pukul 4:01 pm

    Untuk bung Anton sejarah Brimob khususnya Menpor bagus tuh… dijadikan sebuah buku.

    esty berkata:
    Oktober 24, 2008 pukul 10:00 am

    buat semua anggota korps brimob di Ambon
    bagi saya brimob masih yan terbaikkkkkkk!!!!!
    cayo!!!!
    salan ya buat orang yang ngaku namanya ifan di satuan brimob ambon

    echa berkata:
    Oktober 27, 2008 pukul 12:04 pm

    duh sudah lama tidak bekunjung.. sdh penuh ya.
    saya di bekasi om, om sat II den apa ? kompi brp ?
    kenal dengan briptu wisnoe den D Kompi 2 om ?

    haryoko berkata:
    Oktober 27, 2008 pukul 12:06 pm

    Dear All,

    Sangat menarik mengikuti diskusi yang berbobot ini. Intinya adalah posisioning BRIMOB ke depan, mau jadi apa?. Apakah polisi istimewa atau bahkan sampai menggantikan posisi angkatan darat (karena perlu senjata berat segala dan harus menghadapi insurjensi)?.

    Saya hanya ingin sekedar menyumbangkan sedikit pengetahuan yang saya miliki, karena ayah saya (dulu Tentara Peladjar Brigade XII) pernah bertempur bahu-membahu dengan Mobrig dibawah pimpinan Kombes Soemarto, terjebak dalam perang segitiga yang tidak masuk akal (TP/MOBRIG – DI/TII – Koninklijke Leger) di daerah Bobotsari. Inilah penjelasan ayah saya :

    1. Mobrig didirikan oleh Sutan Syahrir, sebagai sebuah keputusan politik untuk menandingi kekuatan TNI yang condong menentang pemerintahan beliau.

    2. Semasa perang kemerdekaan, Mobrig terlibat aktif dalam perang dan diposisikan setara dengan pasukan infanteri.

    3. Persenjataan Mobrig waktu itu cukup lengkap dan juga memiliki seksi bantuan tempur (senapan mesin berat dan mortir).

    4. Kualitas pasukan Mobrig sangat bagus, sehingga pasca perang kemerdekaan sempat diperebutkan antara Kepolisian dengan Angkatan Darat (waktu itu Kol. Kawilarang belum mendirikan satuan baret merah).

    5. Setahu saya di dunia ini hanya ada 5 negara yang kepolisiannya memiliki satuan seperti Brimob, yakni Indonesia sendiri, Belanda (Koninklijke Marechauessee – kita kenal dengan istilah Marsose), Italia (Carabinieri), Filipina (Constabulary) dan Russia (Otryad Militsii Osobogo Naznacheniya – OMON, artinya Skuadron Posisi Khusus).

    6. Seluruh satuan di atas berkelas paramiliter dengan kualifikasi komando, karena disiapkan untuk menghadapi situasi khusus yang tidak mungkin dihadapi oleh polisi biasa.

    7. Marsose sudah kita kenal debutnya yang luarbiasa di Indonesia, Carabinieri terkenal dalam perang anti terornya di Italia dekade 70′an dan juga perang anti Mafia, Constabulary Filipina tersohor karena konstribusinya dalam menggulingkan Marcos (sempat berhadap2an dengan Scout Ranger Angkatan Darat) dan OMON Russia terjebak dalam perang brutal di Chechnya.

    8. Pengiriman Brimob di Aceh untuk menghadapi insurjensi adalah keputusan politik, karena bagi Indonesia “jauh lebih aman” di mata dunia internasional dengan mengirim Brimob ke Aceh guna menghadapi GAM. Payung hukumnya jelas, yakni tindakan kepolisian, sementara pengerahan militer akan banyak dipertanyakan dasar hukumnya.

    9. Melihat prediksi situasi negara kita ke depan, Brimob memang harus lebih disiapkan untuk mengantisipasi gangguan keamanan dalam negeri. Artinya, kemampuan untuk menghadapi insurgensi khususnya perang kota, harus dikembangkan. Namun untuk perang rimba dan anti gerilya, perlu dikaji mendalam dan dipertegas perbedaan perannya dengan satuan2 TNI.

    10. Menjawab pertanyaan apakah Brimob harus memiliki senjata berat, masalahnya adalah “seberat apa” senjata yang diperlukan? :

    - Kendaraan lapis baja sekelas APC (armoured personnel carrier – pengangkut pasukan) dipersenjatai dengan senapan mesin sedang hingga berat masih masuk akal. Namun jika harus mengoperasikan kendaraan lapis baja sekelas IFV (Infantry Fighting Vehicle) bermeriam 30 mm atau bahkan tank, pada hemat saya sudah diluar konsep.

    - Mortir 60 mm mungkin masih bisa diterima, namun lain halnya jika ingin menggunakan mortir 80 mm atau 120 mm, RPG bahkan meriam. Fungsi polisinya akan hilang karena senjata-senjata tersebut sesungguhnya adalah senjata penghancur kelas militer, bukan polisi.

    11. Terlepas dari seluruh isu di atas, hati kecil saya sangat terganggu dengan penamaan ‘Korps Brimob”. Korps adalah satuan militer di atas Divisi (satu korps minimal memiliki 2 Divisi). Sedangkan Brigade sendiri merupakan ukuran satuan juga. Jadi menurut hemat saya, penamaan ini salah kaprah. Mungkin ada rekan yang dapat “menenteramkan” kegalauan hati saya?.

    Salam hangat,

    Haryoko
    http://www.riconindo.com

    echa berkata:
    Oktober 28, 2008 pukul 11:06 am

    sebentar lg HUT BRIMOB ya??

    Dave berkata:
    November 7, 2008 pukul 8:10 pm

    Buat Haryoko: Ada beberapa yang harus diketahui bahwa, kelahiran Brimob pertama kali menggunakan nama Polisi Istimewa, selanjutnya baru Mobrig dan Brimob sampai sekarang. jadi gak bener kalau satuan Mobrig diperebutkan antara polisi dan angkatan darat pada waktu itu.

    Saya rasa gak perlulah posisi brimob diributkan lagi karena Polisi disemua negara mempunyai special police force bahkan dijerman sendiri seorang Jenderal Polisi yang bernama HERMAN GORING yang mendirikan pasukan Lintas udara ( LINUD) dan Angkatan udara ( luffwafe) sebelum Perang dunia pertama. Beliau pada saat itu menjabat sebagai Kepala Polisi negara bagian Prussia dan akhirnya menjadi tangan hitler disamping Jendral Erwin Rommel dalam mengatur serangan2 thd sekutu dieropa pada waktu itu.

    Masih dinegara yang sama, seorang Ulrich Wegener yang ex. militer juga membangun Pasukan lawan teror yang bernama GSG 9 dibawah panji2 kepolisian. bahkan dijerman juga punya pasukan polisi khusus seperti Brimob yang bernama SEK: SPEZIALENSATZ kOMMANDO yang merupakan brigade bergerak seperti Brimob indonesia.jadi dimana2, antara militer dan polisi saling bahu membahu demi tercpainya tugas yang dibebankan oleh negara. kalau kita hanya bertindak karena faktor like and dislike, saya yakin kita akan tetap kerdil dan primitif.

    Untuk KORPS saya kira kita jangan menterjemahkan selalu identik dengan militer saja. Lantas kalau KORPS PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA yang disingkat KORPRI gimana? jadi jangan sesempit atau sedangkal itu kita mengartikannya. Diindonesia Korps Pasukan khas AU atau Korps Marinir pun belum mencapai 2 divisi ( KORPS). silahkan anda check kemabes TNI dan tanya kenapa mereka make KORPS? dan Brimob adalah kesatuan Bersenjata lho. kalau anggaran POLRI cukup untuk membeli tank atau senjata berat lain buat Brimob, Why not? tohk itu juga buat melaksanakan tugas negara kok.

    Salam,

    Dave

    haryoko berkata:
    November 9, 2008 pukul 10:39 am

    Hai Dave, thanks untuk pencerahannya yang sangat berharga. Hanya sekedar sharing :

    1. Hermann Goering setahu saya adalah Letnan innfateri yang ditransfer ke angkatan udara untuk merintis angkatan udara Jerman menjelang meletusnya Perang Dunia I. Ia bertempur sebagai pilot di Perang Dunia Pertama, bersama Ace Jerman yang lain (Red Baron, Udet dll). Ia pendiri Gestapo (polisi rahasia) Jerman.

    2. U. Wagener diminta mendirikan pasukan khusus kepolisian berangkat dari pengalaman pahit Jerman di tragedi Munich 1972, yang operasinya berantakan ketika menangani Black September.

    3. Setiap negara memang mempunyai polisi khusus, namun jumlahnya tidak sebesar 5 negara yang saya sebutkan di atas. Hanya pasukan polisi khusus di 5 negara tersebut yang pernah digunakan untuk menghadapi insurjensi.

    4. Brimob adalah elemen kepolisian dan konsep polisi adalah SIPIL BERSENJATA yang dikoordinasikan oleh negara. Karena bukan militer, mereka tidak diperkenankan mempersenjatai diri dengan senjata penghancur kelas berat.

    5. Korps Marinir Indonesia diidealkan memiliki 14 brigade infanteri belum termasuk resimen bantuan tempur (lihat Jurnal Intelijen dan Kontra Intelijen Volume IV No. 22). Jika satu Divisi memiliki 3 brigade, dimasa depan artinya ada 4 Divisi disana.

    6. Shakespeare berkata “apa artinya nama?” Benar sekali, namun saya tidak ingin kita menjadi latah dan ditertawakan oleh dunia internasional, termasuk penamaan KORPRI tadi.

    7. Saya sangat berharap di masa depan Brimob berkembang optimal menjadi pasukan paramiliter dengan kualifikasi khusus (entah ranger, recon atau komando) sehingga mampu menjawab kompleksitas permasalahan keamanan negeri ini dengan keunggulan utama mereka; yakni payung hukum yang kuat. Dengan demikian, TNI dapat difokuskan untuk menghadapi ancaman dari luar.]

    Salam hangat,
    Haryoko

    haryoko berkata:
    November 9, 2008 pukul 10:39 am

    Hai Dave, thanks untuk pencerahannya yang sangat berharga. Hanya sekedar sharing :

    1. Hermann Goering setahu saya adalah Letnan innfateri yang ditransfer ke angkatan udara untuk merintis angkatan udara Jerman menjelang meletusnya Perang Dunia I. Ia bertempur sebagai pilot di Perang Dunia Pertama, bersama Ace Jerman yang lain (Red Baron, Udet dll). Ia pendiri Gestapo (polisi rahasia) Jerman.

    2. U. Wagener diminta mendirikan pasukan khusus kepolisian berangkat dari pengalaman pahit Jerman di tragedi Munich 1972, yang operasinya berantakan ketika menangani Black September.

    3. Setiap negara memang mempunyai polisi khusus, namun jumlahnya tidak sebesar 5 negara yang saya sebutkan di atas. Hanya pasukan polisi khusus di 5 negara tersebut yang pernah digunakan untuk menghadapi insurjensi.

    4. Brimob adalah elemen kepolisian dan konsep polisi adalah SIPIL BERSENJATA yang dikoordinasikan oleh negara. Karena bukan militer, mereka tidak diperkenankan mempersenjatai diri dengan senjata penghancur kelas berat.

    5. Korps Marinir Indonesia diidealkan memiliki 14 brigade infanteri belum termasuk resimen bantuan tempur (lihat Jurnal Intelijen dan Kontra Intelijen Volume IV No. 22). Jika satu Divisi memiliki 3 brigade, dimasa depan artinya ada 4 Divisi disana.

    6. Shakespeare berkata “apa artinya nama?” Benar sekali, namun saya tidak ingin kita menjadi latah dan ditertawakan oleh dunia internasional, termasuk penamaan KORPRI tadi.

    7. Saya sangat berharap di masa depan Brimob berkembang optimal menjadi pasukan paramiliter dengan kualifikasi khusus (entah ranger, recon atau komando) sehingga mampu menjawab kompleksitas permasalahan keamanan negeri ini dengan keunggulan utama mereka; yakni payung hukum yang kuat. Dengan demikian, TNI dapat difokuskan untuk menghadapi ancaman dari luar.

    Salam hangat,
    Haryoko

    Anton berkata:
    November 9, 2008 pukul 2:19 pm

    BRIMOB RANGERS WAR 3
    LEGENDA IPDA HARTINO

    Hasil wawancara dengan anggota Kompi A Resimen Pelopor Januari 2007

    Anton A. Setyawan,SE,MSi
    Dosen Fak. Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen UGM
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57102
    Hp 08156718444
    e-mail: anton_agus@ums.ac.id dan rmb_anton@yahoo.com

    Dalam setiap satuan militer selalu ada komandan pasukan yang disegani. Tipikal komandan yang disegani dalam sebuah pasukan, biasanya mempunyai kewibawaan, cerdas dan mempunyai ketrampilan bertempur yang handal baik dari sisi strategi maupun dalam pertempuran di lapangan. Brimob Rangers/Menpor juga mempunyai beberapa komandan lapangan yang legendaris, diantaranya adalah Jenderal (Pol) Anton Soedjarwo, Brigjen (Pol) Soetrisno Ilham. Namun komandan lapangan, yang memimpin pertempuran mempunyai ciri khas unik, yaitu memberontak pada atasan namun melindungi anak buah.

    Kompi A Brimob Rangers mempunyai seorang komandan yang legendaris, ditakuti sekaligus disegani anak buah, ia adalah Inspektur Dua Hartino. Ipda Hartino adalah salah satu diantara dua perwira yang lolos seleksi Rangers angkatan I tahun 1959. Beliau kemudian diberi jabatan sebagai Wadan Kompi A. Pada saat pertama kali menjabat wadanki Ipda Hartino masih berusia 30 tahun dan bujangan. Namun demikian dalam pasukan, beliau dianggap senior karena rata-rata anak buahnya masih berusia 20 an tahun.

    Mereka yang pernah menjadi bawahan langsung Ipda Hartino merasakan betul, tantangan menjadi Ranger. Pada saat menjalani test mission menghadang pemberontak DI/TII di Tasikmalaya Jabar tahun 1959, Ipda Hartino selalu memimpin langsung satu regu untuk menghadang lawan. Pada saat terjadi pertemuan dengan musuh, posisi beliau selalu berada di depan dan terus berlari mencari posisi sambil melepas tembakan. Anak buah yang berada di belakang selalu kewalahan mengejar sang komandan yang usianya lebih tua 10 tahun. Anggota Kompi A mengingat bahwa tembakan pertama dari pasukan Rangers selalu berasal dari senapan M-1 karabin milik Ipda Hartino.

    Hal lain yang unik dari sang komandan adalah regu yang ia pimpin selalu bertemu dengan pemberontak baik di Jawa Barat tahun 1959 maupun pada saat di Sumatera tahun 1960. Banyak anak buahnya yang mengira Ipda Hartino mempunyai jimat yang menyebabkan beliau mampu menjejak gerombolan pemberontak. Regu yang pimpinannya diambil alih oleh Ipda Hartino selalu menyiapkan amunisi tambahan sebagai persiapan kontak tembak berlangsung lama dan biasanya memang demikian. Pasukan pemberontak yang bertemu dengan Rangers selalu dikejar dan tidak dilepaskan. Kebijakan lapangan dari Ipda Hartino yang terkenal dikalangan anak buahnya adalah tidak diperkenankan membawa tawanan dalam pertempuran, artinya setiap musuh harus ditembak. Itu sebabnya sang komandan menjadi sosok yang kontroversial.

    Tipe pemberontak dari Ipda Hartino muncul pada saat penugasan infiltrasi ke Irian Barat/Papua pada Februari 1962. Sang komandan bersitegang dengan komandan detasemen yang berasal dari Brimob organik, Ipda Hartino sudah mengacungkan senapan AR 15 dan sudah melepas pengamannya membidik sang komandan detasemen, demi membela seorang prajurit Ranger yang melanggar aturan detasemen. Ketegangan mengendur pada saat Ipda Hartino melihat komandan detasemen berpangkat Ajun Komisaris itu pucat.

    Pasca penugasan dalam operasi Trikora, Ipda Hartino ditugaskan memimpin sebuah kompi Brimob organik di Kalimantan. Jabatan itu adalah sebuah promosi ke pangkat Ajun Komisaris Polisi. Pada saat sampai di wilayah penugasan,anak buahnya yang baru menyiapkan tiga truk pengangkut pasukan untuk mengangkut barang-barang bawaan sang komandan kompi. Namun, AKP Hartino sang komandan kompi hanya membawa sebuah ransel kecil berisi pakaian dinas dan pakaian hariannya. Anak buahnya hanya melongo terheran-heran melihat gaya sang komandan kompinya yang baru. Alhasil tiga truk pengangkut pasukan pulang dengan kondisi kosong melompong.

    Dave berkata:
    November 14, 2008 pukul 7:15 pm

    DIRGAHAYU BRIMOB KE 63. SEMOGA DENGAN USIA YANG SEMAKIN BERTAMBAH, BRIMOB SEMAKIN UP DATE SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN JAMAN.

    SALAM BUAT SEMUA.

    Dave berkata:
    November 14, 2008 pukul 7:22 pm

    DEAR HARYOKO.

    APA KABAR HAR? OMON DARI RUSSIA KALAU GAK SALAH PUNYA SENJATA BERAT KAYAK TANK GITU LHOH. MEREKA INI BANYAK TERLIBAT DI AFGAN ,CHECHNYA DLL. MEREKA DENGAN TANK2NYA BERHASIL MANGHANCURKAN PARA SNIPER GERILYAWAN CHECNYA YANG BERADA DIBALIK GEDUNG2 BERTINGKAT. TAKTIK UNTUK MEREDAM SNIPER INI JUGA DIPAKAI OLEH ISRAEL SAAT INI.

    SALAM

    DAVE

    HARYOKO berkata:
    November 15, 2008 pukul 11:00 am

    Hai Dave,

    Kabar saya sangat baik, semoga demikian pula untuk Anda. Just sharing :

    1. Apa yang Anda ceritakan tentang OMON benar dan kasus itu mengundang kutukan dunia internasional. Ini memang masalah OMON yang terbesar. Seperti kita ketahui, OMON merupakan warisan Uni Sovyet, pasukan paramiliter khusus yang dikendalikan oleh Departemen Dalam Negeri. Jadi selain Angkatan Bersenjata Uni Sovyet, Departemen Dalam Negeri juga punya pasukan sendiri. Ini memang cerita klasik Uni Sovyet. Politbiro sangat takut jika militer Sovyet mengambil alih kekuasaan, sehingga mereka mempersenjatai banyak organisasi non Angkatan Bersenjata untuk menyeimbangkan kekuatan di dalam negeri. Jangankan OMON, KGB juga punya pasukan kavaleri sendiri, yang dikendalikan oleh Direktorat ke Sembilan (Penjaga Perbatasan).
    2. Ketika diambil alih Republik Russia dan diintegrasikan kedalam Kepolisian, OMON hingga kini belum ada perubahan doktrin dan visi. Makanya segala macam persenjataan berat seperti BTR 80, IFV BMP dan peluncur roket masih dipakai. Masalah penghancuran gedung dengan alasan pasifikasi snipers itulah yang mengundang kutukan internasional.
    3. Kalau berbicara tentang Israel, memang begitulah perilaku mereka. Sevagai catatan, yang maju di Jalur Gaza untuk mempasifikasi snipers dengan menggunakan tank bukanlah polisi, tetapi militer.
    4. Dear Dave, konsep internasional tentang polisi adalah SIPIL BERSENJATA yang dikoordinasikan oleh Negara, untuk menegakkan hukum. Artinya, yang akan dihadapi oleh polisi adalah masyarakat sipil. Jadi memang kuat alasannya jika Brimob tidak perlu dipersenjatai dengan senjata berat. Soal menghadapi snipers (ini sudah terjadi di beberapa titik konflik di Indonesia), saya ingin mendiskusikannya lain kali. Agar diskusi kita match, saya sangat menyarankan Anda untuk membaca booklet Carlos Marighella yang terkenal : MINIMANUAL OF URBAN GUERILLA. Kalau kesulitan mencarinya, silakan hubungi saya via japri.
    5. Terakhir, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Brimob kita yang tercinta. Semoga kian matang dan kian profesional.

    Salam hangat,
    Haryoko

    Haryoko berkata:
    November 15, 2008 pukul 12:05 pm

    Dear All,

    Tahukah Anda, jika Brimob kita yang tercinta itu penampilannya sama dengan Koninkijke Marechaussee?. Bahkan warna baretnya pun sama, biru tua dengan seragam lapangan berwarna biru gelap mendekati hitam. Terlepas dari riwayat masa lalunya yang kelam di Indonesia, Koninkijke Marechaussee merupakan pasukan khusus polisi Belanda yang hebat. Saya pribadi sangat ingin melihat Brimob memiliki kemampuan dan peralatan seperti KM.

    Salam hangat,

    Haryoko

    hernawan berkata:
    November 19, 2008 pukul 1:04 am

    Salam semua….

    Saya anak polisi yang brdinas tahun 1964-1993 (terakir di malang). Almarhum bapak saya dulu pernah bercerita bahwa dikesatuan brimob mempunyai resimen yg sangat disegani yaitu Resimen Pelopor yang berseragam doreng khas…
    klo gak salah.., terkenal dengan senjata AR 15 yang katanya dapat mengapung di air itu..
    karena waktu itu saya masih belum peduli jd saya agak tidak menghiraukan cerita beliau… tetapi sekarang saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih dalam setelah membaca diskusi ini.. khususnya pada Mr. Aton saya tunggu bukunya PAK…

    dan Selamat HUT BRIMOB ke 63… semoga semangat dan arogansi seorang prajurit MENPOR tetap ada…..!!!!!

    thanx…

    romeo berkata:
    November 19, 2008 pukul 6:16 pm

    to Haryoko

    Untuk jawab kegalauan hati mas haryoko, sy coba menjelaska, memang kata ” korps ” kadang-kadang membingungkan kalau menerjemahkan korps berdasarkan tabel susunan organisasi militer dimana yang dimaksud korps adalah organisasi di bawah tentara dan setingkat diatas divisi ( gab 2 atw 3 divisi ) memang tidak cocok kata korps diletakkan di depan kata brimob (korps brimob).
    Kata korps yg ada di depan brimob lebih bermakna satuan ( satuan brimob ) seperti juga pada kormar, korpaskhas atw cpm/ corps polisi militer dimana pada aktualnya satuan2 tersebut tidak diorganisasikan dalam tingkatan divisi. Bahkan penamaan korps juga sering menunjukan kecabangan pada pada militer seperti korps infantri, penerbang, pelaut dll
    so tinggal pilih dari sudut pandang mana

    sebenarnya masih ada 2 negara yg masih mempunyai kesatuan polisi paramiliter yg besar yakni india dan china, bahkan yang terakhir diyakini mempunyai kesatuan polisi paramiliter terbesar di dunia.

    terakhir
    Brimob tidak didirikan oleh Sutan Syahrir, Brimob ada hasil dari kebutuhan dari perjuangan kala itu, dimana setelah kepolisian Indonesia melakukan konsolidasi pada 1 juli 1946, oleh Kapolri RS. Soekanto saat itu memerintahkan untuk mengkonsolidasikan seluruh pasukan polisi istimewa ke dalam ” Mobile Brigade ” perintah kapolri tertanggal 14 Nov 1946 secara de jure dijadikan hari lahir Brimob, yg sebenarnya secara de facto keberadaan Brimob / Polisi Istimewa sudah ada sebelum kemerdekaan RI, ini karena Jepang tidak pernah membubarkan kesatuan polisi yg mereka bentuk ini . Bberbeda dengan KNIL yg tamat riwayatnya ketika Jepang mendarat , begitu juga Peta dan Heiho yg dibubarkan Jepang sebelum kemerdekaan RI.

    Sutan Syahrir yang mendirikan Brimob itu kan dari hasil analisis politik dari tulisan “February 1962 – Summer 1963: In to Action ” yang mana disebutkan
    “The Mobrig had been founded in 1946 by Prime Minister Sjahrir as a political instrument to counter political pressure from the army and as a safeguard against coups involving military units……..”
    kebetulan beliau hadir sebagai Inspektur Upacara pada waktu peresmian Mobrig di Purwokerto sehingga mungkin di analisa bahwa beliau yg mendirikan Brimob.
    Jadi kayaknya itu bukan pendapat orang tua mas haryoko deh ???

    ” Dirgahayu Korps Brimob ke 63 “

    mazherou berkata:
    Desember 4, 2008 pukul 11:54 am

    Pak Anton Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya.

    Bravo Brimob!

    echa berkata:
    Desember 7, 2008 pukul 5:44 pm

    om dody thk
    aku dah add fsna
    bu wisnu

    hinung jayeng pati berkata:
    Desember 9, 2008 pukul 4:53 pm

    slamat siang!! mohon ijin untuk tahu pangkat dan jabatan anda. terimakasih

    mohon maaf pak…ini dengan siapa ya?pangkat dan jabatan dan dalam rangka apa ya?

    Marksman berkata:
    Desember 12, 2008 pukul 10:29 am

    Yang nanya pangkat dan jabatan adalah orang gila dan jangan digubris.

    nanya sesuatu tapi dia sendiri gak cantumin indentitas.

    Karsan berkata:
    Desember 14, 2008 pukul 11:16 am

    Buat Mas Romeo,

    Reorganisasi Hankam tahun 1969 dengan penyatuan setiap angkatan kedalam ABRI karena pada waktu itu setiap panglima angkatan bertanggungjawab langsung kepada presiden termasuk Polri.
    Reorganisasi ini tidak hanya menyangkut organisasi disetiap angkatan semata tetapi juga berimbas kepada Ksatuan elit disetiap angkatan yang berimbas kepada Brimob dengan MENPORNYA yang harus dilikuidasi/dibubarkan pada tahun 1971 dan Berubahnya organisasi brimob serta fungsi tugas brimob.
    dengan beralih fungsinya tugas Brimob/MENPOR, otomatis brimob tidak lagi mengikuti kegiatan Perang dan latihan2 yang bersifat perang secara praktis dihilangkan. ini terlihat dengan ditutupnya Battle training centre Menpor diLido dan pusdik Bala dipelabuhan ratu.

    mengenai operasi timtim, sebelum adanya operasi seroja yang dimulai desember 1975, kita bersama satuan khusus lain telah melakukan operasi pendahuluan sebgai pasukan sekarelawan. anda bisa membayangkan betapa beratnya masuk sebgai sukarelawan daripada pasukan reguler karena sukarelawan tidak boleh mengandalkan bantuan pasukan dan logistik dari garis belakang serta menggunakan senjata non standard TNI – POLRI.

    masuknya brimob ketimtim memang terkesan dipaksakan karena tanpa persiapan yang matang dari anggota brimob itu sendri dari perlengkapan perorangan yang sangat menyedihkan, physik, maupun logistik lainnya serta amburadulnya pengaturan operasi gabungan dilapangan.

    waktu itu dikelapa dua hanya ada 3 kompi yang siap tempur dgn pengalaman baik sedang yang lainnya tidak karena mungkin telah beralih fungsi tugas brimob itu sendri karena brimob yang ada pada saat itu sudah era tahun tujupuluhan yang minim pengalaman dan pendidikannya berbeda dengan kita yang tiada hari tanpa latihan.sedang kita adalah angkata limapuhan dan enampuluhan yang kenyang makan garam dimedan perang.

    mungkin itu penjelasan singkat dari saya dan saya mohon maaf lama tidak membalas karena sakit2n terus.

    semoga brimob tetap jaya selamanya.

    salam

    karsan

    Terimakasih saya sampaikan buat Mbah Karsan atas atensinya yang sangat besar kepada blog ini maupun kepada Korps Brigade Mobil. Kepada rekan2 blogger,kita doakan Mbah Karsan yukk. Semoga Beliaunya selalu dilimpahkan kesehatan dan panjang umur oleh Allah SWT..Amien

    srigunting berkata:
    Desember 19, 2008 pukul 12:30 am

    Tulisan tentang perjalanan panjang Brimob yang ditulis Pak Anton Setyawan , sangat mengugah ,, besar harapan kami semoga tulisan tersebut segera dibukukan,, namun apabila dibolehkan sedikit saran , agar penulisan tersebut nantinya dibagi dalam periodenisasi,,,, memang sedikit sulit menentukan periode apakah berdasarkan Palagan , atau rentang waktu , atau dinamika politik di Indonesia tercinta,,,,,,,,,,, kemudian mohon urun rembuk saran seluruh Brimob dan pencinta Brimob , sekiranya masa depan Brimob ataukah Pelopor harus dikemanakan,, setidaknya melihat tantangan tugas yang makin dinamis,,,,,,, War On Terrorism, Civilian Police Mission, Law and Order maintenance, kira kira kurikulum apakah yang cocok di berikan dan dimantapkan mulai Pusdik Brimob Watukosek sampai dengan giat pembinaan kekuatan di Kesatuan.Salam “Pelopor Lead the way”

    srigunting berkata:
    Desember 19, 2008 pukul 12:32 am

    Khusus Buat Mas Dody Tape,,,,,, TETAP TABAH DAN SEMANGAT, STAY SAFE , DO THE BEST.

    Timur Kendal Solo Komandan….


    Anton berkata:
    Desember 19, 2008 pukul 3:07 pm

    Kepada semuanya yang concern dengan sejarah penulisan Brimob, terima kasih atas atensinya. Memang pada awalnya ide penulisan saya hanya tentang Kompi 5994 (A) Rangers tahun 1959-1965, tetapi dluar dugaan tanggapan dari teman-teman Brimob sangat suportif, saya sungguh tidak menduga. Oleh karena itu sekarang saya sedang melakukan penelusuran literatur yang lebih dalam untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang sejarah Brimob dan saya setuju dengan periodisasi yang disampaikan mas Sri Gunting. Kendala yang saya alami adalah tidak banyak literatur sejarah yang membahas Brimob, saya sedang melakukan kontak dengan Mako Brimob Kelapa Dua untuk bertanya tentang kelengkapan pustaka di sana. Teman-teman tidak usah khawatir proses riset masih berlanjut hanya memang saya perlu lebih hati-hati supaya kualitas ilmiah dari dokumen yang disusun nanti bisa dipertanggungjawabkan.
    Bila ada saran silakan kontakl saya melalui e-mail rmb_anton@yahoo.com

    Romeo berkata:
    Desember 22, 2008 pukul 3:56 pm

    Utk Semuanya
    Teman-teman ad comment tentang latihan hadapi aksi teror tgl 21-12-08 ?????

    srigunting berkata:
    Desember 22, 2008 pukul 6:34 pm

    untuk mas anton ,, doa dan harapan terhadap penelitian anda dan rancangan tulisan anda sangat kami nantikan,, semoga lancar dalam riset anda,, khusus mas ROMEo,, anda bisa lihat sepertinya konsep jalan tengah yang pernah anda bicarakan dengan saya , antara ya atau tidak sama sekali sepertinya terwujud tinggal tunggu waktu aja siapa tahu UNSOCOM akhirnya dibentuk juga di Indonesia,, setujukan daripada rebutannnnnnnnnnnnnn eheheheheh yang pasti Romeo , tarsius dan saya, srigunting untuk sementara menonton aja ( diluar kapasitas sich ),, tapi sebelum pelaksanaan lat lawan teror gabungan TNI Polri yang digelar sabtu kemaren , di t4 saya , dilaksanakan juga lat lawan terror dgn mengambil lokasi Terminal Bus ,, Live dgn ledakan dan Bus betulan, yang belum sempat pake hely saja,, nanti saya upload gambar dan Film buat mas romeo,,

    e.pul berkata:
    Januari 6, 2009 pukul 1:30 pm

    to bpkKARSAN
    Salam BRIGADE………….saya sangat bangga dengan korps saya sekarang bertugas di sat brimobda lampung di unit gegana saya bangga dengan pejuang terdahulu terutama dng alm ayah sy yang memang dulunya adalah senior dalam kesatuan saya saat ini yang berasramakan di cipinang .ayah sy pernah cerita beliau pernah ditugaskan di ternate dan tidore.mgkn dulu ceita itu sy abaikan tetapi skg sy ingin sekali mereviw cerita itu.mgkn bpk karsan bersedia….

    TARSIUS berkata:
    Januari 7, 2009 pukul 4:19 pm

    Konsep penanganan teror secara gabungan bagus tapi jangan sampai ada satuan yang merasa paling hebat dan superior…..yang saya monitor lat gab di Hotel Borobudur dari Gultor tapi Brimobnya kyknya cuma evakuasi korban dan sandera, yang di BEJ kurang monitor sekilas aja keliatan gerakan operator wanteror Brimob maklum liat di TV,lumayanlah.

    Dave berkata:
    Januari 7, 2009 pukul 7:37 pm

    Operasi anti teror maupun lawan teror hendaknya tetap dikendalikan oleh POLRI yang dimulai dengan Preemtive, preventive dan represive. penindakan( wanteror) bisa dibantu oleh pihak lain apabila :

    1.Polri merasa membutuhkan karena eskalasinya terjadinya dibeberapa tempat sekaligus seperti dimumbai karena operasi anti teror merupakan bagian low enforcement yang mana sipelaku apabila tertangkap harus diproses hukum.

    2. Kejadiannya, seperti penyanderaan ditengah hutan rimba dan membutuhkan jumlah satuan yang lebih banyak dan berpengalaman.

    3. operasi dilakukan oleh POLRI karena menyangkut pertanggungjawaban hukum bila ada korban berimplikasi pelanggaran HAM. jadi tidak sembarangan satuan lain bisa membantu POLRI apabila tidak diberlakukan kondisi tertentu seperti DArurat sipil atau Miiter.

    Buat rekan2 Pelopor dan Gegana, apabila terjadi penyanderaan ditengah hutan rimba atau sipenyandera membawa lari para sanderanya kehutan rimba apakah satuan wanteror Polri telah siap dengan kondisi ini? karena selama ini latihan hanya dilakukan digedung, Bis umum, pesawat, kereta dll. mohon penjelasannya.

    Yunus berkata:
    Januari 30, 2009 pukul 7:08 pm

    Ass. Pak Karsan,

    Bapak saya SOEDIMAN (82 tahun) pernah bertugas di Kedung Halang, kira2 tahun 70 an ketika saya masih SMP, rumah dinasnya persis dipinggir jalan raya Bogor, dahulu disana masih ada kendaraan tempur seperti yang dipajang didepan kesatriaan.

    jinimuh berkata:
    Februari 8, 2009 pukul 11:52 pm

    tempur tempur kaya lo pernah tempur aja.
    brimop itu jaga portal aja.
    sesuai kemampuan

    mohon maaf,biar saya tebak…
    sampeyan bukan dari Brimob,klopun dari unsur satuan tempur,sampeyan baru lulus pendidikan atau belum pernah ke medan tempur yang sebenarnya.Karena anggota TNI,raider,marinir,pas khas,sgi, apalgi mantan anggota GAM,tau sepak terjang Brimob di Aceh.
    Gmana rekan2….akur ga ni

      special police berkata:
      September 23, 2011 pukul 4:03 pm

      saya ada cerita sedikit ketika tahun 2006 sya bertugas di salah satu pos diaceh,waktu itu RI dan Gam sedang dalam tahap perdamaian dan anggota gam turun gunung dan pulang kerumah mereka masing2,pada saat saya piket jaga dipos datang beberapa anak muda ke pos sya dan ternyata anggota gam dan salah satunya adalah panglima muda daerah itu yang kami cari selama ini,berhubung dalam tahap perdamaian kami tdk blh melakukan penangkapan,singkat cerita kami ngobrol2 .” bang, kata panglima muda ,kami segan sama resimen 1 atau sat 2 pelopor,trus saya tanya,kenapa segan? panglima muda menjawab segan sama resimen 1 karena kalo kami serang resimen 1 malah mengejar kami, tapi kalo kami serang satuan samping mereka lari sembunyi ketakutannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn pasti

    srigunting berkata:
    Februari 15, 2009 pukul 1:04 am

    buat mas atau mbak JINIMUH,, hehehhh jenenngan masih berparadigma lama , ataupun mungkin just ROOOKIESSSSSS , alias bau kencur,, entar deh kalau anda sempat jalan jalan ke Aceh atau ambon , atau daerah bergolak ( macam betul ) anda belajar untuk berbagi cerita dan pengalaman,, keep on going .
    Mas DOdy Tape , sebagian rombongan Srigunting yang ada di pangkalan sudah mendarat di suatu tempat,, bersama kita doakan rekan rekan Srigunting yang bergabung dalam den X tersebut sukses dalam tugas dan pengabdian,,,,,,,,,,,, TETAP TABAH DAN SEMANGAT

    srigunting berkata:
    Februari 15, 2009 pukul 1:07 am

    Buat UDA Tarsius dan OM Romeo ,, silahkan buka di youtube ,, trus ketik kata kunci Brimob Training, tolong kasih komentar ya,, buat anev dilain waktu ,,,,,,,,,, PELOPOR LEAD THE WAY

    Fighter berkata:
    Februari 17, 2009 pukul 4:52 pm

    Mohon ijin mas, kalo sepengetahuan saya, kalian di daerah operasi itu cuman duduk di pinggir jalan nunggu sopir truk lewat kemudian minta jatah. saat satuan lain patroli ataupun kontak kalian nunggu dipinggir kampung.
    jadi jangan terlalu yakin menilai diri sendiri dan menganggap kalian berhasil dimedan tugas. dari sekian banyak satuan kalian yang bertugas, paling hanya beberapa yang pernah kontak senjata langsung, sisanya dengar ceritanya aja. satuan mana yang banyak membantai pengacau itu ? satuan mana yang menghabisi panglima GAM ataupun para panglima sagonya ? Brimob ??? ngabulatuk kau!

      komando berkata:
      Juli 16, 2010 pukul 9:02 pm

      klo mau lihat kejelekan pasukan dilapangan setiap pasukan pasti punya cacat, penilaian dari satuan yang nota bene bersaing dengan brimob tentunya tidak berdasarkan fakta di lapangan tapi berusaha saling menjatuhkan, anggota brimob dalam forum ini tidak ada yg mencela satuan lain, mengapa anda berpikir terlalu sempit.

        komando berkata:
        Juli 17, 2010 pukul 4:46 pm

        saya punya sodara di TNI, klo di kantor ga ada kerjaan dia maen catur…dia lulusan AKMIL…jadi jangan terlalu tinggi menilai diri sendiri…:)

        special police berkata:
        September 24, 2011 pukul 10:16 pm

        dihapussss,di ejek kok diam aja………

        dodytape responded:
        September 27, 2011 pukul 2:39 pm

        @my broder, special police: sengaja ga saya hapus karena saya ingin pembaca sendiri yang menilai..komentar tsb berasal dari orang yang intelek apa ga…pake otak apa pake okol(otot) doank… orang yang berpengetahuan apa orang yang sok tau….mengutip kata mutiara orang jawa: “ajining rogo soko busono, ajining diri soko lati”

      special police berkata:
      September 23, 2011 pukul 4:14 pm

      misi satuan militer indonesia, 1 peleton di bagi 3. 1 regu tgsnya mengacaukan ,1 regu cari uang dan 1 regu mengamankan yang dikacaukan. info saya dapat dari sepupu saya intel kodam.tks

    Anton berkata:
    Februari 20, 2009 pukul 9:39 pm

    BRIMOB RANGERS WAR-6
    KERJASAMA BEBERAPA SATUAN TEMPUR DENGAN BRIMOB DAN MANTAN RANGERS DALAM ROTASI XI TIMOR TIMUR, 1984-1985

    Anton A Setyawan, SE,MSi
    Dosen Fak Ekonomi UMS dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen UGM
    e-mail: anton_agus@ums.ac.id atau rmb_anton@yahoo.com

    *Tulisan ini muncul sebagai respon atas mulai adanya komentar negative tentang diskusi tentang Brimob dan Menpor dalam beberapa blog milik Brimob maupun website TNI.
    * Tulisan ini adalah bagian dari riset saya yang akan menjadi salah satu bab dalam buku “Resimen Pelopor, Pasukan Elite Yang Terlupakan”.
    * Tulisan ini berdasarkan wawancara dengan beberapa mantan anggota Brimob Polda DKI, Batalyon Infanteri 406, Marinir dan Kopassus yang pernah berdinas di Kab Viqueque Timor Timur dan juga penggalian pustaka yang berasal dari Dephan, International Crisis Group dan Jurnal Pertahanan Tlava.

    Operasi Seroja yang dilaksanakan pada akhir 1975 adalah operasi gabungan terbesar yang pertama kali dilakukan pada masa Orde Baru. Operasi ini pada awalnya melibatkan satuan-satuan dari Batalyon 502 Raiders Kostrad, Kopassgat (sekarang Paskhas TNI AU dan Kopassandha (sekarang Kopassus) lewat penerjunan. Sementara, Batalyon 403 Raider dan Brigade 1 Infanteri Marinir melakukan pendaratan ampibi dengan LST (Angkasa online). Pasukan Brimob dan sisa Resimen Pelopor mengambil bagian dalam operasi ini, namun dalam beberapa dokumen disebutkan tentang beberapa kejadian yang memojokkan reputasi Resimen Pelopor yang waktu itu sebenarnya sudah dibubarkan.
    Operasi militer dengan kode Seroja selesai pada tahun 1979, pada saat itu hampir seluruh wilayah Timor Timur sudah dikuasai. Gerilyawan Fretelin masih bertahan di Timor-Timur Bagian Timur di sekitar wilayah Baucau ke Timur. Wilayah Kabupaten Viqueque terletak di Timor Timur Bagian Timur dan markas Xanana Gusmao beserta pasukannya ada di wilayah ini, yaitu di Gunung Matabea. Mereka yang pernah bertugas di wilayah ini hampir pasti pernah diserang oleh gerombolan Fretelin.
    Pada tahun 1984, operasi Kikis digelar oleh ABRI. Polri menggunakan kode sandi Rotasi XI terkait dengan operasi ini. Salah satu wilayah yang dianggap berbahaya di Kab Viqueque adalah Kecamatan Vatu Carbau. Di kecamatan ini pada pertengahan 1984, ada beberapa pasukan yang mempunyai pos penjagaan, yaitu Batalyon Infanteri 406 dari Kodam IV Diponegor, satu kompi yang berasal dari Brigade 1 Marinir pimpinan Kapten (Mar) Kinkin Soeroso (saat ini menjabat sebagai Danpuspom AL dengan pangkat Kolonel) dan beberapa orang anggota Intel AD yang berasal dari Kopassus. Mapolsek Vatu Carbau dipimpin oleh Letda (Pol) Kartimin mantan anggota Menpor yang berangkat ke Timor Timur sebagai Kapolsek. Pada masa penugasan di Timor Timur beliau sudah lama bertugas di jajaran Reserse Polwil Surakarta. Terakhir kali mengalami pertempuran adalah pada tahun 1964-1965 yaitu pada masa pengejaran Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.
    Pada tahun 1984 berdasarkan dokumen dari Tlava edisi Oktober 2008, pada dekade 1980-1990 di Timor Timur kekuatan Fretilin sekitar 1.350 personel dengan senjata G-3, SKS,SP, M-16,AR-15 dan FNC. Pasukan Falintil yang bermarkas di Gunung Matabean sekitar 300 orang. Peran Brimob dalam pengamanan kawasan Vatu Carbau adalah sebagai anggota Polsek Vatu Carbau. Mereka berasal dari Polda DKI, Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Satu-satunya yang bukan berasal dari Brimob, meskipun pernah berdinas di Brimob adalah kapolsek Letda (Pol) Kartimin. Berdasarkan keterangan dari anggota Batalyon Infanteri 406 dan Batalyon Infanteri 413, pada saat melakukan patroli tempur gabungan maka tidak ada perbedaan apakah anggota Polri/Brimob atau satuan tempur lain semua mendapatkan jatah patroli yang sama. Hal ini juga dikonfirmasi oleh satuan intel Kopassus dan Marinir, yang dipimpin oleh Kapten (mar) Kinkin Soeroso.
    Pada masa itu tidak ada perbedaan seragam antara TNI dengan Polri pada saat berada di daerah operasi tempur. PDH dari TNI dan Polri adalah seragam hijau tua, dengan pet rimba atau helm tempur (model helm sekutu pada PD II) yang membedakan adalah badge satuan. Tanda pangkat tidak pernah dipasang oleh anggota TNI/Polri yang berdinas di Timor Timur karena hanya mengundang tembakan sniper (khususnya perwira). Berdasarkan seragam yang sama ini, Falintil tidak memilih korban dalam aksi penembakan atau penyergapan apakah itu Brimob atau TNI atau bahkan Polri non Brimob. Senjata yang dipergunakan oleh tiap satuan juga beragam, sebagian besar batalyon infanteri AD bersenjatakan M 16, prajurit Marinir menggunakan AK 47 sedangkan Brimob Polda DKI bersenjatakan AK 47, Brimob Polda Kaltim dengan senjata M 16 sedangkan anggota Polri dari Polda Jateng membawa senjata SKS atau sering disebut Cung.
    Kejadian yang cukup dramatis pada penugasan di dalam Rotas XI tahun 1984 adalah pada saat satu peleton gabungan yang terdiri dari unsur Batalyon Infanteri 406 dan empat anggota Brimob yang dikepung 80 orang anggota Falintil di Batata. Pengepungan dilakukan mulai jam 19.00 sampai dengan subuh. Satu peleton pasukan tersebut bertahan dari hujan tembakan yang berlangsung semalam suntuk dan balasan hanya dilakukan dari dalam pos pertahanan. Prajurit AD dan Polri mampu bertahan semalam tanpa bantuan. Mengapa tidak ada bantuan? Pada jam 19.45 satuan intel Kopassus sudah mendapatkan berita tentang pertempuran di Batata, namun tidak mungkin mengirim bantuan karena wilayah terlalu berat dan beresiko bergerak di malam hari dengan pasukan besar. Komandan pasukan di Vatu Carbau, yaitu Kapten (Mar) Kinkin Soeroso memutuskan untuk mengirimkan pasukan bantuan yang akan beliau pimpin sendiri menjelang fajar besok.
    Keesokan paginya, Kapten (Mar) Kinkin Soeroso, Letda (Pol) Kartimin, beserta 150 pasukan gabungan yang terdiri dari Kopassus, Marinir, pasukan dari Batalyon 406 dan Polri/Brimob berangkat menuju Batata. Para perwira mengendarai kuda karena jalan yang dilalui adalah padang ilalang dan jalan setapak. Butuh waktu satu hari penuh untuk mncapai Batata dengan medan yang sangat sulit. Dalam operasi inilah nampak tidak ada perbedaan antara TNI dan Polri karena yang bertugas sebagai point man (prajurit) terdepan diundi tanpa membedakan berasal dari satuan apa. Sekitar 2 kilometer dari Batata terdengar tembakan sporadis yang mengarah ke pasukan bantuan. Komandan pasukan segera memerintahkan mengejar penembak gelap, namun tidak berhasil karena ternyata di wilayah itu dipenuhi bunker yang sulit dilacak.
    Akhirnya pasukan bantuan sampai di Batata dan menemukan bahwa seluruh anggota peleton gabungan selamat, meskipun hampir kehabisan amunisi karena melayani kontak senjata sepanjang malam. Di pihak Falintil jatuh korban 2 orang tertembak, sementara penduduk desa ada 3 orang yang menjadi korban.
    Hampir semua anggota pasukan yang terlibat dalam operasi itu menjadi sahabat akrab bahkan ketika sudah kembali ke kesatuan masing-masing. Pada saat kembali berdinas di Powil Surakarta, Letda (Pol) Kartimin sering mendapat kunjungan dari para perwira maupun prajurit Kopassus yang pernah bertugas bersama di Timor-Timur. Pada saat anda berada dalam situasi pertempuran maka teman yang berada di samping anda adalah tempat anda menggantungkan hidup tidak peduli dia berasal dari kesatuan apa atau apa pangkatnya.

    Anton berkata:
    Februari 21, 2009 pukul 3:34 pm

    BRIMOB RANGERS WAR-6
    KERJASAMA BEBERAPA SATUAN TEMPUR DENGAN BRIMOB DAN MANTAN RANGERS DALAM ROTASI XI TIMOR TIMUR, 1984-1985

    Anton A Setyawan, SE,MSi
    Dosen Fak Ekonomi UMS dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen UGM
    e-mail: anton_agus@ums.ac.id atau rmb_anton@yahoo.com

    *Tulisan ini muncul sebagai respon atas mulai adanya komentar negative tentang diskusi tentang Brimob dan Menpor dalam beberapa blog milik Brimob maupun website TNI.
    * Tulisan ini adalah bagian dari riset saya yang akan menjadi salah satu bab dalam buku “Resimen Pelopor, Pasukan Elite Yang Terlupakan”.
    * Tulisan ini berdasarkan wawancara dengan beberapa mantan anggota Brimob Polda DKI, Batalyon Infanteri 406, Marinir dan Kopassus yang pernah berdinas di Kab Viqueque Timor Timur dan juga penggalian pustaka yang berasal dari Dephan, International Crisis Group dan Jurnal Pertahanan Tlava.

    Operasi Seroja yang dilaksanakan pada akhir 1975 adalah operasi gabungan terbesar yang pertama kali dilakukan pada masa Orde Baru. Operasi ini pada awalnya melibatkan satuan-satuan dari Batalyon 502 Raiders Kostrad, Kopassgat (sekarang Paskhas TNI AU dan Kopassandha (sekarang Kopassus) lewat penerjunan. Sementara, Batalyon 403 Raider dan Brigade 1 Infanteri Marinir melakukan pendaratan ampibi dengan LST (Angkasa online). Pasukan Brimob dan sisa Resimen Pelopor mengambil bagian dalam operasi ini, namun dalam beberapa dokumen disebutkan tentang beberapa kejadian yang memojokkan reputasi Resimen Pelopor yang waktu itu sebenarnya sudah dibubarkan.
    Operasi militer dengan kode Seroja selesai pada tahun 1979, pada saat itu hampir seluruh wilayah Timor Timur sudah dikuasai. Gerilyawan Fretelin masih bertahan di Timor-Timur Bagian Timur di sekitar wilayah Baucau ke Timur. Wilayah Kabupaten Viqueque terletak di Timor Timur Bagian Timur dan markas Xanana Gusmao beserta pasukannya ada di wilayah ini, yaitu di Gunung Matabea. Mereka yang pernah bertugas di wilayah ini hampir pasti pernah diserang oleh gerombolan Fretelin.
    Pada tahun 1984, operasi Kikis digelar oleh ABRI. Polri menggunakan kode sandi Rotasi XI terkait dengan operasi ini. Salah satu wilayah yang dianggap berbahaya di Kab Viqueque adalah Kecamatan Vatu Carbau. Di kecamatan ini pada pertengahan 1984, ada beberapa pasukan yang mempunyai pos penjagaan, yaitu Batalyon Infanteri 406 dari Kodam IV Diponegor, satu kompi yang berasal dari Brigade 1 Marinir pimpinan Kapten (Mar) Kinkin Soeroso (saat ini menjabat sebagai Danpuspom AL dengan pangkat Kolonel) dan beberapa orang anggota Intel AD yang berasal dari Kopassus. Mapolsek Vatu Carbau dipimpin oleh Letda (Pol) Kartimin mantan anggota Menpor yang berangkat ke Timor Timur sebagai Kapolsek. Pada masa penugasan di Timor Timur beliau sudah lama bertugas di jajaran Reserse Polwil Surakarta. Terakhir kali mengalami pertempuran adalah pada tahun 1964-1965 yaitu pada masa pengejaran Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.
    Pada tahun 1984 berdasarkan dokumen dari Tlava edisi Oktober 2008, pada dekade 1980-1990 di Timor Timur kekuatan Fretilin sekitar 1.350 personel dengan senjata G-3, SKS,SP, M-16,AR-15 dan FNC. Pasukan Falintil yang bermarkas di Gunung Matabean sekitar 300 orang. Peran Brimob dalam pengamanan kawasan Vatu Carbau adalah sebagai anggota Polsek Vatu Carbau. Mereka berasal dari Polda DKI, Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Satu-satunya yang bukan berasal dari Brimob, meskipun pernah berdinas di Brimob adalah kapolsek Letda (Pol) Kartimin. Berdasarkan keterangan dari anggota Batalyon Infanteri 406 dan Batalyon Infanteri 413, pada saat melakukan patroli tempur gabungan maka tidak ada perbedaan apakah anggota Polri/Brimob atau satuan tempur lain semua mendapatkan jatah patroli yang sama. Hal ini juga dikonfirmasi oleh satuan intel Kopassus dan Marinir, yang dipimpin oleh Kapten (mar) Kinkin Soeroso.
    Pada masa itu tidak ada perbedaan seragam antara TNI dengan Polri pada saat berada di daerah operasi tempur. PDH dari TNI dan Polri adalah seragam hijau tua, dengan pet rimba atau helm tempur (model helm sekutu pada PD II) yang membedakan adalah badge satuan. Tanda pangkat tidak pernah dipasang oleh anggota TNI/Polri yang berdinas di Timor Timur karena hanya mengundang tembakan sniper (khususnya perwira). Berdasarkan seragam yang sama ini, Falintil tidak memilih korban dalam aksi penembakan atau penyergapan apakah itu Brimob atau TNI atau bahkan Polri non Brimob. Senjata yang dipergunakan oleh tiap satuan juga beragam, sebagian besar batalyon infanteri AD bersenjatakan M 16, prajurit Marinir menggunakan AK 47 sedangkan Brimob Polda DKI bersenjatakan AK 47, Brimob Polda Kaltim dengan senjata M 16 sedangkan anggota Polri dari Polda Jateng membawa senjata SKS atau sering disebut Cung.
    Kejadian yang cukup dramatis pada penugasan di dalam Rotas XI tahun 1984 adalah pada saat satu peleton gabungan yang terdiri dari unsur Batalyon Infanteri 406 dan empat anggota Brimob yang dikepung 80 orang anggota Falintil di Batata. Pengepungan dilakukan mulai jam 19.00 sampai dengan subuh. Satu peleton pasukan tersebut bertahan dari hujan tembakan yang berlangsung semalam suntuk dan balasan hanya dilakukan dari dalam pos pertahanan. Prajurit AD dan Polri mampu bertahan semalam tanpa bantuan. Mengapa tidak ada bantuan? Pada jam 19.45 satuan intel Kopassus sudah mendapatkan berita tentang pertempuran di Batata, namun tidak mungkin mengirim bantuan karena wilayah terlalu berat dan beresiko bergerak di malam hari dengan pasukan besar. Komandan pasukan di Vatu Carbau, yaitu Kapten (Mar) Kinkin Soeroso memutuskan untuk mengirimkan pasukan bantuan yang akan beliau pimpin sendiri menjelang fajar besok.
    Keesokan paginya, Kapten (Mar) Kinkin Soeroso, Letda (Pol) Kartimin, beserta 150 pasukan gabungan yang terdiri dari Kopassus, Marinir, pasukan dari Batalyon 406 dan Polri/Brimob berangkat menuju Batata. Para perwira mengendarai kuda karena jalan yang dilalui adalah padang ilalang dan jalan setapak. Butuh waktu satu hari penuh untuk mncapai Batata dengan medan yang sangat sulit. Dalam operasi inilah nampak tidak ada perbedaan antara TNI dan Polri karena yang bertugas sebagai point man (prajurit) terdepan diundi tanpa membedakan berasal dari satuan apa. Sekitar 2 kilometer dari Batata terdengar tembakan sporadis yang mengarah ke pasukan bantuan. Komandan pasukan segera memerintahkan mengejar penembak gelap, namun tidak berhasil karena ternyata di wilayah itu dipenuhi bunker yang sulit dilacak.
    Akhirnya pasukan bantuan sampai di Batata dan menemukan bahwa seluruh anggota peleton gabungan selamat, meskipun hampir kehabisan amunisi karena melayani kontak senjata sepanjang malam. Di pihak Falintil jatuh korban 2 orang tertembak, sementara penduduk desa ada 3 orang yang menjadi korban.
    Hampir semua anggota pasukan yang terlibat dalam operasi itu menjadi sahabat akrab bahkan ketika sudah kembali ke kesatuan masing-masing. Pada saat kembali berdinas di Powil Surakarta, Letda (Pol) Kartimin sering mendapat kunjungan dari para perwira maupun prajurit Kopassus yang pernah bertugas bersama di Timor-Timur. Pada saat anda berada dalam situasi pertempuran maka teman yang berada di samping anda adalah tempat anda menggantungkan hidup tidak peduli dia berasal dari kesatuan apa atau apa pangkatnya.

      DEN BAGUS MOBRIG BOROBUDUR berkata:
      Januari 31, 2014 pukul 9:31 pm

      yg berkomentar seperti itu biasanya orangnya penakut dan gak pernah berani bergaul baik dg kesatuan lain karena merasa rendah diri dan hanya berani berkoar klo dah dimedan yg aman ato di pangkalan jadi dia klo dah di pangkalan sombong bahwa saya pulang dari Tim2 padahal disana mungkin jadi manage/ tukang masak jadi ngomongnya besar coba di tes dia di tim2 dipos ada berapa orang pernah gak dia tugas di pos yang jauh dan ditengah hutan di tim2 hanya 2 personil coba berani gak kalo berani saya mau minum itu kencingnya kalo saya dah mengalami pada Rotasi IX tahun 1982 tugas di tim2 selama 15 bulan di pos terpencil hanya 2 personil dan keduanya hanya berpangkat Bharada, dan pasukan elit/Kopasus aja mengakuinya bahwa kita dianggap gila jadi kami berpesan pada yg ngomong minir gak usahlah merasa paling Top sendiri kita sama2 sama mengabsdikan diri pada NKRI ini yg kita cintai s x lagi manusia spt itu di tim2 biasanya pengecut berkoar kalo dah pangkalan Trims

      SALAM BRIGADE WAAOOO.

    dwi erdi siswanto berkata:
    Februari 21, 2009 pukul 11:54 pm

    Brigade,salam buat rekan2 yang ada di Resimen 1/sat 2 por dan korps brimob terutama buat Anggk.XXXV.1 buat pak Kompol.arif budiman sik,pak syarif gunawan tanpa anda saya tak berarti apa2 walaupun saya mantan prajurit Resimen 1 yang sekarang tugas di sat brimobdasu tapi saya tetap bangga dengan alumni tempat saya bertugas dulu,dan saya mohon dengan sangat kepada korps brimob terutama KAkorps supaya logistik yang ada disumatra utara disurvey lagi baik itu persenjataan,alsus PHH serta peralatan lainnya,karna sebagai alumni sat 2 por saya merasa minder tugas di sat brimobdasu senjata yang dipakai M-16 itupun lade senjatanya udah banyak yang pecah dan banyak yang sudah rusak tapi tetap di pergunakan,apalagi alsus PHH,kami masih banyak makai yang lama masa dimedan ini lebih banyak yang diperhatikan dari unsur samaptanya malah lebih lengkap mereka seperti ada sabotase dari pihak poldasu,mohon diperhatikan demi majunya Brimob yang kita cintai ini apalagi yang bisa kita banggakan pakaian hijau aja sudah dipakai satpol.pp,hitam satpam gimana itu bahkan mereka sering arogan dijalan sipil mengira itu adalah Angg.Brimob,pakaian loreng pelopor gak dipakaio hanya pajangan aja,oh ya pak dimedan sbtu minggu gak ada liburnya dan para unsur pimpinan terlalu totaliter dan masih suka main pukul untuk tindakan,yang tidak sesuai dengan visi dan misi polri khususnya Brimob.BRIGADE

    EKO berkata:
    Februari 22, 2009 pukul 12:15 am

    EH YANG MEMAKAI NAMA JINIMUH PERLIHATKAN WUJUD ASLIMU ITU KAMU ITU HANYA ORANG2AN SAWAH YANG TAK MENGERTI APA2 SAMA SEKALI,KAYA UDAH HEBAT X KAU ITU BARU JADI APA KAU DIPASUKANMU PLING2 KAIN PEL

    m. zaenuri berkata:
    Maret 6, 2009 pukul 8:57 pm

    salam buat rekan2 baret biru brigadeeeee yang ada di padang khusus untuk Ipda Gaguk, SH yang ada di detasemen dingin padang panjang gitu lhooo

    resimen 1 brimob berkata:
    Maret 24, 2009 pukul 1:11 am

    Salam BRIGADE.
    numpang comment..
    aq dl eks sat 2 pelopor kie 4,dl dankie aq AKP. victor alexander lateka,trz wadankie aq dl IPTU teguh.btw gmn keadeaan sat 2 pelopor skg???
    q letting ba. thn 2000, 1 letting sm feby yg skg pny group band br POLICE LINE tu..
    OK,slm bwt smua anggt. SAT 2 PELOPOR
    trims

    resimen 1 brimob berkata:
    Maret 24, 2009 pukul 1:13 am

    o ya lupa, kl blh tau munta no hpnya AKP. VICTOR ya..
    kl g blh jg gpp kok..
    slm dr eks brimob di polres blitar
    trims

    nanang berkata:
    April 10, 2009 pukul 10:45 am

    maju terus sat ll pelopor

    nanang berkata:
    April 10, 2009 pukul 10:52 am

    salam buat rekan rekan brimob leting 34 dari sabang sampai meroke.

    gaplek berkata:
    April 13, 2009 pukul 1:06 pm

    ex sat 2 por kie 1 dl danki akp imam suhadi, salam buat semua rekan2 seperjuangan dari blangkon biru jogja.

      GOTREX berkata:
      Mei 7, 2009 pukul 9:10 pm

      TUK RKN2 EX SAT II POR KHUSUS Y KIE 1 DEN D YG BRD D JOGJA JGN LP KAN KANTOR MOE DOELOE YG INDAH YAAAAAAAAAAA SLM BRIGADE BARET BIRU MBS POLRI

    gaplek berkata:
    April 13, 2009 pukul 1:10 pm

    teman2yang online. bagi2 alamt yoooooo

    Parako 2 berkata:
    April 15, 2009 pukul 10:41 am

    BUat anggota TNI yang telah memberikan komentarnya di blog ini, hendaknya kalian memberikan pendapat yang santun dan elegan agar TNI tidak dipandang hanya bisa menggunakan otot aja.

    Operasi di aceh adalah operasi militer biasa dan menggunakan standard operasi yang biasa dipakai oleh TNI/POLRI dimana saja.

    Prestasi yang telah dicapai, mari kita berikan buat rakyat dan bangsa bukan hanya untuk TNI saja.Hendaknya kita sama2 bersatu dan saling menghargai antar institusi.

    asep so berkata:
    April 17, 2009 pukul 9:37 am

    Aku ASEP SOLIHIN nama panggilan ku ASEP SO.Kesatuan asal ku Resimen I dan sekarang berubah nama menjadi Sat II Pelopor.Aku mantan anggota Detasemen C Singa Lodaya,kompi 4 dan pindah menjadi kompi 1.Sekarang aku sudah mutasi ke daerah menjadi anggota Sat Brimobda.Sering terbayang dalam pikiranku kenangan kenangan ketika aku masih menjadi anggota Sat II Pelopor.Kenangan indah yang tak pernah terlupakan.menjadi seorang Brigade Sejati,yang tidak mungkin akan terulang dikesatuan yang baru. Salam BRIGADE buat rekan rekan yang masih di Sat II Pelopor. ” Rimung BRIGADE”.813
    Brigade juga buat kang Asep. Lama kita ga bsua..kangen juga ni ma temen lama jajaran rimueng. Kami disini baek2 aja. Rekan2 udah bnyk yg mutasi..n skrg sy lg di misi area. Slm bwt keluarga dan temen2 brimob Jabar

    Anton berkata:
    April 18, 2009 pukul 10:42 am

    Bravo untuk Mas Parako 2
    memang sebaiknya diskusi dalam blog dilakukan dengan santun dan elegan. Saya yakin prajurit TNI generasi saat ini adalah prajurit TNI yang profesional sehingga mereka saya rasa mampu memberikan diskusi dan masukan yang konstruktif bagi bangsa ini. Masalah pertahanan saat ini dalam kondisi yang mengkhawatirkan sehingga sudah saatnya seluruh komponen memberikan sumbangan nyata dan tidak terjebak pada fanatisme korps saja.

    Anton A Setyawan,SE,MSi PhD Cand
    Jurusan Manajemen
    Universitas Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
    telp: 0271-717417 xt 421
    mobile: 08156718444
    e-mail: rmb_anton@yahoo.com

    Marno berkata:
    April 22, 2009 pukul 10:51 am

    Sebagai mantan brimob yang pernah berdinas di brimob selama 18thn, saya sangat prihatin dengan tewasnya beberapa anggota brimob di puncak jaya wamena dan beberapa tempat diindonesia sebagai akibat dari kesalahan analisis keadaan disuatu wilayah yang dilakukan oleh tingkat wilayah maupun mabes.

    Satuan brimob yang seharusnya berada digarda terdepan dalam menjalankan tugas2 kepolisian didaerah yang sangat rawan, juga tidak diperlengkapi peralatan yang sgt memadai sebagai contoh peristiwa diwamena kemarin yang seharusnya anggota menggunakan APC anti peluru, akhirnya harus mereggang nyawa akibat penyergapan dari gerombolan.

    ini bukti bahwa pimpinan Polri dan brimob sangat tidak perduli terhadap Korps yang selalu menjadi ujung tombak didalam menjalankan tugas2 kepolisian didaerah rawan.

      sahid berkata:
      Juli 13, 2012 pukul 7:03 pm

      susah juga ya Mas, kalo bicara tentang Puncak Jaya dan Wamena… daerah itu memang selalu keterbatasan. Saya alami sendiri selama kurun waktu 6 bulan, dari januari sampe juni 2012! segalanya serba keterbatasan, transportasi hanya melalui udara, KR yang bisa digunakan hanya KR yang memiliki double cardan (wil. puncak jaya 2800 mdpl). geografisnya udah pegunungan jg dinginnya, pasukan yang ditugaskan kesana haruslah bersifat sabar dan iklas dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

    achy berkata:
    Mei 2, 2009 pukul 5:07 pm

    waaaaah…….. andai jaman dahulu sudah ada HP atau media lainnya yg bisa merekam sejarah perjuangan Brimob….

    apa kata dunia tentang satuan tertua diantara satuan di indonesia ini….????

    meski sy masih baru dalam keluarga besar Brimob dan masih kurang dalam pengalaman tugas, saya sangat merasa bangga dan ingin melakukan yang terbaik seperti insan bhayangkara Brimob dahulu..

    “saya harap satuan Brimob tetap jadi yang terbaik dari yang terbaik.”

    “Brimob Baret Biru Selalu Tampil Terdepan”

    Salam BRIGADE!!!!

    Anton A Setyawan berkata:
    Mei 14, 2009 pukul 8:20 pm

    BRIMOB RANGERS WAR 7
    MENGEJAR KAHAR MUZAKAR DI SULSEL, DIHUJANI TEMBAKAN DI SUNGAI LAMASE

    Anton A. Setyawan
    Dosen Univ. Muhammadiyah Surakarta dan
    mahasiswa Program Doktor UGM
    Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 571002
    Telp : 0271-7685308 (home) dan HP 08156718444
    e-mail : rmb_anton@yahoo.com dan agussetyawan-a@lycos.com

    Hasil wawancara dengan mantan anggota Kompi 5994 Brimob Rangers dan Yon 330 Siliwangi, Juni 2008

    Pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan adalah salah satu pemberontakan paling lama dan paling berdarah dalam sejarah Republik Indonesia. Kekuatan pemberontak Kahar Muzakar pada masa puncaknya yaitu tahun 1960-an mencapai 6 batalyon atau lebih dari 6.000 personel. Para anggota pasukan adalah mantan anggota Angkatan Darat yang sudah terampil menghadapi tentara Belanda pada jaman revolusi. Artinya dibandingkan dengan pasukan pengejarnya, bisa jadi pasukan DI/TII Kahar Muzakar lebih berpengalaman dalam melakukan pertempuran gerilya.
    Keterlibatan pasukan Resimen Pelopor dalam pengejaran pemberontak Kahar Muzakar dimulai pada tahun 1964. Pada saat itu, di Kelapa Dua sudah ada tiga batalyon Menpor. Pada masa ini, Menpor mencapai puncak kejayaan dengan anggota hampir 3.000 personel. Pada masa ini pula, markas Menpor di Kelapa Dua harus memenuhi kebutuhan pasukan untuk kampanye Ganyang Malaysia dan mengatasi pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan.
    Pasukan Menpor berangkat ke Sulsel pada pertengahan 1964, sebagian besar dari mereka bermarkas di Palopo. Markas komando ini sekaligus berfungsi sebagai gudang logistik. Sementara itu, pasukan Menpor dipecah dalam unit peleton dan tim dan bergabung dengan unit Angkatan Darat. Pada masa itu, pasukan Menpor sudah menggunakan senjata AR 15, sebuah senjata otomatis untuk pasukan komando yang merupakan bantuan dari pemerintah AS pada tahun 1961. Senjata andalan AR 15 ini sudah teruji oleh pasukan Menpor pada waktu penumpasan pemberontak DI/TII Daud Beureuh dan infiltrasi perebutan Papua/Irian Jaya.
    Salah satu peristiwa dramatis dalam penumpasan pemberontakan Kahar Muzakar adalah pada saat dua peleton Menpor melakukan gerakan tempur dengan dua peleton pasukan dari Batalyon 330 Siliwangi. Pasukan gabungan ini bergerak karena ada informasi di sebuah desa di sekitar Lamase menjadi pusat logistik pasukan pemberontak. Sungai Lamase adalah sebuah sungai yang cukup besar dengan arus yang deras di wilayah Sulsel. Kebanyakan gerakan pemberontak memang berada di wilayah ini. Pasukan gabungan bergerak cepat karena mereka khawatir pasukan pemberontak akan memindahkan lokasi logistiknya. Pada saat sampai di Sungai Lamase, pasukan dihadapkan pada arus sungai yang deras, sehingga mereka harus menyeberanginya.
    Pasukan Menpor dan Yon 330 Siliwangi mulai menyeberang sungai tersebut, namun pada saat rombongan pertama penyeberang berada di tengah sungai, dari pinggir kampung terdengar tembakan beruntun yang berasal dari senapan ringan M 1 Garrand dan senapan mesin. Suara tembakan itu semakin sengit, dan pasukan penyeberang mulai merasakan desingan peluru disekitar mereka. Beruntung pasukan yang menunggu giliran menyeberang cukup sigap dalam membalas tembakan. Pasukan yang menunggu giliran menyeberang melakukan tembakan perlindungan dengan senapan AR 15 yang dibawa Menpor maupun M1 Garrand yang dibawa anggota Yon 330 Siliwangi. Para penembak bren dari Yon 330 Siliwangi juga mengambil posisi menembak dan terus melakukan tembakan perlindungan. Setelah rombongan pertama sampai di seberang sungai, gantian mereka melakukan tembakan perlindungan, sementara beberapa anggota Menpor dan Yon 330 melakukan perembesan dan gerakan melambung untuk mengepung musuh. Namun sekali lagi, pasukan Kahar Muzakar sudah berpengalaman menghadapi pasukan elite Belanda dalam perang revolusi, sehingga mereka dengan mudah menghindar dari kepungan. Pada akhirnya pasukan pemberontak berhasil lolos dari kepungan, namun mereka tidak dapat menyelamatkan logistik mereka. Pasukan Menpor dan Yon 330 Siliwangi berhasil menetralisir gudang makanan pemberontak.

    AMRIN berkata:
    Juni 3, 2009 pukul 10:03 am

    salam damai dan sejahtera buat rekan-rekan brimob dan slrh polisi indonesia. mari kita jaga kekompakan antar fungsi dalam tubuh polri, jng ada perbedaan brimob,serse, intel, lantas, samapta,dsb. Saya yakin semua tugas demi kejayaan bangsa dan negara kita tercinta, dengan begitu kita lebih dipercaya oleh masyarakat dan ujung-ujungnya khan gaji kita naik juga he…he….he………

    saya juga sama seperti kalian semua, dan juga pernah melaksanakan tugas operasi pemulihan keamanan bersama dengan satuan TNI. tapi ingat keberhasilan kita karena kebersamaan dan kekompakan kita, dan bukan karena kehebatan individu

    jayalah POLISI ku Indonesia

    GATI BASUKI berkata:
    Juni 20, 2009 pukul 1:17 pm

    JOSSS BLOGNYA. KUNJUNGI JUGA DONG BLOG KITA. SEARAJA DI BRIMOB DETASEMEN C MADIUN. BIAR TERUS ADA KOMUNIKASI DENGAN BRIMOB DAERAH.

    sukhoi hitam berkata:
    Juni 25, 2009 pukul 6:32 pm

    Bravo Brimob, semoga jaya n sukses selalu,tnkx,,,

    adla berkata:
    Agustus 7, 2009 pukul 3:08 am

    mas salam tribrata………..
    perkenalkan sya bripda korps airud.
    saya dinas di aceh, saya sependapat dengan mah karsan, pelopor sebaiknya jangan di mekarkan ke daerah2, biar bisa terjaga kualitasnya.
    makasih…….
    ARNAVAT DARPHAMAHE

    Salam TRI BRATA n kenal aja buat mas Adla di Aceh.apa yang mas Adla kemukakan benar bagi saya.karena yang sedikit membikin elite.trims buat mas Adla atas masukannya. POLISI JAYA!!!

    No Name berkata:
    Agustus 7, 2009 pukul 10:56 am

    Brimob…..adalah nama besar yang kita harus tetap kita jaga kebesaranya.dari ujung barat indonesia sampai ujung timur Indonesia yang bergejolak telah kita singgahi dan menjadi aman itu dah pasti.

    Meski Prestasi kita tidak pernah ditongolin di TV karena kurang publikasi itu tak menjadi sakit hati.

    Kita wajib berbangga dengan semua apa yang telah kita capai tetapi semua perlu ingat bangga yang berlebihan akan menimbulkan arogansi.

    Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya jaman kita mengalami transisi dari militer menjadi sipil bukan berarti kita kehilangan jati diri dan kemampuan dasar yang kita miliki.

    siap…betul itu komandan. go polri go !!!

    emul berkata:
    Agustus 14, 2009 pukul 3:30 pm

    Kita Harus Sadar Brimob itu pasukan elite Polri ,kritik selalau ada , semakin nama menjadi besar semakin banyak pandangan sinis,namun itu semua menjadikan Brimob harus tegar dan menerima kritik sebagai masukan, yang penting bagaimana rakyat merasakannya. Dalam wilayah konplik memang kita harus tegas menghadapi lawan yang agresip membahayakan kita,kadang kala anggota Brimob ketika berada wilayah aman , katakanlah di Bogor , ada oknum Beimob yang berprilaku kasar,mabuk,melakukan kekerasan tidak mau diataur,padahal mereka berada di tengah masyarakat yang damai, hal seperti itu masyarakat menganggap Brimob bukan Polisi yang melindungi,mengayomi,membimbing masyarakat,. jadi pesan saya jagalah nama baik Brimob santunlah jika anda berada di daerah aman,jangan disamakan diwilayah konplik.trima kasih,bravo Brimob.

    saya pernah maen ke warung2 deket plaza jambu dua bogor.kebetulan ada kawan yang dagang disana.Dia nanyain,si “anu” masih ada ga pak?terus saya tanya”kenapa?”.Dia jawab lagi klo ternyata si “anu” suka bikin onar diwilayah situ,suka mabuk..dll..dll. (waduh…saya jadi malu juga ngedengernya)Kebetulan orang yang dimaksud udah dipecat,jadi ga terlalu malu^^,..jadi saya dukung pendapat pak Mulyadi agar kita menjadi aparat yang santun.Masyarakat liat seragam n atribut kita udah takut,jd jangan ditakut2in. Tampang boleh sangar,tapi hati kudu lembut…akur ga nih sodara2?

    memet baey berkata:
    Agustus 20, 2009 pukul 11:26 pm

    …kanapa pakaian PDL HIJAU BRIMOB hilang?? malah kemarin gw kepasar ada banyak POLPP pake seragam BRIMOB, EMANG TUKERAN GITU ???

    Gito berkata:
    Agustus 23, 2009 pukul 11:40 am

    Blog ini sangat bagus sekali isinya. bisa saling bertukar informasi dan memberikan pencerahan buat kita semua. jangan dipakai buat tegur sapa secara pribadi. klo cuma bertegur sapa mending pake HP aja.

    Orang2 yang memberikan pendapatnya pun sangat berkualitas. kalo yang memberikan saran gak bermutu gak usah ditanggapin kayak jinimuh itu dan yang melecehkan dari satuan sebelah itu.

    B.Prasetyo berkata:
    September 17, 2009 pukul 6:04 pm

    Saya putra dari seorang Kolonel yang sekaligus Anggota Ex Ranger pi 5994 (Kompi A Batalyon 1232 Menpor) dan mendapatkan Penghargaan Bintang SAKTI, Saya terkesan dengan usaha dari Mas Anton A Styawan, Saya berharap hasil dari usaha Mas Anton bisa menjadi nilai tambah dan pemicu semangat untuk para anggota Brimob sekarang supaya bisa lebih Profesional dan bertanggung jawab dalam menjalani tugas. Saya juga berharap anggota brimob sekarang tidak melupakan Jasa para pendahulu dan bisa menghargai mereka ( sesepuh ), sebab banyak anggota brimob yang belum mengenal atau paling tidak mengetahui atau bertatap muka ( berdialog ) dengan para sesepuh oleh sebab itu saya sangat mendukung usaha Mas Anton.

    Tetap semangat .. tetap berlatih .. untuk para anggota Brimob, tunjukan bahwa Brimob memang pasukan Elit yang Profesional,

    Bravo Ranger…..

    B.Prasetyo.S

    evan berkata:
    September 18, 2009 pukul 11:26 am

    SAYA SALUT DAN BANGGA DENGAN KEMAMPUAN BRIMOB baik MENPOR, RECON, yang ada di Jakarta maupun BRIMOBDA. tetapi saya sangant prihatin dengan kelayakan dan pasilitas yang diperoleh BRIMOB sungguh minim, untuk dijaman sekarang ini BRIMOB hanya dibanggakan dan dipergunakan tenaga dan otaknya saja oleh para petinggi POLRI tetapi mengenai pasilitasnya sungguh jauh memperihatinkan.
    saya berharap semoga para petinggi POLRI untuk segera memberikan fasilitas dan kualitas yang terbaiknya, memberikan pasilitas Asrama yang layak, memberikan pasilitas kendaraan yang baik dan memberikan pasilitas persejataan yang lengkap. buat petinggi POLRI saya sarankan untuk berkunjung ke Kesatuan Lain (TNI) coba saudara lihat. : mulai dari bangunan yang permanen, kendaraan yang terbaru dan layak jalan, persenjataan lengkap dan yang terutama sering melakukan latihan karena persediaan amunisi yang banyak.
    Rumah saya berdekatan dengan kesatuan TNI dan kadang saya sering main ke kesatuan TNI, kadang saya merasa kasihan dengan pasilitas yang ada dikesatuan BRIMOB maupun Polisi Umum coba para petinggi POLRI main ke Detasemen ARMED di Sadang, Batalyon 305 di Karawang, Batalyon 330 Dll. khusunya di Daerah Jawa Barat semuanya pasilitasnya baik dan lengkap dibandingan dengan BRIMOB anggotanya aja banyak yang NGONTRAK karena kurangnya asrama, dan ada BRIMOBDA yang Asramanya masih terbuat dari BILIK sedangkan letaknya kesatuan tersebut dikota maju daerah BANDUNG kasian.
    kalau dibandingkan dengan (mohon MAAF sebelumnya) kandang ayam masih bagusan kandang ayam…….!!!
    dan juga kendaraan sangat MINIM namanya aja BRIGADE MOBIL tetapi kendaraanya odong-odong, dan yang lebih memperihatinkan lagi pasilitas kesehatanya jauh sekali mau sakit parah mau sakit ringan obatnya sama GENERIK kalaupun ada yang bagus harus beli sendiri. dan yang ingin saya tanyakan di struk Gaji ada potongan Asrama sedangkan saya tidak tinggal diASRAMA dikemanakan itu pak ?????????
    kalau bisa nih saya usul untuk kesehatan pasilitasnya seperti PERUSAHAAN lah pak.

    JAYA TERUS BRIMOB, SEMOGA SEMAKIN JAYA DAN DIBERIKAN FASILITAS YANG BAIK untuk BRIMOB dan POLISI UMUM (tidak perlu yang TERBAIK)

    dody rekon berkata:
    September 25, 2009 pukul 4:40 pm

    salam brigade

    salam buat den a kompi 1 sat II pelopor

    dari brimob polda jabar den A kompi 4

    dari tim tawon ……..dibawah pimpinan bpk Rantau isnur eka .SIK

    maju terus resimen I atou Sat II pelopor…………..Brigade

    dody ..ltng 2000

    emul berkata:
    September 28, 2009 pukul 6:52 pm

    Saya agak bingung di jakarta ini banyak petugas keamanan seperti/persis Brimob pakaian biru dongker lengkap dengan atribut dan tegap tinggi tinggi,menjaga perkantoran/Hotel,eh tahu tahu SATPAM ?… gimanan nih …jangan sampai Satpam lebih keren dari Brimob tolong di tertibkan karena setahu saya Satpam adalah dibawah binaan Polri.trim

    nah, itu dia…sebagai anggota, saya juga ga kalah bingungnya pak Mul…kok bisa ya? Yah…mudah-mudahan pimpinan POLRI kita bisa mengambil langkah yang tepat dalam hal ini.

    albert berkata:
    Oktober 6, 2009 pukul 12:14 am

    Buat semua rekan2 SANG PENGEMBARA, maju terus ! ! ! Sy juga keluarga besar BRIMOB, walaupun sy tdk bertugas di Satuan Brimob, tp sya tahu betapa BANGGA nya menjadi salah satu bagian dari BRIMOB ! ! ! Suatu KEBANGGAAN bt saya kalo saya bisa memakai BARET BIRU BRIMOB ! ! !

    Anton A Setyawan berkata:
    Oktober 6, 2009 pukul 12:58 am

    Berikut adalah daftar nama prajurit Brigade Mobil yang tergabung dalam Resimen Pelopor yang mendapatkan Anugerah Bintang Sakti, yang merupakan bintang jasa tertinggi di dalam Angkatan Bersenjata Indonesia karena peran mereka dalam memperebutkan Irian Barat tahun 1962. Pasukan ini dipimpin oleh Ipda Hudaya Sumarya, dan mereka semua terlibat langsung dalam pertempuran frontal dengan Marinir Belanda di wilayah Fak-Fak pada pertengahan Juni 1962. Sayangnya sejarah ini tidak banyak diketahui masyarakat maupun anggota Brimob yunior saat ini. Daftar nama ini saya dapatkan dari hasil riset pustaka saya di PTIK Polri dengan dibantu seorang perwira Angkatan Udara. Nama-nama itu adalah:

    1. Inspektur II Hudaja Sumarja.
    2. Ajun Insopektur II Pranoto
    3. Brigadir Polisi Djuwahir
    4. Brigadir Polisi Suparwan
    5. Brigadir Polisi Harjanto
    6. Brigadir Polisi Soeripno
    7. Ajun Brigadir Polisi Soedarman
    8. Ajun brigadir Polisi Koenajik
    9. Ajun Brigadir Polisi Johaes Tahir
    10. Ajun Brigadir Polisi Jacob Molko
    11. Ajun Brigadir Polisi N.Oentong
    12. Ajun Brigadir Polisi Frans Datuabanua
    13. Ajun Brigadir Polisi Solikin
    14. Ajun Brigadir Polisi I. Supiarta
    15. Ajun Brigadir Polisi S.Wadjad
    16. Ajun Brigadir Polisi M. Sofjan Lubis
    17. Ajun Brigadir Polisi Soepeno
    18. Ajun Brigadir Polisi Ibrahim Kuris
    19. Ajun Brigadir Polisi M.Tahir
    20. Ajun Brigadir Polisi Kamaruddin
    21. Ajun Brigadir Polisi K. Soedarsono
    22. Ajun Brigadir Polisi St. Satam
    23. Ajun Brigadir Polisi M.Juning
    24. Ajun Brigadir Polisi Sarbani
    25. Ajun Brigadir Polisi Machmud Radjak
    26. Ajun Brigadir Polisi M.Jusuf Dahlan
    27. Ajun Brigadir Polisi Kajum Suheman
    28. Ajun Brigadir Polisi A.A.Aidid
    29. Ajun Brigadir Polisi Achmad Chafid
    30. Ajun Brigadir Polisi AH. Nurbuana
    31. Ajun Brigadir Polisi Djuri
    32. Ajun Brigadir Polisi Asrokol
    33. Ajun Brigadri Polisi Kasijo
    34. Ajun Brigadir Polisi B.O.E Tatuhoy
    35. Ajun Brigadir Polisi Abdul Aziz
    36. Ajun Brigadir Polisi Tardjin Sujono
    37. Ajun Brigadir Polisi Sugiman
    38. Ajun Brigadir Polisi Wage Mudjalal
    39. Ajun Brigadir Polisi Djenamin
    40. Ajun Brigadir Polisi Slamet Joko Utomo
    41. Ajun Brigadir Polisi S.Sjamsuhadi
    42. Ajun Brigadir Polisi V. Sutijo Samiadji
    43. Ajun Brigadir Polisi S. Sugito
    44. Ajun Brigadir Polisi Marjono
    45. Ajun Brigadir Polisi Abdul Tolib
    46. Ajun Brigadir Polisi Noor Sjamsul Komar
    47. Ajun Brigadir Polisi Sunarjo
    48. Agen Polisi Klas I Gijo
    49. Agen Polisi Klas I Sutikno
    50. Agen Polisi Klas I M.Natsir
    51. Agen Polisi Klas I Sudjono
    52. Agen Polisi Klas I Daliman

    Semoga perjuangan mereka bisa menjadi inspirasi bagi anggota Brimob saat ini untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

    Anton A Setyawan
    Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 pabelan Kartasura Surakarta
    mobile;08156718444
    e-mail: rmb_anton@yahoo.com

    BP berkata:
    Oktober 8, 2009 pukul 3:23 pm

    To Mas Anton Setyawan

    Saya putra dari Seorang anggota Ex Ranger Kie 5994 (Kompi A batalyon 1232) Brigadir Polisi Hardjanto, Pangkat terakhir Kolonel. Saya mendukung sekali apa yang telah Mas Anton kerjakan.. saya berharap apa yang tlah mas lakukan dapat berguna bagi Generasi penerus Brimob…

    Salam Ranger

    aswan lubis berkata:
    Oktober 9, 2009 pukul 5:23 pm

    saya tinggal di asrama brimob cipinag, salut untuk anggota brimob cipinang terlebih pada thn 1970 an s/d 1980 an anak-anaknya kompak. kami semua berteman baik dan saling membantu, asrama brimob cipinang cukup punya nama pada saat itu. salam untuk anak-anak semua.

      roy berkata:
      Oktober 13, 2012 pukul 5:43 pm

      saya cucu dari Lettu Pol.AMBOTANG…..dulu Almarhum anggota kompi cipinang…..skarang saya dinas di Ditlantas PMJ…..salam kenal om

    prabu kiansantang berkata:
    Oktober 18, 2009 pukul 8:09 am

    sy berpesan kpd seluruh anggota brimob di seluruh nusantara…..kebanggaan anda tetap dipertahankan agar pelaksanaan tugas anda selalu berhasil dengan baik…..jaga kekompakan dan jangan selalu mengeluh dengan keadaan, tetap tabah dan semangat walau makian cercaan hinaan datang silih berganti…………anda tetap dibutuhkan sampai kapanpun juga, jgn saling menjatuhkan sesama baret biru…………bumi kandung anda watukosek itulah tempat kamu berasal, korps brimob tetap exist selalu mendidik prajurit2 keluaran bintara2 umum agar mental mereka terjaga dan selalu semangat…………

    prabu kiansantang berkata:
    Oktober 18, 2009 pukul 8:20 am

    BRAVO RESIMEN I KORPS BRIMOB POLRI-KEDUNG HALANG BOGOR………….KIE 2 BATALYON C/SL , DISIPLIN ADALAH NAFASKU KESETIAAN ADALAH KEBANGGAANKU KEHORMATAN DI ATAS SEGALA-GALANYA…

    MANA SUARAMU YG DULU LAGI
    MANA SEMANGATMU YG KAU TERIAKAN LG…
    KENANGAN YG TAK TERLUPAKAN…
    TETAP TABAH DAN SEMANGAT
    BATALYON C SINGA LODAYA………………………

    CIHUIIIIII……………

    ryo berkata:
    Oktober 19, 2009 pukul 5:39 pm

    Saya ucapkan salam BRIGADE kepada seluruh mantan anggota saya. salam kangen buat semuanya yang pernah bergabung dengan tim DEMIT. Bersama sama satu kompi bertugas di Aceh saat Darurat militer 1. Saya bangga menjadi komandan kalian semuanya. Hormat saya – DEMIT -1

    ryo berkata:
    Oktober 19, 2009 pukul 5:45 pm

    kompi pemburu resimen 2 brimob Kelapa dua

    FTA berkata:
    Oktober 24, 2009 pukul 10:22 pm

    Bang darwin disat 3 pelopor kok lma ga mengudara mudik medan ye??? BRIMOB pasti jaya…..brigade

    Yuday berkata:
    Oktober 25, 2009 pukul 7:49 pm

    Pak anton Tlg dong sy mau tau sejarahnya MenPor diSaat PEPERA, karna sy jg Anak dr seorang MENPOR yg brTugas saat PEPERA & Ayah sy brikut Rekan2ya jg prnah diTawan oleh Pasukan dr Australia & diBawa ke Melborn Australia, yg kala itu sdg mlakukan pngejar an trhadap yg diDuga Penyusup diWilayah yg skr mnjadi Freeport,pada pngejaran itu Ayah sy & rekan2ny smp mlewati Prbatasan & akhirnya diTawan & diBawa keMelborn Australia, smp Akhirnya trsiar kabar bahwa pasukan RANJERS indonesia diTawan diAustralia.
    Mhn Pnjelasanya pak, Trims..

      Anton A Setyawan berkata:
      Desember 5, 2009 pukul 10:45 am

      Sampai saat ini riset saya malah belum menemukan peristiwa itu, kemarin ada beberapa narasumber yang bercerita tentang Operasi khusus yang dilakukan Menpor tahun 1969 dengan penerjunan bersama dengan anggota Kopassus untuk mengejar gerombolan pemberontak Mayor (Tituler) Lodewijk Mandatjan, cuma saya belum bisa mengkonfirmasi, apakah ayah anda masih sehat? jika ya apakah ada kemungkinan untuk diinterview? silakan kontak saya di alamat e-mail rmb_anton@yahoo.com atau no hp 08156718444, terima kasih.

    fta berkata:
    Oktober 26, 2009 pukul 11:58 am

    salam kenal bwt rekan2 baret biru seindonesia..brimob makin jaya,suskses

    sarwo berkata:
    Oktober 27, 2009 pukul 12:16 am

    tpi klo do bandingkan sm KOPASSUS kira2 klah jauh x ya…
    apalagi mereka punya 3 grup…

      yogi berkata:
      Agustus 29, 2012 pukul 12:09 am

      ya pasti bagus kopasusu dari segala taktik dan fisik indivvidunya …

    hakimpatriot berkata:
    Oktober 28, 2009 pukul 9:43 am

    Ya,,,BRIMOB harus tetap ada dan Jaya….
    bila saya membaca dari awal hingga akhir semuanya menulis dengan semngat juang yang tinggi,BRIMOB menjadi semngat saya dalam bekerja untuk membela Nusa dan Bangsa…Melalui Polri saya mengabdi pada Ibu Pertiwi.

    Dedi berkata:
    November 3, 2009 pukul 1:14 pm

    Saya sangat prihatin dengan kondisi citra polri saat ini yang mana ada seorang perwira tinggi Polri dari Bareskrim yang terlibat Kriminal dan menyalahgunakan kekuasaan lewat institusi Polri.

    Padahal sebelumnya citra Polri sudah mulai membaik dengan keberhasilan Brimob dalam hal ini Densus 88 yang telah berhasil menutaskan kasus teror di indonesia dan diakui oleh international.

    Saya kuatir rakyat indonesia akan tetap memandang Polri ini sebagai korps yang paling buruk diindonesia dan ini bisa diibaratkan karena nila maka rusaklah susu sebelanga.

    Lucunya si Komjen Iblis keparat ini dibela habis2n oleh Kapolri yang bisa mengorbankan Perahu Besar Polri.

    Seharusnya Si Komjen ini yang ditahan dikelapa dua, diikat dibawah pohon pisang dibelakang asrama dengan memakai celana KOLOR ijo.

    Gimana anggota Brimob? setuju kagak? kalau gak setuju kalian bermental sama seperti Komjen gilaaa ini…. kami rakyat sudah muak dengan permainan bodoh ini.

    Boy berkata:
    Desember 25, 2009 pukul 11:50 am

    Hidup POLISI INDONESIA…. Tetap Jaya dan Kaya..

    Dimas berkata:
    Desember 25, 2009 pukul 11:55 am

    Brimob tu pasukan elite di indonesia yang sdh tidak diragukan kemampuan dan keberhasilannya jg kita wajib bangga mempunyai pasukan seperti BRIMOB.. Maju terus pentang mundur.. Salam BRIGADE…!!!

    dodytape responded:
    Desember 29, 2009 pukul 1:56 pm

    mohon maaf apabila ga pernah nongol di blog ini…dikarenakan padatnya jadwal manggung brimob.mulai dari siaga banjir,ops.lilin, pam DPR/MPR,sampai ke mengunjungi rumah calon mertua(*loh…)
    disamping itu gencarnya sorotan maupun kritikan yang dialamatkan kepada POLRI..membuat penulis jadi parno…dikhawatirkan tulisan2 maupun pikiran2 saya mendapat pemahaman dari sudut pandang yg berbeda dan menjadi salah tafsir.
    menyepi dulu dari dunia perngeblog-an adalah mungkin yg terbijak.

    Hariyanto berkata:
    Januari 7, 2010 pukul 12:36 pm

    MAKAN TUH KEBANGGAAN KAWAN…….

    SELAMAT MENJADI YANG TERBAIK……

    BRIGADE MOBIL IS THE BEST….BAGI SUKA NYEMIR!!!!! ALIAS CARI MUKA DAN YANG PUNYA LINK KE ATAS……

    MAU PELOPOR KEK RANGER KEK GEGANA KEK…..

    YANG PENTING KERJA SECARA IKHLAS DAN MENJALANKAN SECARA BERTANGGUNG JAWAB TITIK.

    SOAL BERHASIL ATAU TIDAK BIARLAH MASYARAKAT YANG MENILAI!!!!!!!!!

    Hariyanto berkata:
    Januari 7, 2010 pukul 12:49 pm

    SAYA TAMBAHKAN LAGI DASAR APA MENGATAKAN KOMJEN KEPARAT??????????

    SAYA TAU MAKSUD ANDA DI TUJUKAN KEPADA SIAPA!!!!!!

    UDAH PUNYA BUKTI????? JANGAN ASAL NGELIAT MEDIA BAIK ELEKTRONIK MAUPUN CETAK SEHINGGA LANGSUNG MENCAP SEPERTI ITU?????

    ANDA TAU KAN BEKERJA DI MANA SEBAGAI APA???? LIHAT DULU SEKELILINGMU ATAU DIRIMU SENDIRI…..BARU MEMAKI SEPERTI ITU

    “Gimana anggota Brimob? setuju kagak? kalau gak setuju kalian bermental sama seperti Komjen gilaaa ini…. kami rakyat sudah muak dengan permainan bodoh ini.”

    SAYA TIDAK SETUJU!!!!!!!!

    YANG GILA KAMUUUUUUUU

    antonius berkata:
    Januari 18, 2010 pukul 10:20 pm

    aku bangga padamu brimod sang macan indonesia….maju terus …tingkatkan kemampuan dan keandalanmu dengan belajar dari masa lalumu demi tugas dan tanggung jawabmu

      yogi berkata:
      Agustus 29, 2012 pukul 12:17 am

      macan itu kopasus sama marinir ..terima kasih

    mardiyono raharjo berkata:
    Januari 20, 2010 pukul 12:53 am

    saya mau bertanya apakah sekarang satuan buser atau buru sergap polri masih ada dan baretnya apa?
    dari mardiyono raharjo.
    sepengetahuan saya, tim buru sergap dibawahi oleh satuan reserse n kriminal. mengenai baret,hanya pasukan yg mengenakan baret.yakni samapta polri(including brimob,dan polairud).bagi rekan2 yg dari fungsi reserse yg mgkin sambang ke blog ini,silahkan dibantu pak Mardiyononya….monggoo….

      boss berkata:
      Maret 18, 2012 pukul 8:37 am

      reserse sejak tahun 2005 tidak pakai baret merah marun lagi…dan skrg pakaian dinas reserse hanya kemeja dan safari..dikarenakan takutnya jika pakaian dinas maysrakat jd takut memberikan keterangan..(biar ng serem) hehehe …tapi berharapnya…kalo bisa moment2 tertentu bisa berbaret seperti dulu..

    Brimobpelopor berkata:
    Februari 14, 2010 pukul 1:46 pm

    Anjing kamu Jinimuh, monyet buruk muka!!! Tidak tahu apa-apa tapi sok menghujat dan ngomong sembarangan. Kamu juga, Fighter! Kamu tahu apa? memangnya siapa kamu?

    pyan_insight berkata:
    Februari 24, 2010 pukul 10:35 pm

    satukan rasa perjuangan kita….. untuk menuju indonesia yang aman dan damai,,,,

    Dave berkata:
    Februari 28, 2010 pukul 7:34 pm

    Dear Mas Anton,

    Apa kabar Mas? gimana dengan bukunya Mas, apa sudah jadi?

    Dari penerima bintang sakti dari anggota menpor yang masuk Rumbati fakfak waktu trikora rasanya saya kenal dgn namanya Pak Suripno. tahun 1989 saya pernah ketemu Beliau di Polda Irian jaya dan Beliau Waktu itu menjabat sebagai Asrena.

    Kalau tidak salah Beliau juga menjadi komandan Tim dari Menpor yang dipindahkan ke Irbar untuk memperkuat resimen XII Irbar yang baru terbentuk.

    Oh yaa…. Kenapa anggota Densus 88 tidak diberi bintang sakti juga karena mereka telah sukses membasmi terorisme diindonesia sama seperti Kopasandha menuntaskan teror Don muang. tentunya Operasi Densus ini merupakan operasi anti teror paling sukses dijagat ini dengan pola operasi yang berbeda dgn satuan2 lain.

    Saya juga sudah membaca tulisan Mas Anton di majalah commando edisi February 2010 dan cukup bagus tapi masih kurang lengkap. saya pikir operasi Brimob di timika dengan tewasnya Kelly kwalik dan operasi2 Gegana dan Sat Pelopor sebagai kontibutor terhadap Densus 88 bisa juga bisa diulas dimajalah tersebut.

    Salam,

    Dave

    romeo berkata:
    Maret 2, 2010 pukul 5:36 pm

    bravo buat mas anton.
    Tulisan anda telah membuka mata bahwa ad peran yg signifikan korps bm dlm perkembangan negara kita, sejarah yg dulu ditutup-tutupi atau diakui.

    Catatan utk bahan penulisan berikutnya:
    1. Mas Anton mungkin bisa menggali pengalaman pak karsan waktu di kalimantan atw daerah lainnya. Mungkin tinggal beliau satu2ny yg dpt menceritakan penglaman2 ny yg classified
    2. Untuk studi dokumentasi atw literatur, bisa dicoba perpustakaan di korps bm. Yg sekarang tempatnya d bekas kompi sat bm metro. Anda dpt menemukan foto2 yg blum pernah terekspos sebelumnya
    3.Coba perhatikan dokumenter pemakaman anggota KKO usman harun akibat konfrontasi dg malaysia ( singapur blm merdeka waktu itu). Pada kedua jenazah diangkat dari gedung dephan menuju kendaraan, kalo diperhatikan dgn baik akan terlihat menggotong peti jenazah hanya ad anggota kko dan menpor ( pdl menpor ) yg menganggkat peti. Ini cukup menarik krn kita ketahui krn ad banyak satuan terlibat dlm konfrontasi dg malay. Mungkin 2 satuan tsbt paling banyak menderita dlm perang yg sebenarnya adlh perang “setengah hati”. Mungkin hanya satuan2 tertentu sj yg melaksanakan dgn sepenuh hati. Dan ini d refleksikan pada waktu pemakanan ke 2 pers KKO

    Salammm Brigade

    romeo berkata:
    Maret 2, 2010 pukul 5:38 pm

    Tulisan mas Anton yg dimaksud adalah yg dimuat di majalah COMMANDO Edisi 1 Th. VI 2010

    Anton A Setyawan berkata:
    Maret 8, 2010 pukul 12:48 pm

    Beberapa versi pendek riset saya tentang Brimob dan Resimen Pelopor sudah dimuat di Majalah COMMANDO edisi Maret 2010. Tulisan itu semoga bisa menjadi obat penunggu versi panjang dalam buku yang sampai saat ini masih dalam proses penulisan.

    Anton A Setyawan,SE,MSi
    Univ Muhammadiyah Surakarta
    e-mail: rmb_anton@yahoo.com

    Anton A Setyawan berkata:
    Maret 11, 2010 pukul 2:39 pm

    Terima kasih utk responnya,

    Utk Mas Dave:
    Betul pak Soeripno adalah komandan tim kontigen Brimob yang dikirim ke Irian Jaya pasca Pepera, pada waktu infiltrasi ke Fak-Fak beliau memang berperan sebagai dantim bersama dengan Kombes Purn Harjanto.
    Mengapa anggota Densus 88 tidak diberi Bintang Sakti? setahu saya Bintang Sakti diberikan pada anggota militer dan bintang ini selevel dengan Distingusihed Service Medal AB Amerika Serikat. Saat ini Polri bukan lagi bagian dari Angkatan Bersenjata sehingga mungkin dianggap tidak berhak atas bintang tersebut, namun demikian sukarelawan yang mendapat Bintang Sakti dalam operasi Trikora ada juga yang orang sipil, misalnya Muhammad Tahir Bauw yang merupakan kepala suku di Rumbati. Saya tidak tahu persis bagaimana proses Dephan dalam memberikan bintang jasa. Sebagai catatan, para mantan Pelopor yang terlibat dalam operasi Trikora malah tidak begitu peduli dengan bintang jasa mereka, mereka hanya menganggap itu sudah bagian dari pilihan pekerjaan.
    Tentang operasi Brimob sekarang, mohon maaf saya tidak punya cukup referensi ataupun bahan untuk menulis itu, mungkin beberapa Operasi masih dianggap rahasia sehingga para nara sumber tidak bersedia memberikan jawaban yang lengkap.
    Utk Mas Romeo:
    1. Betul mas, Pak Karsan adalah salah satu saksi yang masih hidup dan bisa bercerita secara lengkap. Namun demikian, hasil penelusuran saya yang dibantu seorang perwira intelijen TNI AU yang juga putra mantan Menpor berhasil mendapatkan 7 orang narasumber yang bisa bercerita detail mulai proses pendidikan Ranger sampai dengan Operasi terakhir mereka di Sulawesi Selatan dan Malaysia pada tahun 1965. Operasi Seroja sudah bukan lagi Resimen Pelopor karena satuan ini sudah dibubarkan.
    2. Kami sudah melakukan penelusuran di perpus Brimob Kelapa Dua dan saat ini foto-foto lama dari perpus Brimob sedang dalam proses repro oleh co-writer saya.
    3. Berdasarkan penelusuran kami, memang benar bahwa korban terbanyak dalam Operasi Dwikora adalah Brimob (Pelopor) dan Marinir (KKO), salah seorang mantan intel Pelopor dalam operasi itu menyatakan ada kebocoran informasi dari salah satu satuan, dan agen ganda ini berpangkat Kolonel AD. Hal ini menjadi penyebab banyaknya korban dari pihak Indonesia.
    4. Dalam penelusuran kami juga terjawab apa sebenarnya yang terjadi dalam Minggu Palma tahun 1976. Secara ringkas bisa saya jelaskan bahwa ada kesalahan prosedural dari Mabes ABRI dalam penugasan Brimob yang akibatnya fatal. Kombes Ibnu Hajar Adikara menjadi kambing hitam kejadian ini karena ia yang menjadi Komandan Batalion Teratai. Batalion ini adalah anggota Brimob yang baru direkrut untuk kepentingan mengatasi huru-hara, namun mereka tiba-tiba ditugaskan menghadang pasukan Fretelin yang mundur dari arah Bobonaro. Pasukan yang tidak mempunyai kualifikasi tempur harus berhadapan dengan Tropaz yang kebanyakan adalah veteran perang di Angola Afrika. Detail kejadian ini ada di buku kami. Hanya kami sedang berdiskusi apakah perlu membuka lebar kejadian ini, karena dampaknya bisa jadi akan membuka “borok” beberapa petinggi militer dan sipil di Indonesia dan mereka saat ini masih hidup.

    Salam,

    Anton A Setyawan

    Darno. Ex.Yon 32 Para sukasari berkata:
    Maret 17, 2010 pukul 1:39 pm

    Saya agak terkejut meliat operasi brimob Polda aceh tanggal 4 maret 2010 terhadap teroris dihutan aceh besar yang mengakibatkan 3 orang brimob tewas dan sebelas terluka. dari gerakan tempur yang dilakukan ada kesalahan fatal disana ketika masuk medan yang telah dikuasai oleh pihak musuh. melihat hal ini kelihatan tidak profesional seperti

    1.Saya tidak melihat ada dukungan tembakan senapan mesin dan pergerakan sniper untuk menjatuhkan mental musuh yang menguasai medan sebelum pasukan yang lebih besar masuk untuk mengejar para teroris. kalau dilihat dari pergerakan anggota brimob dari TV one masih agak deket dengan jalan raya. kenapa panser yang dilengkapi senapan mesin tidak digunakan untuk menembak?

    2. Anggota brimob sama sekali tidak memakai pelindung seperti helm baja, rompi anti peluru atau alat penglihatan malam untuk mengejar musuh? semua itu dibeli untuk dipakai dalam operasi dan bukan buat gagahan waktu upacara.

    3. Penggunaan PDL pun salah. sudah tahu operasi dihutan tropis dan padang rumput hijau kenapa tidak menggunakan seragam PDL hijau? PDL hitam dan Coklat sangat tidak cocok untuk operasi hutan. Pakaian coklat itu mending dipakai kalau menghadapi PHH saja dan tidak usah dipakai sebagai seragam kebanggaan.

    3.siapapun yang menjadi komandan kompi atau pun komandan batalion harus bertanggung jawab
    untuk operasi ini. apalagi setelah itu pasukan ditarik dari situ dan dipindah ke lain tempat.

    4. yang namanya pasukan tempur tidak mengenal medan telah dikuasai musuh, justru disitulah kita harus menguasai medan tsb dan melumpuhkan musuh. Benar apa yang dikatakan oleh Pak Karsan dan Pak Marno kalau mereka masih meragukan kemampuan tempur Brimob dihutan belantara.

    Saya secara pribadi sangat tidak suka dengan reformasi yang dilakukan terhadap Brimob seperti saat ini. yang perlu reformasi adalah Polisi umum yang kerjaannya menjadi Pencuri, tukang palak dan pengemis yang nyusahin rakyat. sedang brimob harus ditingkatkan kualitasnya seiring dengan perkembangan Jaman.

    erwinsyah berkata:
    Maret 25, 2010 pukul 8:55 pm

    ayo..
    semua pasukan brigade mobil jgn mw kalah ama teroris..
    kita yang no 1..
    tujukin pd smw pasukan di indonesia,satuan-satuan samping klu kita lah no 1…
    jaya brigade….

    LAFAEK berkata:
    April 25, 2010 pukul 12:18 am

    SALAM KENAL UNTUK MAS ANTON, SAYA SANGAT MENDUKUNG APA YG TELAH DIBUAT SELAMAT SEMOGA CEPAT SELESAI DITUNGGU…

    LAFAEK berkata:
    April 25, 2010 pukul 2:32 am

    lafaek lagi…….
    saya baru ketemu dgn blok ini (maklum orang udik)dan sangat tertarik untuk berkomentar ( yang Positif aja) dan ikut menyumbang beberapa hal yang saya tau….
    kalau kita membahas tentang sejarah Brimob tidak lepas dari sejarah berdirinya Pusdik Brimob yg berdasarkan surat keputusan perdana menteri RI tgl.28 Januari 1954 no.pol.20/15/54/PM. Yg merupakan pusat pendidikan Mobile Brigade yg sebelumnya dilaksanakan di SPN Sukabumi dan didaerah – daerah, Walaupun secara de jure Brimob berdiri pada tgl.14 Nov 1946 berdasarkan Surat kepala muda kepolisian No.Pol.12/78/91 kok kurang dibahas.
    kalau kita bicara tentang berdirinya Ranger / Pelopor maka awalnya adalah dimulai dari Pusdik Brimob berdasarkan perintah kepala kepolisian untuk membentuk suatu satuan kecil khusus yg berkemampuan tinggi, hal ini dikarenakan banyaknya anggota Brimob yg menjadi korban dalam setiap operasi penumpasan pemberontakan dalam negeri.
    Persiapan dimulai dari tahun 1951 s/d 1956 diawali dgn mengirimkan para instruktur SPMB ke Jepang ( Okinawa ) dan Filipina serta Honolulu ( HAwai ) untuk melaksanakan Pendidikan diantaranya :
    IP Tk.1 Sutrasno, Anwas Tanujaya, AIP.Tk.1 Andi Tanujaya, IP.Tk.1 Sukari, K.E.Loemy dll thn.1955 s/d 1956. Pendidikan Uji Coba Ranger Indonesia Angk,1 dimulai Tgl.20 Oktober 1956 diikuti oleh 15 org diantaranya : Ap.II Syakir, M Celceus Sukisman, Bejo Rahayu, M Ali Rifai, Sukamto dll. sekaligus menandakan lahirnya Ranger Indonesia. Pendidikan Ranger 1 dimulai bulan Mei tahun 1959 selama3,5 bln, sehingga berdirilah Kompi Ranger 5994 yg dipimpin oleh AKP. K E LOEMY dan lansung diterjunkan dalam Test Mission pertama pada operasi Penumpasan DI/TII Jawa Barat dan Pemberontakan PRRI di Bengkulu. Dalam tahun 1959 Pendidikan Ranger 2 dan 3 juga berlangsung hingga akhir tahun 1959 telah terbentuk 2 Kompi Ranger lg yaitu : Ki 5995 dgn Danki AKP. Anton Sujarwo dan Ki.5996 dgn Danki AKP> Saim yg kemudian diganti AKP. Hudaya Sumarya.
    sedangkan Kepala sekolah Kecabangan Pendidikan Ranger yg Pertama yaitu : AKP. R. Soetrasno dan Wakilnya IP.Tk2 Andi Abdurrachman. Kepala Sekolah pelopor yg Terakhir kalau tidak salah. AKP Miswan.
    Pendidikan Ranger IV dilakukan tahun 1960, Ranger V Thn.1961 dan Ranger VI thn.1961. Sedangkan mulai tahun 1962 sudah menjadi pendidikan Pelopor diawali Dik. Pelopor 1 s/d 8 thn 1968 dilakukan di Watukosek, Selanjutnya Pendidikan Pelopor dipindah dan ditangani langsung oleh Resimen Pelopor di Jakarta, hingga pelopor “dibubarkan”
    kalau dilihat dari Materi Pendidikan Ranger / Pelopor memang sangat luar biasa…… 100% sama dgn Materi 75th. Ranger Regiment US. beberapa materi diantaranya adalah PJD atau sekarang dikenal dengan CQC, Teknik Bekas = Sanjak, Trap / Jebakan, teknik satuan kecil dll, yang didukung dengan peralatan yg paling modern pada saat itu Mis: senjata AR15, AK47,RPG, Mariam 60mm,80mm,hingga 120mm, Rantis Lapis Baja, Kompi Para, Kompi Hub. Senjata Mesin mulai Mk3, RC, hingga M50.
    kebetulan saya pernah berkumpul bersama beberapa Ranger & Pelopor yg sdh pada Purna dan mendengar cerita Beliau diantaranya Bpk.Mayor Purn. AH Nur Buana, Letkol.Pur.Miswan, Letkol.Pol.Maliki, Kapten.Pol.Purn (Alm).Marmo Siswoyo,Kapten.Pol Purn. Nasripan.Peltu.Pol.Purn.Dhono,Kapten Pol Purn.Manggoli dan Peltu.Purn. Pranoto,dll.

    Sejarah Pembentukan Pelopor ” Generasi II ”

    Didasarkan pada Sprin.KAPOLRI No.Pol.Sprin/3055/X/tgl.2 oktober 1997 ttg Lat.Kualifikasi Pelopor. Dari 173 anggota Demlat Pusdik Brimob yg diseleksi selama 2 minggu yg dinyatakan lulus hanya 48 org yg berhak mengikuti pendidikan Instruktur Pelopor yg dibuka tgl.17 okt 1997 oleh WAKAPOLRI Letjen.Pol.Drs.Lutfi Dahlan dan dilatih oleh para mantan2 Instruktur Ranger dan Pelopor yg berlansung selama 4,5 Bln dan dilanjutkan dgn Latihan Terjun Para Dasar 1Bln. Ini lah yg menjadi cikal bakal tonggak munculnya kembali Resimen Pelopor hingga sekarang dengan ditandai dikeluarkannya kembali Duaja Resimen WAJRACENA yg telah tersimpan 20 thn lebih pada tgl 30 Nov 1997 pukul.08.00 wib untuk disucikan dan dibawa kembali ke Jakarta.
    dan hinnga sekarang PELOPOR Telah menjadi bagian kembali dalam Tubuh POLRI Khususnya Brimob.

    ada beberapa pertanyaan saya kepada Mas Anton yg mungkin Bisa membantu atau Teman2 lainnya yg Pecinta Brimob/Pelopor…….PELOPOR itu sekarang ini adalah merupakan suatu Kesatuan atau suatu Kemampuan..? Karena kalau Pelopor itu Kesatuan maka tdk Harus semua anggotanya Wajib Berkualifikasi, Namun Sebaliknya Jika Pelopor itu Kemampuan maka anggota Polri mana saja dapat mengikuti Tes untuk menjadi Pelopor dan setiap org di satuan itu Wajib telah Mengikuti Pendidikan Pelopor…ATAU Gimana….Ada Pendapat lain Maaf kalau saya salah..?

    untuk sementara itu dulu mungkin mas Anton juga sudah Punya Datanya, hanya sekedar mencoba membantu….LAFAEK – MAKIKIT – SAKUNAR…….VIVA PELOPOR… ;-) ….

    terimakasih atas sumbangsihnya mas Lafaek,semoga informasi yang diberikan menjadi manfaat bagi generasi Brimob yang akan datang

    AMRIN berkata:
    Mei 6, 2010 pukul 9:20 pm

    salam brigade buat MOBRIG seluruh indonesia tercinta, salam juga buat mas dody dan mas anton, saya dari resmob surabaya

    waalaikumussalam buat Mas Amrin di Surabaya….

    Romeo berkata:
    Mei 8, 2010 pukul 10:48 am

    buat mas anton:

    Saya dukung untuk tulisan tentang “minggu palma” dipublikasikan. Lintasan sejarah yg kelam akan menjadi lebih bermakna bagi generasi muda brimob untuk mempelajari apa yg salah pada waktu lalu dan dikemudian hari dgn latihan yg baik, semangat , dan informasi dr masa lalu, korps brimob dpt meraih kembali masa-masa jaya seperti pada saat negara ini baru berdiri

    Hanya dengan melalui forum-forum yg informal seperti ini apa yg tidak boleh diketahui dapat diketahui. Saran saya tulisan tersebut dpt d akses d dunia maya. Karena kalau akan dibawa ke forum resmi nampakny akan menghadapi masalah struktural, berkaitan dgn isu-isu sensitif.

    Bravo Korps Brimob

    Romeo berkata:
    Mei 8, 2010 pukul 11:13 am

    @ Darno x sukasari

    saya setuju dan tulisan bpk benar sekali. Nampakny pak darno punya pnglmn tempur, sehingga dgn skali melihat tyngn tv onelangsung mengerti bhw ad yg salah dan itu menjelaskan knpa “raid” yg dilakukan gagal bahkan sebelum mampu mendekati sasaran

    mungkin ad baikny perlu dibentuk kembali satuan khusus sebagai unsur pemukul menghadapi situasi khusus seperti contoh kasus diatas. konsep pasukan ini tentu diluar dari wanteror, crt, ata. Mereka dipersipkan utk melawan musuh yg punya keahlian teror dan gerilya dan mampu beroperasi secara independen dan dalam waktu yg lama. Pasukan ini dpt diseleksi dr sat 2 atw sat 3 mengingat secara nature di satuan ini banyak prajurit-prajurit yg punya pengalaman tempur model diatas. singkat cerita mrk punya kemampuan coin dan urban warfare yg seimbang. Kemampuan ini diperlukan krn seperti kita ketahui lawan yg dihadapi mempunyai kemampuan teror dan gerilya. Mungkin dlm urban warfare lawan yg d hadapi mempunyai sedikit kemampuan dan pengalaman. Sehingga banyak mrk pada waktu d tangkap terkesan tdk melawan. Namun ketika d aceh mereka membuktikan mereka punya kemampuan tempur jauh lebih baik dr pd aparat kita. Dngn persnjataan jauh lebih sedikit mereka mampu menimbulkan korban yg maksimal dipihak aparat.
    Kita harus belajar dr kegagalan

    Bravo Korps Brimob

    Lovers Brimob berkata:
    Mei 11, 2010 pukul 7:33 am

    SUDAH SUSAH MENDAPATKAN BRIMOB YANG BERDEDIKASI SEPERTI SEKARANG INI, TIDAK SEPERTI DAHULU. KALAU DULU PEMIMPIN BRIMOB MEMANG BERASAL DARI BRIMOB, TAPI SEKARANG DARI DINAS UMUM YANG KARENA TIDAK MEMILIKI JABATAN DI POLISI UMUM, AKHIRNYA KASAK KUSUK KARENA PANGKATNYA MENUNJANG UNTUK MEMIMPIN, AKHIRNYA MEMIMPIN DI KESATUAN2 BRIMOB….ITULAH YANG MENJADI SUMBER TUMPULNYA KEMAMPUAN BRIMOB.

    Darno berkata:
    Mei 16, 2010 pukul 7:55 pm

    YTH Pak Romeo,

    Saya kira Satuan Pelopor baik yang ada dikelapa dua maupun di Kedung halang bisa ditingkatkan kemampuannya seperti yang Bapak katakan diatas karena memang spesialisasi satuan Pelopor bermain untuk Perang Hutan dan laut. mampu beroperasi dalam unit kecil tetapi efektif dan mematikan.

    Saya masih melihat adanya kekurangan Brimob utk perang hutan (Jungle warfare). padahal diindonesia setiap gerakan bersenjata dari gerombolan selalu beraksi dan lari ke hutan ( hit and run )

    ide Pak Karsan agar Pelopor hanya ada ditingkat pusat dengan membangun 3 resimen pelopor ( BS) memang harus dilakukan.

    kejadian di aceh itu jangan sampai terulang kembali karena teroris kemarin itu hanya kelas Kecoa aja dan ini sangat memalukan.

    Kalau anda tahu bagaimana Kompi C, D dan E dari resimen pelopor membabat SAS dikalimantan pasti anda Kagum sekali. bagaimana persiapan mereka membakar kilang2x minyak punya Malaysia, menetralisir penembak2x mortir dari inggris, memotong logistik lawan dll. mereka sangat berani menusuk langsung kejantung pertahanan lawan dengn kemampuan diatas pasukan lain pada waktu itu. Saking keteternya Inggris, mereka membawa anjing2x pelacak untuk mendeteksi anggota Menpor pada waktu itu.

    Saya secara pribadi kagum sama orang seperti Pak Karsan diatas dan semua anggota Menpor meski untuk Dik jur Para kita yang melatih mereka.

    Mael berkata:
    Mei 20, 2010 pukul 11:09 am

    Pak Darno,

    Memang kita banyak kekurangan, seperti pelatihan, persenjataan, sarana latihan dll.

    jadi nggak heran brimob sekarang seperti ini.

    silence berkata:
    Mei 21, 2010 pukul 1:01 pm

    kenapa tni selalu menyerang markas brimob tapi ga pernah brimob membalas, apa brimob takut,…

    bambang yw,Sik berkata:
    Mei 31, 2010 pukul 12:40 pm

    MEN I/SAT II PELOPOR,SATUAN YANG PENUH DEDIKASI DAN LOYALITAS TERHADAP SETIAP TUGAS YANG DI BERIKAN NEGARA
    TETAP TABAH DAN SEMANGAT

    salam BRIGADE buat rekan-rekan sat 2 pelopor

    AKP Bambang yw,sik
    Danki 4 Pelopor sat brimobda NTB

      dodytape responded:
      Juni 15, 2010 pukul 2:09 am

      BRIGADE Komndan…,wah,jumpa disini kita Ndan. saya mw mengucapkan banyak terimakasih …karena atas perintah komandan untuk ikut seleksi fpu 1 kemaren,sy bisa tergabung dalam satgas fpu…

    Anton A Setyawan berkata:
    Juni 1, 2010 pukul 11:59 am

    To Mas Romeo dan Pak Darno

    Dalam waktu dekat akan saya publikasikan transkrip sementara tentang peristiwa Minggu Palma dan Keterlibatan Brimob/Pelopor dalam Operasi Seroja tahun 1975.
    Mohon ditunggu karena masih dalam proses penulisan. Saya akan mempublikasikan pertama di blog ini karena disini banyak anggota Brimob yang berkompeten untuk memberikan komentar atas peristiwa itu.

    Hormat saya,

    Anton A Setyawan
    Univ Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura

    Juliet berkata:
    Juni 5, 2010 pukul 6:46 pm

    Hallo Romeo ku,

    Tolong dikau jadi moderator untuk diskusi di blog ini yaa.

    blog yang sangat berkualitas.

    salam manies,

    Juliet mu

    dodytape responded:
    Juni 15, 2010 pukul 2:17 am

    INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN….,
    telah berpulang ke RahmaTullah sebagai pahlawan bangsa..rekan kami,senior kami..(Alm)BRIPTU HENDRA,leting 34 dalam menjalankan tugas di PAPUA. Semoga Allah menerima segala amal ibadahnya..”Selamat jalan Bang…”

    HudaRegaga berkata:
    Juni 24, 2010 pukul 10:29 am

    Assalamu ‘alaikum wr. wb. salam Brigade….walau langkahku telah jauh dari Resimen I, tapi detak jantungku masih berdetak di jalanan kedunghalang… salam ya dik buat rekan semua, akan kami suguhkan kepada Korps Brimob calon-calon Perwira Brimob dari Akpol yang akan memimpin dimasa yang akan datang, BRIGADE…

      dodytape responded:
      Oktober 16, 2011 pukul 2:17 pm

      InsyaAllah komandan…(maaf baru nulis balasannya Ndan,,silap mata nih Ndan..)

    Brimob Reformis berkata:
    Juli 2, 2010 pukul 4:09 am

    “Brimob telah menjalankan tugas2 dengan baik..
    walhasil mendapat citra baik….
    Akan tetapi institusi POLRI selalu tercoreng oleh oknum-oknum POLRI, terutama POLISI UMUM.

    Pernah pada suatu ketika saya berbicara di Rumah Makan pinggir jalan, seseorang tua berkata kepada temannya :
    “Wesss, Parah POLISI…
    orang sudah dapat musibah malah Di Perasss….!”
    (Ternyata Bapak itu baru dr kantor polisi, bermaksud mengambil motor anak perempuannya yg tertabrak)

    Bapak itu berkata “Disuruh menyerahkan sejumlah uang, dengan alasan buta proses…”

    Dari kisah kecil diatas menggambarkan bahwa sebaik-baiknya Brimob menjalankan tugas, mudah terhapus dan tercoreng oleh Polisi Umum yg menurut “Bapak” tadi Polisi tidak berfihak pada masyarakat.

    Malah terlintas di akhir obrolan “Tidak seperti satuan anu’.. yang baik dan pengertian pada masyarakat.

    Ironis bukan….???

    LAFAEK berkata:
    Juli 6, 2010 pukul 9:41 pm

    Yth…Sdr Brimob Reformis…..

    Saya setuju dengan pendapat anda tentang Anggota Brimob yg telah melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga membuat citra POLRI baik…..
    Dan masih ada beberapa Oknum Polisi Umum yang melakukan perbuatan tidak baik yg merusak citra Polri……….
    Ah…saya rasa ada juga kok beberapa Oknum Brimob yang berbuat perbuatan yang kurang terpuji sehingga merusak citra Polri Juga…..
    Saya rasa kita sama2 tau lah bagaimana situasi kita masing2…..Ayo mulailah dari sekarang kita mereformasi diri kita sendiri untuk tidak berbuat seperti itu……….Setuju…..kemudian kita mengajak teman2 kita untuk tidak berbuat seperti itu……Bagaimana kalau bapak yang mengeluh tadi adalah bapak kita sendiri…..atau saudara kita…?Kan lebih Ironis lagi…..Anaknya Polisi ( BrimoB ) diperas ama Polisi juga…..( Polisi Umum )….Kalau itu saya alami sendiri bukan kisah orang lain…..Heheheheee,..
    Ayolah mulai sekarang kita menjadi Pelayan masyarakat yang baik………bagaimana…?

    Anak asrama berkata:
    Juli 13, 2010 pukul 11:14 am

    Buat Lafaek dan Pak Brimob reformis,

    itu yang disebut jika anda kehilangan ayam dan melapor kepada Polisi, maka anda harus siap2 kehilangan kerbau dan seisi rumahmu.

    Memang sangat memalukan apabila melihat kelakuan para polisi umum saat ini mulai dari yang atas sampai kepada tingkat yang paling rendah.

    percuma aja kita sebagai rakyat membayar pajak buat gaji mereka kalau kelakuannya masih seperti penjahat kambuhan yang menjijikan.

    apakah ini yang disebut reformasi yang dilakukan oleh kepolisian kita?

    Pantesan aja rakyat dan angkatan lain sangat benci sampai berani nyerang markas karena mereka sudah muak dengan kelakuan busuk yang selalu ditampilkan selama ini.

    untuk brimob Kita masih tetap hormat dan angkat topi untuk Brimob yang selalu sederhana, rendah hati dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

    Selamat buat Brimob dan Densus 88

    apa benar berkata:
    Juli 14, 2010 pukul 11:20 pm

    pak brimob mau tanya , saya baca komentar dari TNI, klo di aceh mereka sering menyelamatkan brimob yg terjebak pertempuran dengan GAM, kesannya brimob cuma bikin susah, apa benar begitu??

    saya udah 4 x ke aceh,dan tidak merasa pernah diselamatkan oleh TNI.yang ada Brimob dan TNI mengadakan patroli ato pergerakan gabungan(dengan Raider,Marinir, Infanteri dll)
    coba ditanyakan kepada commentator tersebut,satuan Brimob mana yang sering diselamatkan?

      gaor dodak naburju berkata:
      Juli 21, 2010 pukul 12:02 pm

      semua pasukan yg pernah Bko di Aceh psti penah mndapatkan bantuan dri pasukan lain sesaat melaksanakan tempur. sehebat apaun pasukan tempur di dunia ini tak akn bsa sukses tanpa dukungan pasukan lain.

        karsimun berkata:
        September 30, 2011 pukul 4:38 pm

        setuju dengan pendapat sampean mas.

      tedi..pelopor9 berkata:
      Oktober 16, 2012 pukul 11:54 pm

      asal jeblak cangkemu dul!!!

    gaor dodak naburju berkata:
    Juli 21, 2010 pukul 12:03 pm

    Bravo Brigade Mobile

    haris berkata:
    Agustus 22, 2010 pukul 11:29 pm

    Jadilah Brimob yang di cintai masyarakat,,, tetap latihan dan latihan,,,, tidak ada pasukan hebat tanpa latihan,,,, semoga MEN 1 Sat II Por tetap d segani,,,,amin

    Tono berkata:
    Agustus 26, 2010 pukul 12:08 pm

    Kayaknya Brimob itu pasukan hebat punya 5 kemampuan (phh, wanterror, sar, resmob, GAG) jd nggga ada alasan utk meremehkannya satuan lain plng hanya 1 atau 2 kemampuan sj. Pendidikan Ranger/Pelopor kayaknya perlu deh apalagi banyak perusuh biasa lari ke hutan, jungle warfare penting banget. Bravo Pelopor

    yayok berkata:
    September 1, 2010 pukul 9:31 am

    pokoke brimob TE O PE BE GE TE lah….salam komando buat semuanya…

    Anton A Setyawan berkata:
    September 2, 2010 pukul 2:21 pm

    KETERLIBATAN PELOPOR DALAM PERANG RAHASIA DI MALAYSIA (1964-1966)

    oleh: Dr (cand) Anton A Setyawan, SE,MSi
    * Tulisan ini adalah bagian dari Buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan
    * Tulisan ini muncul sebagai tanggapan panasnya hubungan RI-Malaysia (meskipun pemerintah memutuskan untuk tidak memperpanjang konflik)

    Keterlibatan Resimen Pelopor dalam Komando Siaga (KOGA) Dwikora dimulai dengan pembentukan Brigade MANDAU yang didalamya terdiri dari unsur-unsur Brimob dan Resimen Pelopor. Brigade ini terdiri dari 3 batalyon Brimob dengan rincian Batalyon I dan II di garis depan kawasan Kalimantan dan Riau dan Batalyon III sebagai cadangan. Pasukan Batayon I adalah pasukan yang sering mengalami kontak dengan pasukan Malaysia. Pasukan Malaysia dalam konflik ini didukung oleh pasukan SAS Inggris dan Australia beserta AD Selandia Baru, serta
    Beberapa kontak senjata yang cukup seru adalah pertempuran di pedalaman Kalimantan yang melibatkan duel tidak seimbang antara pasukan Brimob dengan AD Malaysia yang didukung oleh pasukan SAS dan elemen artileri Gurkha. Pasukan Brimob yang jumlahnya hanya satu kompi ini diserang oleh pasukan gabungan Malaysia-Inggris. Dalam pertempuran itu pasukan Brimob berhasil menewaskan seorang perwira AD Gurkha Kapten Patrick Greenwas dan beberapa orang anggota AD Malaysia. Adapun korban dari pihak Brimob adalah Bharatu Suwandi yang tubuhnya hancur karena terkena tembakan howitzer dari artileri AD Inggris dari Resimen Gurkha.
    Pasukan Pelopor sebagai sebuah pasukan khusus mendapatkan tugas operasi A yaitu penyusupan ke wilayah Malaysia. Pasukan ini berasal dari Kompi D Yon 32 Pelopor yang dipimpin Ipda Nicholas A. Titaley. Penyusupan dilakukan ke semenanjung Malaysia maupun ke pedalaman Kalimantan. Pengalaman mengesankan yang dialami pasukan Pelopor dalam pertempuran di Malaysia salah satunya yang diceritakan oleh AKBP (Purn) Drs H. Sunardi yang menyusup ke Malaysia pada awal Maret 1965. Dalam operasi penyusupan ini pasukan Pelopor menyamar sebagai petugas bea cukai dan semua persenjataan disamarkan. Pasukan yang diberangkatkan sejumlah 25 orang dan dipecah dalam tim dengan masing-masing anggota 5 orang.
    Setelah berhasil menyusup tim dari Agen Polisi Sunardi masuk ke wilayah hutan, mereka sempat kontak senjata dengan AD Malaysia dan melakukan serangkaian raid (serangan mendadak) yang cukup menganggu pasukan Malaysia. Pasca penyerbuan ke sebuah pos AD Malaysia dengan korban banyak, pasukan ini diburu oleh pasukan AD Malaysia dan SAS. Dalam perjalanan gerilya, Ipda Titaley sakit dan meminta untuk ditinggalkan karena akan membebani gerakan pasukan, akhirnya beliau tertangkap musuh. Anak buah Titaley termasuk Agen Polisi Sunardi masih mampu meneruskan gerilya, namun beberapa hari kemudian mereka disergap oleh satu peleton pasukan gabungan dari Gurkha dan AD Malaysia dan berhasil ditawan. Selama ditawan mereka diperlakukan tidak manusiawi oleh AD Malaysia. Agen Polisi Sunardi baru dibebaskan pada tahun 1967 ketika konflik berakhir.

    Anton A Setyawan berkata:
    September 20, 2010 pukul 8:32 am

    BRIMOB RANGERS WAR 8
    RESIMEN PELOPOR BERTEMPUR DI LAUT CHINA SELATAN
    • Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Resimen Pelopor, Pasukan Elite Yang Terlupakan dan bersumber dari buku Peran Polri dalam Operasi Trikora dan Dwikora tulisan Brigjen Pol (Purn) Jusuf Chuseinssaputra (1998).
    • Anton A Setyawan, SE,MSi
    Dosen Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta, contact: rmb_anton@yahoo.com HP 08156718444

    Anggota Resimen Pelopor (Menpor) pada tahun 1964 sudah terkenal sebagai pasukan khusus dengan spesialisasi anti gerilya dan pertempuran hutan (jungle warfare) dengan kemampuan individu diatas rata-rata pasukan militer dari batalyon infanteri AD. Kemampuan individu mereka sudah diakui KOTI (Komando Tertinggi) Angkatan Bersenjata dan juga KOGA (Komando Siaga) Dwikora sejajar dengan RPKAD, PGT (Pasukan Gerak Tjepat) AURI dan Korps Komando (KKO) AL. Namun demikian, tidak pernah terbayang dalam benak anggota Menpor yang berangkat dalam Operasi Dwikora tersebut akan melakukan pertempuran laut. Mereka tidak pernah dilatih untuk bertempur di laut seperti Marinir atau prajurit TNI AL. Peristiwa pertempuran laut antara pasukan Menpor dan Marinir-AL Selandia Baru ini terjadi pada bulan Maret 1965.
    Peristiwa ini diceritakan oleh salah seorang purnawirawan Pelopor yang menjadi saksi hidup peristiwa ini yaitu Bapak Roebino. Peristiwa ini diawali dengan keberangkatan 3 tim dari Kompi D Yon 32 Pelopor yang akan menyusup ke Semenanjung Malaya pada bulan Maret 1965. Pasukan ini dipimpin oleh Aipda Amjiatak yang merupakan Pama Kompi. Pasukan ini merupakan gabungan dari beberapa anggota Brimob dari berbagai kesatuan, yaitu:
    1. Ajun Inspektur Dua Amjiatak yang merupakan Pama Kompi D Yon 32 Pelopor.
    2. Brigadir Polisi Islan yang merupakan anggota Bagian Kesehatan dari Brimob Jawa Timur.
    3. Brigadir Polisi Darin dari Bagian Kesehatan Brimob Cakrabirawa.
    4. Ajun Brigadir Polisi Kiam dari Bagian Kesehatan Kompi D Yon 32 Pelopor.
    5. Ajun Brigadir Polisi Winarto dari Bagian Kesehatan Kompi D Yon 32 Pelopor.
    6. Agen Polisi Tk II Roebino anggota Kompi D Yon 32 Pelopor.
    7. Agen Polisi Tk II Runawar anggota Kompi D Yon 32 Pelopor.
    8. Simon P, seorang sukarelawan dari Riau.
    9. Kohar, pengemudi perahu dari Riau.
    10. Kim Pheng, seorang sukarelawan yang berasal dari masyarakat China Malaya.
    11. Tim Bun yang juga seorang sukarelawan dari masyarakat China Malaya.
    Pasukan ini berangkat dari Kampung Kangka di Pulau Bintan menuju daerah Kota Tinggi di Pantai Timur Malaysia, pada jam 08.00 malam. Ada tiga perahu yang mengangkut anggota tim ini. Anggota Pelopor dalam pasukan ini membawa senjata AR-15 sementara pasukan dari Brimob dan sukarelawan membawa senjata US Carabine dan Lee Enfield. Tim ini juga dipersenjatai dengan pelontar granat anti tank jenis F-5 yang terpasang di bawah laras AR 15.
    Pasukan ini bergerak dari Kampung Kawal menuju pemberhentian pertama di teluk Berakit dan sampai di tempat tujuan jam 04.00 pagi. Di teluk Berakit, pasukan ini beristirahat selama 1 minggu untuk menunggu cuaca baik. Mereka kemudian berangkat dengan memanfaatkan perlindungan dari alam yaitu berangkat pada malam hari. Saat memasuki Laut China, anggota pasukan Pelopor ini mulai waspada karena mendengar deru kapal besar yang mendekat. Agen Polisi Roebino mendengar perintah dari Aipda Amjiatak agar anggota pasukan menyiapkan senjata dan bergerak memanfaatkan celah diantara kapal. Aipda Amjiatak juga memberitahukan pada anggotanya bahwa yang mereka hadapi adalah kapal patroli AL Malaysia. Ketegangan menyelimuti segenap anggota yang segera mengokang senjata dan melepas pengamannya. Sekejap kemudian lampu kapal patroli AL Malaysia menyoroti perahu yang membawa pasukan Pelopor tersebut. Reaksi pasukan Pelopor adalah segera menembaki lampu sorot tersebut. Sebuah tembakan tepat mengenai seorang anggota AL Malaysia dan sesaat kemudian terjadilah kontak senjata seru ditengah laut China Selatan. Agen Polisi Roebino mendengar beberapa teriakan dan suara tubuh manusia yang tercebur laut. Rupanya beberapa anggota Pelopor dan AL Malaysia terkena tembakan. Aipda Amjiatak segera memerintahkan anak buahnya untuk menembakan pelontar granat ke arah kapal musuh. Tembakan pertama meleset dan granat jatuh ke laut. Namun tembakan kedua berakibat fatal bagi kapal patroli AL Malaysia karena tembakan pelontar granat tepat mengenai gudang amunisi kapal sehingga kapal meledak dan menimbulkan cahaya terang. Kapal patroli AL Malaysia itu segera mengalami kerusakan berat dan mundur dari medan pertempuran.
    Mundurnya patroli AL Malaysia itu rupanya sambil memanggil bala bantuan, karena sesaat kemudian datanglah dua kapal patroli AL Malaysia. Jarak yang masih jauh memungkinkan kedua kapal tersebut menggunakan meriam untuk menghajar posisi perahu pasukan Pelopor. Pertempuran kedua ini berjalan tidak seimbang karena pasukan Pelopor yang bersenjatakan senapan ringan dan pelontar granat harus menghadapi fregat AL Malaysia dengan senjata meriam dan senapan mesin. Namun demikian, Aipda Amjiatak tidak memerintahkan anak buahnya untuk menyerah melainkan justru memerintahkan untuk bermanuver mendekati fregat tersebut. Beliau berpikir dalam pertempuran jarak dekat masih ada harapan bagi pasukan Pelopor untuk selamat atau paling tidak bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih besar bagi musuh. Tembakan senapan mesin kaliber 12,7 mm dari kapal musuh segera menghantam perahu pertama dan anggota Pelopor yang ada di kapal tersebut juga tersapu tembakan. Dua perahu lain masih memberikan perlawanan dengan tembakan yang sengit. Agen Polisi Roebino mengingat dalam pertempuran tersebut sangat sulit melakukan bidikan dengan senjata AR 15 sehingga para prajurit Pelopor hanya menggunakan nalurinya untuk menembak. Mereka hanya membidik pada saat menembak dengan pelontar granat. Pada jarak jauh pelontar granat sulit diharapkan akurasinya. Akhirnya perlawanan dari dua perahu pasukan Pelopor ini diakhiri oleh dua buah tembakan meriam yang mengenai samping perahu. Perahu Aipda Amjiatak hancur terkena tembakan meriam dan beliau gugur di Laut China Selatan. Perlawanan pasukan Pelopor berakhir karena hampir semua anggota gugur dalam pertempuran tersebut. Agen Polisi Roebino dengan setengah sadar berpegangan pada kaleng biskuit dan beberapa saat kemudian beliau diselamatkan oleh kapal perang AL Malaysia. Kaki kiri Agen Polisi Tk II Roebino terasa nyeri karena terkena tembakan musuh.
    Agen Polisi Tk II Roebino kemudian dirawat di sebuah rumah sakit militer di Johor. Setelah 2 hari dirawat Agen Polisi Tk II Roebino kemudian ditawan di kantor polisi Johor. Agen Polisi Roebino mendapatkan penyiksaan yang luar biasa karena dituduh menjadi komandan dari pasukan penyusup. Pada awalnya beliau tidak mengakui statusnya sebagai anggota militer Indonesia dan tetap bersikukuh bahwa ia seorang sukarelawan, namun setelah bertemu dengan banyak tawanan dari berbagai kesatuan akhirnya beliau mengakui statusnya sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia dari Korps Brimob Resimen Pelopor. Agen Polisi Tk II Roebino menjadi tawanan perang Angakatan Bersenjata Malaysia sampai dengan tahun 1967. Beliau dibebaskan dan dijemput rombongan Kolonel Ali Moertopo yang menjadi ketua tim perunding pembebasan tawanan dari Indonesia.

    Anton A Setyawan berkata:
    September 20, 2010 pukul 8:35 am

    ANGGOTA RESIMEN PELOPOR YANG GUGUR DALAM OPERASI DWIKORA

    Berikut adalah daftar nama anggota Resimen Pelopor yang gugur dalam pertempuran melawan Angkatan Bersenjata Malaysia, yang dibantu pasukan Gurkha dan SAS Inggris.

    1. Inspektur Dua Polisi Amjiatak
    2. Ajun Inspektur Dua Polisi J Sihombing.
    3. Ajun Inspektur Dua Polisi Rameli.
    4. Ajun Inspektur Dua Polisi Hamzah.
    5. Ajun Inspektur Dua Polisi ADF. Manalu
    6. Ajun Inspektur Dua Polisi Ketam
    7. Ajun Inspektur Dua Polisi Wiharto.
    8. Ajun Inspektur Dua Polisi Soerat.
    9. Ajun Inspektur Dua Polisi Soedarin.
    10. Ajun Inspektur Dua Polisi Djamil Djuwoto.
    11. Ajun Brigadir Polisi Soekamto.
    12. Ajun Brigadir Polisi Warijan.
    13. Ajun Brigadir Polisi Soemardi.
    14. Ajun Brigadir Polisi Imam Syafei.
    15. Ajun Brigadir Polisi Mujiarto.
    16. Ajun Brigadir Polisi Soengkono.
    17. Ajun Brigadir Polisi Sudarmin.
    18. Ajun Brigadir Polisi Sudiro WR.
    19. Ajun Brigadir Polisi Beni Sarbani K.
    20. Ajun Brigadir Polisi Siyanto.
    21. Ajun Brigadir Polisi Soetopo.
    22. Ajun Brigadir Polisi Djoemadi.
    23. Ajun Brigadir Polisi Tardi Soerawan.
    24. Ajun Brigadir Polisi S.D Soesanto.
    25. Ajun Brigadir Polisi Toemadi.
    26. Ajun Brigadir Polisi Soetadi.
    27. Ajun Brigadir Polisi Diro B. Ismail.
    28. Ajun Brigadir Polisi Slamet Wiyono.
    29. Ajun Brigadir Polisi Soewardi.
    30. Ajun Brigadir Polisi Amin Yusuf.
    31. Ajun Brigadir Polisi Soeparno.
    32. Ajun Brigadir Polisi Amat Munawar.
    33. Ajun Brigadir Polisi Partono.
    34. Agen Polisi Tk I Tejo Mojo.
    35. Agen Polisi Tk I Soekarno.
    36. Agen Polisi Tk I Soekirno.
    37. Agen Polisi Tk I Pranoto.

    Rais Buana EU berkata:
    September 23, 2010 pukul 9:22 am

    Salam Hormat, Bravo to Satuan II Pelopor..!!!

    ifan berkata:
    September 23, 2010 pukul 11:14 pm

    dari kecil gw tinggal di disana,tapi sekarang gw udah dines di tempat laen,,walapun gw dari gasum gw bangga sama brimob,buat temen RBC yang masih maen bola kapan reunian lagi..

    dili berkata:
    September 29, 2010 pukul 7:50 pm

    salam buat Rekan2&senior Smua letting 35 gel 3….di DEN A KI 2????bravooo…

    ady berkata:
    Oktober 1, 2010 pukul 3:43 pm

    salam .bravo brimob

    ady berkata:
    Oktober 1, 2010 pukul 3:46 pm

    miris lihat brimob skrng yg bermental proyek..

    anton berkata:
    Oktober 14, 2010 pukul 10:06 pm

    saya bangga dengan kesatriaan sat 2 Polopor dan brimod di masa lalumu, saya berharap janganlah para kesatrian Brimod melupakan masa lalumu walaupun tidak tercatat dalam PSPB namun demikian galilah masa lalu(pengalamanmu) untuk belajar dan berlatih demi bangsa dan negara kita dan demi kemanusian masa kita harus belajar dari negeri orang,….bekerjalah tapi bukan untuk mencari kebanggaan atau di puji karna kesatria pantang di puji….

    Joy berkata:
    Oktober 22, 2010 pukul 10:40 am

    Miris liat polisi sekarang, Polisi bener gak mampu mengamankan kondisi bangsa yang amburadul ini. Polisi terlihat sangat garang sama mahasiswa yang masih anak tapi luar biasa takut sama preman jalanan. Kalau takut jangan jadi polisi dong ato minta porsi bahwa mampu mengendalikan keamanan nasional.
    Untuk brimob reformis, memang benar kok tentara jauh lebih baik dari kalian polisi. jenderalmu aja kerjaannya hanya dagang dan ngemis kok. gimana mau mikirin keamanan negara ini? apalagi mikirin kesejahteraan kalian? aya ayaaa wae polisi ini. . . . . belajar tuh sama seniormu yang mau berjuang tanpa pamrih. ngrusin preman kelahi aja gak becus. gede bacot aja ni polisi

    Bag Sejarah pada Desember 13, 2010 pukul 10:51 am berkata: Sunting
    *
    26 Maret 2001
    Polisi-Tentara di Simpang Sejarah
    SEJARAH kepolisian negeri ini selalu terombang-ambing dalam persoalan rivalitasnya dengan kalangan militer. Yang menarik, fenomena itu justru terjadi setelah kemerdekaan. Di era kolonial, sebagaimana ditulis pengamat militer Robert Lowry dalam bukunya The Armed Forces of Indonesia (1996), kedua kesatuan itu justru menduduki tempatnya masing-masing dengan pas. Seperti di Barat sekarang pada umumnya, kala itu militer dan polisi berbagi wewenang secara sangat jelas.

    Pada masa penjajahan Belanda, struktur kepolisian punya dua tangan. Yang satu adalah kepolisian umum, yang bertanggung jawab atas penegakan hukum. Yang lain adalah brigade mobil (brimob), kesatuan elite yang bertugas mengawal keamanan dalam negeri.

    Kala itu, brimob cuma terdiri atas unit-unit kecil. Masing-masing berisi 7-8 personel, satuan itu berada di bawah kendali pemerintah daerah. Brimob dirancang untuk mengatasi berbagai ancaman keamanan yang tak bisa ditangani polisi umum. Militer (KNIL) memang terkadang diundang ikut berperan, tapi itu jika sebuah gejolak sudah sedemikian gawat dan luas. Setelah rusuh bisa dipadamkan, para serdadu pun kembali ke barak.

    Tapi itu dulu. Setelah kemerdekaan, muncul kompetisi yang lebih keras antara polisi dan militer. Pertentangan tajam muncul dalam menentukan siapa yang mesti menangani urusan keamanan internal. Militer merasa paling berhak karena merekalah yang juga merasa punya jasa mengusir penjajah semasa revolusi. Mereka meragukan kemampuan polisi. Juga mencurigai loyalitasnya karena lama berada di bawah struktur pemerintahan kolonial.

    Sebagaimana tercatat dalam laporan International Crisis Group (ICG) berjudul Indonesia: National Police Reform tanggal 20 Februari lalu, di masa revolusi, polisi memang terpecah. Sebagian besar bergabung dengan Republik, sebagian lainnya memilih berkolaborasi dengan pemerintah Belanda, dan sisanya masuk dalam kepolisian Republik Indonesia Serikat.

    Penjajahan juga menyumbang pada persoalan tak cukup tersedianya perwira polisi yang cakap dan berpengalaman. Saat Belanda diusir Jepang pada 1942, tak satu pun warga bumiputra menjabat kepala kepolisian di 16 distrik Hindia Belanda. Cuma ada beberapa pribumi di level menengah. Bagian terbanyak adalah mereka yang hanya sebatas opsir lapangan. Meski selama pendudukan Jepang ada lebih banyak perwira Indonesia yang menduduki posisi menengah, pola itu masih terus berlangsung.

    Rivalitas itu tak juga kunjung padam ketika Sukarno—mengadopsi sistem di negara komunis—menggabungkan kepolisian ke bawah payung ABRI pada 1960. Rivalitas itu antara lain dipicu oleh kecenderungan Sukarno ”memelihara” persaingan di antara keduanya. Kepolisian digunakannya sebagai kekuatan untuk mengimbangi Angkatan Darat (AD). Dan konflik mencapai puncaknya pada peristiwa 30 September. Dukungan beberapa jenderal polisi di belakang Sukarno saat melawan AD berujung pada penyingkiran sejumlah petingginya.

    Merasuknya kontrol militer dan rezim yang otoriter adalah awal bencana polisi. Orientasinya lalu bergeser. ICG mencatat, dari tugas pokoknya sebagai pengawal hukum, korps ini jadi sangat menitikberatkan peran penjaga keamanan dalam negeri. Bahu-membahu dengan AD, mereka menjadi pelindung kepentingan penguasa. Masuknya banyak kurikulum tentara dalam pendidikan kepolisian membuat warna militeristis sangat kental. Kecenderungan ini terlihat dari banyaknya jabatan pemimpin polisi yang dipegang perwira dari Brimob, kesatuan paramiliter.

    Sejak saat itu, polisi dikerdilkan. Bujetnya dipangkas. Jumlah personelnya pun dikerutkan. Rasio polisi-masyarakat drop dari 1 : 500 menjadi 1 : 1.200. Bantuan luar negeri dan kesempatan belajar di mancanegara juga dipotong. Berbagai kewenangannya diambil alih. Dan kepadanya diterapkan hukum militer.

    Orde Baru adalah puncak dari subordinasi polisi di bawah militer. Toh, keributan di antara keduanya terus terjadi, khususnya jika polisi terlalu bersemangat melakukan penyelidikan atau ketika mereka mencoba memaksakan kewenangan mereka pada kesatuan lain. Persoalan koordinasi lantas dicoba diselesaikan dengan pembentukan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), musyawarah pimpinan daerah (muspida), dan perumusan doktrin bersama. Itu semua secara otomatis memangkas struktur Brimob dan membatasi perannya dalam tugas-tugas pengendalian massa dan pengawalan tamu-tamu VIP.

    Menurut laporan ICG, Brimob semula dibentuk ke dalam sejumlah batalion seperti infanteri, yang masing-masing berkekuatan 600 orang. Tapi, pada awal 1980-an, basis operasionalnya dipangkas cuma menjadi kompi-kompi (100 orang). Bahkan, sejumlah persenjataannya dialihkan ke militer.

    Hal ini, kata mantan Deputi Operasi Kapolri Letjen (Purn.) Koesparmono Irsan, terutama terjadi pada masa Benny Moerdani menjabat Panglima ABRI. Polisi dilarang menggelar latihan berskala besar. Intelijen polisi ditempatkan di bawah TNI. Hasilnya, kata Koesparmono, polisi sampai tidak tahu apa-apa soal intelijen kriminal sekalipun. Benny bahkan sempat minta agar tanda ”POL” yang disematkan di kerah seragam diganti menjadi ”TNI”. Permintaan itu ditolak, lalu dikompromikan menjadi ”POLRI”. Tanda pangkat juga sempat diributkan, misalnya komisaris besar. ”Besar apanya, begitu kata mereka,” kata Koesparmono tertawa.

    Padahal, menurut mantan Kapolri Awaloedin Djamin dalam bukunya Pengalaman Seorang Perwira Polri, kepolisian pernah menempati posisi terhormat. Hingga Demokrasi Terpimpin dideklarasikan Juli 1959 dan wafatnya Menteri Pertama Djuanda pada November 1963, kepolisian berhasil mempertahankan kemandiriannya dari campur tangan partai politik dan pemerintah.

    Sampai kurun itu, kata Koesparmono, polisi sangat mandiri, baik dalam persenjataan maupun sistem operasinya. Brimob, yang menjadi elemen sentral Kepolisian RI (Polri) sejak 1950-an, memainkan peran penting dalam berbagai penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta pada kurun waktu 1958-1961. Ketika itu, klaim Koesparmono, Brimob bersama Resimen Pelopor—satuan elite polisi lainnya—bahkan mengungguli Resimen Para Komando Angkatan Darat (Kopassus sekarang).

    Baru setelah Soeharto ambruk, penguatan polisi kembali dilakukan. Pada 1 April 1999, Polri secara formal disapih kembali dari angkatan bersenjata, meski tetap ditempatkan di bawah satu payung Departemen Pertahanan. Perubahan yang lebih signifikan terjadi di era Abdurrahman Wahid. Ketetapan MPR Nomor VII/2000 tegas memisahkan polisi dari tentara dan langsung menempatkannya di bawah presiden.

    Pemekaran personel pun dilakukan. Dari 190 ribu personel pada 1998, jumlahnya kini digenjot menjadi 250 ribu anggota, dan pada 2004 ditargetkan menjadi 300 ribu personel. Untuk itu, sejumlah langkah diupayakan: kepolisian akan menerima 13 ribu anggota baru, sementara usia pensiun diperpanjang, dari semula 48 tahun menjadi 58 tahun. Personel yang dipekerjakan di posisi komando dan administrasi, sekitar 40 persen, akan dikurangi menjadi cuma 20-25 persen.

    Tapi, secara keseluruhan, struktur organisasinya tak banyak berubah. Perubahan mendasar belum banyak terlihat. Setelah Soeharto terjungkal, seiring dengan mundurnya peran TNI, Brimob malah makin membenamkan diri dalam berbagai operasi di Aceh, Maluku, dan Irianjaya—sebuah ”tradisi” yang telah berlangsung sejak kelahirannya. Jumlah personel kesatuan paramiliter ini pun akan didobelkan dari sebelumnya, menjadi 40 ribu.

    Karena itulah, kata ICG, reformasi kepolisan tampaknya masih sebatas simbol. Masih sebatas pengubahan tanda pangkat yang jadi terdengar ”lebih sipil”.

    Karaniya Dharmasaputra, Purwani Dyah Prabandari, Endah W.S.

    Anton A Setyawan berkata:
    November 11, 2010 pukul 2:31 pm

    Buku RESIMEN PELOPOR, PASUKAN ELITE YANG TERLUPAKAN

    Alhamdulillah, berkat bantuan teman-teman sekalian riset saya sekaligus buku Resimen Pelopor, Pasukan Elite Yang Terlupakan telah selesai dan dalam satu bulan ini akan diluncurkan. Buku ini diterbitkan oleh MATA PADI Publications Yogyakarta.
    Saya menyampaikan terima kasih kepada teman-teman di blog ini yang telah memberikan dukungan atas penerbitan buku ini.

    Hormat saya,

    Anton A Setyawan, SE,MSc
    Prodi Manajemen Fak Ekonomi
    Univ Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
    HP 08156718444 e-mail: rmb_anton@yahoo.com

    LAFAEK berkata:
    Desember 6, 2010 pukul 3:28 pm

    Lafaek :

    Hanya masukan Untuk mas Anton….Gimana kalau edisi pertama buku ini dikirim juga ke Lembaga2 Pendidikan Dan Pelatihan BRIMOB, mudah2an dapat digunakan sebagai tambahan Mata pelajaran tentang Sejarah Brimob….Jadi kalau bercerita tentang sejarah Perjuangan Brimob tidak lagi mengunakan Rumus Katanya…….Bapak ini…..ceritanya Bapak itu….,yang tidak berdasar…..

    Mudah2an buku ini dapat membuka pengetahuan Kita tentang bagaimana senior2 kita membangun Citra Brimob Polri yang sekarang mungkin sudah tidak dipedulikan lagi……Seperti namanya BRIMOB ..( Brintik Mobrak – Mabrik )…Viva Brimob…

    Bag Sejarah berkata:
    Desember 13, 2010 pukul 10:51 am

    *
    26 Maret 2001
    Polisi-Tentara di Simpang Sejarah
    SEJARAH kepolisian negeri ini selalu terombang-ambing dalam persoalan rivalitasnya dengan kalangan militer. Yang menarik, fenomena itu justru terjadi setelah kemerdekaan. Di era kolonial, sebagaimana ditulis pengamat militer Robert Lowry dalam bukunya The Armed Forces of Indonesia (1996), kedua kesatuan itu justru menduduki tempatnya masing-masing dengan pas. Seperti di Barat sekarang pada umumnya, kala itu militer dan polisi berbagi wewenang secara sangat jelas.

    Pada masa penjajahan Belanda, struktur kepolisian punya dua tangan. Yang satu adalah kepolisian umum, yang bertanggung jawab atas penegakan hukum. Yang lain adalah brigade mobil (brimob), kesatuan elite yang bertugas mengawal keamanan dalam negeri.

    Kala itu, brimob cuma terdiri atas unit-unit kecil. Masing-masing berisi 7-8 personel, satuan itu berada di bawah kendali pemerintah daerah. Brimob dirancang untuk mengatasi berbagai ancaman keamanan yang tak bisa ditangani polisi umum. Militer (KNIL) memang terkadang diundang ikut berperan, tapi itu jika sebuah gejolak sudah sedemikian gawat dan luas. Setelah rusuh bisa dipadamkan, para serdadu pun kembali ke barak.

    Tapi itu dulu. Setelah kemerdekaan, muncul kompetisi yang lebih keras antara polisi dan militer. Pertentangan tajam muncul dalam menentukan siapa yang mesti menangani urusan keamanan internal. Militer merasa paling berhak karena merekalah yang juga merasa punya jasa mengusir penjajah semasa revolusi. Mereka meragukan kemampuan polisi. Juga mencurigai loyalitasnya karena lama berada di bawah struktur pemerintahan kolonial.

    Sebagaimana tercatat dalam laporan International Crisis Group (ICG) berjudul Indonesia: National Police Reform tanggal 20 Februari lalu, di masa revolusi, polisi memang terpecah. Sebagian besar bergabung dengan Republik, sebagian lainnya memilih berkolaborasi dengan pemerintah Belanda, dan sisanya masuk dalam kepolisian Republik Indonesia Serikat.

    Penjajahan juga menyumbang pada persoalan tak cukup tersedianya perwira polisi yang cakap dan berpengalaman. Saat Belanda diusir Jepang pada 1942, tak satu pun warga bumiputra menjabat kepala kepolisian di 16 distrik Hindia Belanda. Cuma ada beberapa pribumi di level menengah. Bagian terbanyak adalah mereka yang hanya sebatas opsir lapangan. Meski selama pendudukan Jepang ada lebih banyak perwira Indonesia yang menduduki posisi menengah, pola itu masih terus berlangsung.

    Rivalitas itu tak juga kunjung padam ketika Sukarno—mengadopsi sistem di negara komunis—menggabungkan kepolisian ke bawah payung ABRI pada 1960. Rivalitas itu antara lain dipicu oleh kecenderungan Sukarno ”memelihara” persaingan di antara keduanya. Kepolisian digunakannya sebagai kekuatan untuk mengimbangi Angkatan Darat (AD). Dan konflik mencapai puncaknya pada peristiwa 30 September. Dukungan beberapa jenderal polisi di belakang Sukarno saat melawan AD berujung pada penyingkiran sejumlah petingginya.

    Merasuknya kontrol militer dan rezim yang otoriter adalah awal bencana polisi. Orientasinya lalu bergeser. ICG mencatat, dari tugas pokoknya sebagai pengawal hukum, korps ini jadi sangat menitikberatkan peran penjaga keamanan dalam negeri. Bahu-membahu dengan AD, mereka menjadi pelindung kepentingan penguasa. Masuknya banyak kurikulum tentara dalam pendidikan kepolisian membuat warna militeristis sangat kental. Kecenderungan ini terlihat dari banyaknya jabatan pemimpin polisi yang dipegang perwira dari Brimob, kesatuan paramiliter.

    Sejak saat itu, polisi dikerdilkan. Bujetnya dipangkas. Jumlah personelnya pun dikerutkan. Rasio polisi-masyarakat drop dari 1 : 500 menjadi 1 : 1.200. Bantuan luar negeri dan kesempatan belajar di mancanegara juga dipotong. Berbagai kewenangannya diambil alih. Dan kepadanya diterapkan hukum militer.

    Orde Baru adalah puncak dari subordinasi polisi di bawah militer. Toh, keributan di antara keduanya terus terjadi, khususnya jika polisi terlalu bersemangat melakukan penyelidikan atau ketika mereka mencoba memaksakan kewenangan mereka pada kesatuan lain. Persoalan koordinasi lantas dicoba diselesaikan dengan pembentukan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), musyawarah pimpinan daerah (muspida), dan perumusan doktrin bersama. Itu semua secara otomatis memangkas struktur Brimob dan membatasi perannya dalam tugas-tugas pengendalian massa dan pengawalan tamu-tamu VIP.

    Menurut laporan ICG, Brimob semula dibentuk ke dalam sejumlah batalion seperti infanteri, yang masing-masing berkekuatan 600 orang. Tapi, pada awal 1980-an, basis operasionalnya dipangkas cuma menjadi kompi-kompi (100 orang). Bahkan, sejumlah persenjataannya dialihkan ke militer.

    Hal ini, kata mantan Deputi Operasi Kapolri Letjen (Purn.) Koesparmono Irsan, terutama terjadi pada masa Benny Moerdani menjabat Panglima ABRI. Polisi dilarang menggelar latihan berskala besar. Intelijen polisi ditempatkan di bawah TNI. Hasilnya, kata Koesparmono, polisi sampai tidak tahu apa-apa soal intelijen kriminal sekalipun. Benny bahkan sempat minta agar tanda ”POL” yang disematkan di kerah seragam diganti menjadi ”TNI”. Permintaan itu ditolak, lalu dikompromikan menjadi ”POLRI”. Tanda pangkat juga sempat diributkan, misalnya komisaris besar. ”Besar apanya, begitu kata mereka,” kata Koesparmono tertawa.

    Padahal, menurut mantan Kapolri Awaloedin Djamin dalam bukunya Pengalaman Seorang Perwira Polri, kepolisian pernah menempati posisi terhormat. Hingga Demokrasi Terpimpin dideklarasikan Juli 1959 dan wafatnya Menteri Pertama Djuanda pada November 1963, kepolisian berhasil mempertahankan kemandiriannya dari campur tangan partai politik dan pemerintah.

    Sampai kurun itu, kata Koesparmono, polisi sangat mandiri, baik dalam persenjataan maupun sistem operasinya. Brimob, yang menjadi elemen sentral Kepolisian RI (Polri) sejak 1950-an, memainkan peran penting dalam berbagai penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta pada kurun waktu 1958-1961. Ketika itu, klaim Koesparmono, Brimob bersama Resimen Pelopor—satuan elite polisi lainnya—bahkan mengungguli Resimen Para Komando Angkatan Darat (Kopassus sekarang).

    Baru setelah Soeharto ambruk, penguatan polisi kembali dilakukan. Pada 1 April 1999, Polri secara formal disapih kembali dari angkatan bersenjata, meski tetap ditempatkan di bawah satu payung Departemen Pertahanan. Perubahan yang lebih signifikan terjadi di era Abdurrahman Wahid. Ketetapan MPR Nomor VII/2000 tegas memisahkan polisi dari tentara dan langsung menempatkannya di bawah presiden.

    Pemekaran personel pun dilakukan. Dari 190 ribu personel pada 1998, jumlahnya kini digenjot menjadi 250 ribu anggota, dan pada 2004 ditargetkan menjadi 300 ribu personel. Untuk itu, sejumlah langkah diupayakan: kepolisian akan menerima 13 ribu anggota baru, sementara usia pensiun diperpanjang, dari semula 48 tahun menjadi 58 tahun. Personel yang dipekerjakan di posisi komando dan administrasi, sekitar 40 persen, akan dikurangi menjadi cuma 20-25 persen.

    Tapi, secara keseluruhan, struktur organisasinya tak banyak berubah. Perubahan mendasar belum banyak terlihat. Setelah Soeharto terjungkal, seiring dengan mundurnya peran TNI, Brimob malah makin membenamkan diri dalam berbagai operasi di Aceh, Maluku, dan Irianjaya—sebuah ”tradisi” yang telah berlangsung sejak kelahirannya. Jumlah personel kesatuan paramiliter ini pun akan didobelkan dari sebelumnya, menjadi 40 ribu.

    Karena itulah, kata ICG, reformasi kepolisan tampaknya masih sebatas simbol. Masih sebatas pengubahan tanda pangkat yang jadi terdengar ”lebih sipil”.

    Karaniya Dharmasaputra, Purwani Dyah Prabandari, Endah W.S.

    Anton A Setyawan berkata:
    Desember 13, 2010 pukul 1:20 pm

    To Mas Lafaek;

    Beberapa perwira muda dari Brimob sudah mengajukan permintaan kepada penerbit untuk mendapatkan edisi pertama dari buku ini sebagai bahan diskusi untuk selanjutnya dijadikan bahan pengajaran di kesatuan mereka, minimal untuk training internal.

    Terima kasih atas sarannya

    Hormat saya,

    Anton A Setyawan,SE,MSi
    Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura 57102

    bejujag_aje berkata:
    Desember 16, 2010 pukul 2:44 pm

    Salam kenal…(selama ini hanya pembaca setia saja)
    Saya bangga lahir dan besar di keluarga Brimob (Kakek dan Alm. Bapak saya Brimob)
    Sering saya mendengar cerita serunya pertempuran yang dilakukan oleh Kakek dan Alm Bapak (PRRI –> Sumbar & Riau & DI/TII–>Sulawesi), dimana MOBRIG sewaktu itu merupakan pasukan yag disegani dan sudah menerapkan sistem patroli setingkat regu.
    Cuma saat ini, rasanya miris jika mendengar berita media masa maupun forum2 yang mengecilkan kemampuan dan kualitas Brimob, mungkin hal ini sejalan dgn dikerdilkannya Brimob semasa Orba.
    Saya harap, rekan2 Brimob yang membaca blog ini bisa mengangkat kembali nama besar Brimob, tentunya dgn cara meningkatkan kemampuan dan kualitas, dan jangan lupa moralitas kita.

    Bravo PI –> Mobrig –> Brimob

    Anton A Setyawan berkata:
    Desember 17, 2010 pukul 1:44 pm

    Sesuai janji saya dengan Mas Romeo, berikut ini saya tampilkan transkrip tentang MINGGU PALMA di Timor Timur 1976

    Bagian 1
    PEMBENTUKAN BATALYON TERATAI DALAM OPERASI SEROJA TIMOR-TIMUR
    Transkip ini adalah bagian dari Buku RESIMEN PELOPOR PASUKAN ELITE YANG TERLUPAKAN.

    Anton A Setyawan, SE,MSi
    Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
    HP 08156718444 e-mail: rmb_anton@yahoo.com

    Salah satu episode paling gelap dalam keterlibatan Brimob dalam Operasi Seroja adalah terjadinya peristiwa kekalahan pasukan Brimob dari Batalyon Teratai oleh Falintil pada tanggal 11 April 1976. Peristiwa ini merupakan sebuah pukulan memalukan bagi Polri dan Brimob. Apalagi peristiwa ini dikaitkan dengan Resimen Pelopor, pasukan khusus andalan Brimob pada tahun 50-an sampai dengan 60-an. Faktanya, pada saat peristiwa Minggu Palma terjadi Resimen Pelopor sudah dibubarkan, karena kesatuan ini memang sudah dilikuidasi pada tahun 1969-1970. Sayangnya, Batalyon Teratai yang ditugaskan ke Timor Timur memakai atribut Resimen Pelopor dalam penugasannya. Mereka menggunakan senjata AR 15 dan semua lambang kualifikasi meskipun seragam yang dipergunakan adalah hijau rimba sama seperti kesatuan-kesatuan TNI AD.
    Mengapa peristiwa ini terjadi? Bagaimana bisa sebuah pasukan reguler dengan persenjataan lengkap dan terorganisasi bisa dipukul mundur dan berantakan oleh pasukan gerilyawan? Untuk menjawab pertanyaan itu maka perlu dijelaskan kronologi pembentukan Batalyon Teratai dan apa penugasannya dalam Operasi Seroja. Batalyon Teratai dibentuk sebagai respon atas perintah Panglima Komando Operasi Seroja kepada Polri yang menyatakan kekurangan personel untuk melakukan invasi lanjutan sekaligus mempertahankan wilayah yang dikuasai di Timor Timur. Seharusnya sesuai dengan kebijakan yang diambil pemerintah Orde Baru pada tahun 1968, maka Polri sudah tidak dilibatkan dalam operasi tempur karena lembaga ini diminta untuk berkonsentrasi pada masalah penegakan hukum. Namun demikian, Departemen Pertahanan dan Keamanan memandang Polri mempunyai kesatuan pemukul yang mempunyai pengalaman melaksanakan operasi tempur dari awal kemerdekaan sampai dengan dekade 60-an, yaitu Brigade Mobil. Pada masa itu, Resimen Pelopor sudah telanjur dibubarkan sehingga Markas Komando Brimob melakukan mobilisasi atau re-grouping anggota Menpor yang sudah berpencar ditugaskan ke berbagai kesatuan di dalam Polri.
    Perintah dari Departemen Pertahanan dan Keamanan ini adalah Brimob diminta juga untuk ambil bagian dalam Operasi Flamboyan sebagai persiapan operasi Komodo. Berdasarkan perintah ini maka Mako Brimob memerintahkan 2 peleton (65 orang) pasukan Brimob bekas Menpor untuk berangkat ke Atambua bergabung dengan Kopassandha untuk melaksanakan operasi tersebut. 2 peleton Brimob ex Menpor ini disebut dengan Densus Alap-alap. Mereka melaksanakan Operasi Flamboyan pada pertengahan 1975. Setelah, opsi militer dipilih dan kode operasi diubah menjadi Operasi Seroja, Densus Alap-alap ditarik ke Kupang dan ditambah jumlahnya menjadi sekitar satu kompi dari ex Menpor yang berhasil di mobilisasi dan digabungkan dengan Batalyon 527 Brawijaya dengan komandan Mayor (Inf) Basofi Sudirman (Gubernur Jatim pada tahun 90-an). Selama pelaksanaan Operasi Seroja Rotasi I tahun 1976-1978, Densus Alap-alap berada di bawah komando Yon 527 dengan penugasan dari Bobonaro sampai dengan Maliana. Mereka juga terlibat dalam serangan besar-besaran terhadap Markas Besar Falintil di Gunung Matabean Viqueque pada tahun 1978. Mereka tidak dikenali sebagai anggota Brimob melainkan anggota Yon 527 karena menggunakan seragam yang sama persis dengan kesatuan tersebut kecuali mereka menggunakan senjata yang berbeda yaitu AR 15.
    Batalyon Teratai adalah sebuah batalyon yang dibentuk untuk kepentingan Operasi Seroja. Berdasarkan perintah yang diterima dari Panglima Komando Operasi Seroja, pasukan ini tidak diperintahkan untuk melakukan ofensif, melainkan hanya melakukan penjagaan di wilayah-wilayah yang sudah dikuasai TNI. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Kompol (Purn) Samid bekas anggota Densus Alap alap, Batalyon Teratai hanya ditempatkan di sektor Selatan. Pasukan ini terdiri dari anggota Brimob dari berbagai kesatuan dan juga tamtama Brimob yang baru saja lulus dari pendidikan di beberapa SPN (Sekolah Polisi Negara) dan tidak ada yang pernah mendapatkan pendidikan Ranger/Pelopor atau kualifikasi Rimba Laut (Bala). Dalam beberapa kesempatan latihan pasukan ini lebih banyak berlatih melakukan penanggulangan huru hara dan tugas-tugas kepolisian lainnya dan sangat jarang atau bahkan tidak pernah melakukan latihan taktik tempur kecuali yang pernah mereka dapatkan di dalam pendidikan di SPN. Beberapa diantara mereka bahkan masih nampak canggung menggunakan senjata AR 15 karena di kesatuan lama mereka masih banyak yang menggunakan senjata Lee Enfield atau US Carabine. Kombes (Purn) Harjanto sudah menangkap kejanggalan ini. Dalam operasi Seorja beliau masih berpangkat Letnan Satu Polisi dan bertugas sebagai perwira intelijen dari satgas yang dipimpin Kolonel (Inf) Dading Kalbuadi. Beliau tentu khawatir dan ragu terhadap kualitas pasukan ini. Namun beliau mengetahui bahwa pasukan ini tidak ditugaskan untuk bertempur, melainkan untuk pasukan anti huru hara sehingga beliau melihat tidak ada masalah.
    AKBP Ibnu Hadjar Adikara ditunjuk oleh Mako Brimob Kelapa Dua sebagai Komandan Batalyon Teratai. Beliau adalah perwira Brimob lulusan PTIK tahun 1965 dengan predikat lulusan terbaik. Beliau juga pernah mendapatkan pendidikan infanteri di Amerika Serikat dan lulus dengan memuaskan. Hanya saja beliau memang belum pernah lulus dari pendidikan Pelopor/Ranger. Beliau ditunjuk sebagai danyon pada saat menjabat sebagai Kapolres di salah satu Polres di Jakarta dan kariernya sedang cemerlang pada masa itu. Selain itu, usianya masih muda yaitu 37 tahun sehingga dari sisi energi masih mampu memimpin pasukan. Kelemahan beliau sebagai perwira Brimob adalah belum pernah mendapatkan tugas operasi tempur, oleh karena itu penunjukan sebagai Danyon Teratai akan melengkapi tour of duty-nya. Mako Brimob sebenarnya juga menyadari resiko menugaskan komandan yang belum berpengalaman tempur ke dalam operasi tempur. Namun mereka tidak punya banyak pilihan. Para anggota Menpor yang sudah pernah menjalani operasi tempur dan berpangkat perwira dari sisi pangkat belum layak memimpin batalyon. Dari lulusan Ranger tahun 1959 ada beberapa perwira yaitu Lettu (Pol) Soeripno, Lettu (Pol) Pranoto dan Lettu (Pol) Harjanto yang mempunyai pengalaman tempur tetapi pangkat mereka masih perwira pertama. Selain itu, pertimbangan Kolonel (Pol) Anton Soedjarwo sebagai Komandan Korps Brimob pada masa itu adalah batalyon Teratai tidak diperintahkan untuk melakukan operasi tempur sehingga tidak perlu komandan dengan pengalaman tempur.

    Anton A Setyawan berkata:
    Desember 17, 2010 pukul 1:49 pm

    Bagian 2
    PERINTAH BERUBAH SECARA MENDADAK DAN PETAKA MINGGU PALMA
    Transkip ini adalah bagian dari Buku RESIMEN PELOPOR PASUKAN ELITE YANG TERLUPAKAN.

    Anton A Setyawan, SE,MSi
    Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
    HP 08156718444 e-mail: rmb_anton@yahoo.com

    Batalyon Teratai berangkat menuju Timor Timur pada akhir Desember 1975. Perjalanan dari Tanjung Priok ke Atambua (NTT) dan menuju Atapupu melewati jalan darat. Mereka masuk ke wilayah Maliana dengan berjalan kaki. Namun, sebelumnya ada berita yang cukup mengejutkan diterima AKBP Ibnu Hajar Adikara ketika berada di kapal dalam perjalanan menuju Atambua. Sebuah radiogram diterima dari Panglima Komando Operasi Seroja tentang perubahan penugasan Batalyon Teratai dari fungsi penjagaan di wilayah yang sudah dikuasai pemerintah Indonesia menjadi operasi tempur aktif yaitu menyekat laju mundur pasukan Falintil dari Bobonaro. Perubahan ini tentu merupakan perubahan yang mendasar dari fungsi sebuah pasukan dan terkait dengan keahlian pasukan bersangkutan. Batalyon Teratai sejak awal dipersiapkan bukan sebagai elemen tempur, melainkan hanya menjalankan fungsi kepolisian di wilayah pendudukan. Sebagian besar dari pasukan ini adalah anggota Brimob yang baru lulus pendidikan ditambah dengan campuran anggota Brimob dari berbagai kesatuan. Tidak ada sama sekali anggota Batalyon Teratai yang pernah mendapatkan pendidikan Ranger/Pelopor.
    Pada saat long march menuju Maliana tidak ada gangguan berarti dari musuh karena wilayah yang dilewati sudah berhasil dinetralisir. Berdasarkan perubahan perintah dari Panglima Komando Operasi maka Brimob Yon Teratai diperintahkan untuk menutup perbatasan selatan wilayah Bobonaro untuk menghadang gerak mundur pasukan Falintil. Pada awal April 1976, serangan terhadap kota Bobonaro dimulai. Serangan ini dilakukan oleh pasukan gabungan dari pasukan Marinir, Yonif 507, Yonif 512, Yonif 401, Yonif 403 dan Densus Alap-alap Brimob Polri. Adapun dukungan artileri diberikan oleh Batalyon Artileri Medan dari Kodam Brawijaya. Pertempuran sengit yang terjadi di Bobonaro berimbas ke wilayah selatan yang menjadi jalur gerak mundur pasukan Falintil.
    Pada hari Minggu, 11 April 1976 petaka itu dimulai. Kesalahan teknis tempur yang pertama kali dilakukan oleh Komandan Batalyon Teratai adalah membagi pasukan menjadi tim kecil dengan jumlah 4 personel pada masing-masing tim. Pertimbangan AKBP Ibnu Hadjar Adhikara membagi pasukannya adalah karena garis pertahanan yang harus dijaga sangat panjang sehingga beliau memutuskan untuk membagi pasukan dalam tim kecil. Pada masa lalu, pasukan Pelopor memang terlatih bertempur dengan taktik tim. Namun yang dilupakan oleh AKBP Ibnu Hadjar adalah pasukan yang beliau bawa bukan Pelopor atau Ranger tahun 50-an dan 60-an melainkan anggota Brimob yang baru lulus dan tidak terlatih untuk bertempur dengan gaya Pelopor. Selain itu, taktik tempur dalam tim dipergunakan untuk ofensif dan dengan taktik hit and run. Taktik tempur tim sama sekali tidak akan efektif untuk bertahan. Pemahaman terhadap medan tempur juga mutlak diperlukan untuk menggunakan taktik tempur tim Pelopor.
    Pasukan Falintil yang bergerak mundur dari Bobonaro berjumlah sekitar satu Batalyon yang terpecah dalam kompi atau peleton. Mereka sebagian besar adalah bekas Tropaz yang berpengalaman tempur di Afrika. Taktik yang mereka pergunakan cukup cerdik untuk mengelabuhi pasukan Brimob Yon Teratai yang menghadang mereka. Pada hari Minggu Palma adalah hari Minggu yang sakral bagi para pemeluk Nasrani karena hari itu adalah bagian dari peringatan hari Paskah. Oleh karena itu, banyak penduduk yang pergi ke gereja. Rangkaian kejadian tragedi Minggu Palma diawali dengan kecurigaan anggota Brimob terhadap kerumunan orang yang baru saja pulang dari gereja. Mereka berkerumun seolah-olah akan melakukan aksi demonstrasi. Satu hal yang tidak dipahami anggota Brimob tersebut adalah para penduduk itu sebenarnya diperalat oleh Falintil untuk dipergunakan sebagai tameng manusia dalam rangka menutup gerak mundur mereka. Jumlah penduduk sipil yang berkumpul semakin siang semakin banyak dan mereka memulai aksi penyerangan terhadap aparat. Pasukan Falintil yang tidak mengenakan seragam menyusup ke dalam kerumunan dan menembak ke arah pasukan Brimob. Pasukan Brimob Teratai terpancing untuk menembak balasan sehingga yang terjadi adalah penembakan terhadap penduduk sipil. Situasi menjadi kacau sehingga Danyon memerintahkan pasukan untuk mundur. Mundurnya pasukan Yon Teratai ini dimanfaatkan dengan baik oleh Falintil untuk menempati posisi yang ditinggalkan. Pada siang menjelang sore yang terjadi adalah pertempuran antara Falintil dengan Yon Teratai.
    Pasukan Falintil dengan cerdik menerapkan taktik menguasai pos Brimob satu demi satu. Jumlah personel di setiap pos yang hanya 4 orang dan kebanyakan mereka tidak mempunyai pengalaman tempur harus berhadapan dengan pasukan Falintil bekas Tropaz yang ahli dalam pertempuran gerilya. Pasukan Brimob Yon Teratai kocar-kacir dan mereka lupa berkoordinasi dengan pasukan induk. Bukannya berkoordinasi, anak-anak muda anggota Brimob itu malah melarikan diri ke arah perbukitan dengan membuang senjata dan bahkan ada beberapa mereka yang membuang seragamnya.
    Kekacauan ini masih ditambah dengan bantuan tembakan artileri yang salah sasaran. Komandan Batalyon Teratai meminta bantuan tembakan artileri untuk menghadang laju musuh. Namun diluar dugaan, tembakan Howitzer jatuh di dekat posisi pasukan Brimob sehingga kekacauan semakin parah. Prajurit Satu Marinir Soemantri seorang anggota KIPAM mengingat kejadian itu, karena beliau pada waktu itu ditugasi untuk memberikan bantuan pada pasukan Brimob. Pada saat awal serangan posisi pasukan Marinir sudah berada di atas bukit mengejar laju mundur Falintil dari sisi lain bersebelahan dengan posisi Brimob Yon Teratai. Melihat kondisi kacau itu, komandan pasukan Marinir memerintahkan Pratu Soemantri mengamati keadaan. Pratu Soemantri kebingungan karena melihat banyak pasukan Brimob yang lari tunggang langgang dan tidak mau berhenti meskipun beliau berusaha menghentikannya. Pada masa Operasi Seroja setiap hari selalu ada kode yang harus diketahui anggota TNI atau Polri di wilayah operasi. Hal ini untuk membedakan anggota TNI/Polri dengan Falintil yang sudah melepas seragamnya. Pada saat akan memberikan bantuan, kode yang disampaikan Pratu Soemantri tidak pernah dijawab dengan benar oleh anggota Brimob sehingga beliau ragu-ragu. Karena khawatir justru menembak teman, Pratu Soemantri hanya mengambil posisi berlindung sambil menyiagakan AK 47-nya. Beliau hanya mengamati kondisi dan jika ada seorang anggota Brimob yang dikenali beliau segera memanggil dan mengarahkannya ke pos Marinir di atas bukit agar mereka mendapatkan pertolongan.
    Dalam sebuah wawancara pada bulan Maret 2010, Sertu (Purn) Soemantri menjelaskan jika saja anggota Brimob lebih tenang pada saat diserbu dan segera membuat garis pertahanan. Mereka sebenarnya bisa bertahan, tetapi karena panik semuanya menjadi tidak terkendali. Beliau juga melihat peran komandan di lapangan sama sekali tidak efektif untuk mengendalikan anak buahnya. Berdasarkan keterangan dari beberapa purnawirawan Brimob yang mengalami kejadian itu dan mereka tidak mau disebutkan namanya, Komandan Batalyon sangat panik pada saat pasukannya berhadapan langsung dengan Falintil dalam kondisi kacau. Pasukan Falintil sudah berhasil menembus pertahanan di Markas Batalyon, perintah yang diberikan oleh Danyon adalah membakar gudang senjata. Pertimbangannya jika markas Batalyon jatuh tidak ada senjata yang dikuasai musuh, tetapi secara psikologis keputusan membakar gudang senjata ini justru semakin menurunkan moral pasukan. Beberapa anggota Brimob Yon Teratai bahkan ada yang sengaja melemparkan senjatanya ke api dan kemudian melarikan diri. Danyon sendiri tidak diketahui posisinya apakah melarikan diri atau tewas dalam pertempuran.

      bejujag_aje berkata:
      Desember 17, 2010 pukul 2:45 pm

      Mas Anton…terima kasih udah berbagi untuk cerita ini, biarpun pahit tetapi tetap harus disampaikan..terus terang saya yang lahir dan besar dari keluarga Brimob, merasa sedih dan kesal jika peristiwa ini selalu dijadikan alasan oleh orang2 maupun aparat dari kesatuan lain untuk menjatuhkan nama besar Brimob. Padahal mereka yang menghujat (terutama aparat dari kesatuan lain) pd saat peristiwa ini pada belum lahir, tapi seakan sudah merasa lebih jago atau berpengalaman menghadapi pertempuran. Keep sharing Mas..

        trishadikara19 berkata:
        Maret 26, 2012 pukul 10:53 pm

        Pak Anton, terima kasih untuk keberanian memulai, menulis buku tentang Resimen Pelopor sebagai Pasukan Elite Yang Terlupakan.

        Kami, anak-anak dari Bapak Ibnu Hadjar Adikara, dalam hal ini diwakili oleh saya, Trish Adikara, ingin berbagi cerita dan pendapat, yang mungkin dapat memperluas wawasan kita sebagai generasi muda, yang tetap menghargai para pendahulunya, sebagai tauladan.

        Saya mengucapkan terima kasih atas versi revisi yang ditulis Pak Anton hari ini melalui Kompasiana, yang diambil berdasarkan wawancara langsung dengan ayah saya, Kombes POL (Purn) Ibnu Hadjar Adikara tertanggal 26 Maret 2012.

        http://sejarah.kompasiana.com/2012/03/26/kisah-perang-ops-seroja1-tragedi-minggu-palma-pertempuran-batalyon-teratai-vs-fretilin-di-bobonaro-11-april-1976/

        Mengutip buku tersebut, pada halaman 223, tertulis bahwa beberapa pekan setelah kejadian tersebut, Komandan Korps Brimob pada masa itu, Bapak Anton Soedharwo, melaksanakan upacara pemberhentian secara tidak hormat kepada AKBP Ibnu Hadjar Adikara, yang ditengarai oleh banyak pihak, sebagai upaya untuk menghindarkan beliau dari pengadilan mahkamah militer. Hal tersebut adalah sangat tidak benar. Setelah kejadian tersebut, beliau masih tetap aktif di Kepolisian, diantaranya sebagai Waka Dir Samapta POLDA Metro Jaya, dan pada tahun 1986 saat beliau menjabat sebagai Waka Denma Mabes POLRI, beliau memutuskan untuk pensiun dini. SK Pensiun resmi, ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada waktu itu.

        Sebagai anak dari Kombes POL (Purn) Ibnu Hadjar, saya menuliskan hal ini, sebagai bukti kebanggaan kami kepada beliau, dan betapa kami menghargai sikap beliau, yang tetap loyal kepada atasan dan cinta kepada anak buahnya. Sampai saat ini, alhamdulillah, beliau masih sehat, dan tetap aktif dalam kegiatan Ex Menpor/Ex Brimob.

        Kegagalan Batalion Teratai dalam operasi tersebut, seharusnya bisa menjadi cermin bagi generasi muda Brimob, bahwa dalam medan pertempuran, menang dan kalah adalah hal yang sangat biasa dan manusiawi. Tinggal bagaimana kita menyikapi hal tersebut.

        Wass Wr Wb,

        Trish Adikara

        dodytape responded:
        Mei 14, 2012 pukul 4:22 pm

        Sugeng rawuh dumateng mbak Trish…selamat bergabung

        Trish Adikara berkata:
        April 1, 2012 pukul 8:07 pm

        Ass Wr Wb,

        Mudah2an, tulisan dibawah bermanfaat bagi kita semua, dan menjadikan kita sebagai generasi penerus bangsa yang bisa menghargai jasa para pendahulu kita…

        TRAGEDI MINGGU PALMA, KISAH PERTEMPURAN YON TERATAI BRIMOB MELAWAN PASUKAN FRETILIN EX TROPAZ (Versi Revisi)
        Hasil wawancara dengan Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara, mantan Danyon Teratai Brimob Ops Seroja 1976, tanggal 26 Maret 2012.

        Dr (Cand) Anton A Setyawan, SE,MSi
        Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
        Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
        e-mail: rmb_anton@yahoo.com dan anton4setyawan@gmail.com

        Penerbitan buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan memicu banyak reaksi dari berbagai kalangan militer maupun Polri. Banyak diantaranya yang memberikan dukungan dan meminta untuk dilanjutkan penulisan secara lebih detail, namun demikian banyak juga saran untuk melakukan revisi karena ada beberapa bab yang dianggap kurang pas. Salah satu bab yang paling kontroversial adalah bab 10 yang membahas keterlibatan Brimob dalam Operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Versi pertama yang muncul dalam blog ini adalah hasil wawancara dengan para anggota Yon Teratai, tentu saja karena mereka tidak memegang jabatan komando tidak memahami garis kebijakan komando dari Brimob pada waktu itu.
        Dalam versi revisi ini saya menulis berdasarkan wawancara langsung dengan Komandan Batalyon Teratai Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara yang memahami bagaimana proses pembentukan pasukan, pemberikan perintah, perlengkapan dan penugasan batalyon ini. Beliau juga membeberkan secara detail tentang situasi pertempuran yang sesungguhnya dan pilihan apa yang harus beliau ambil dalam situasi sulit saat itu.
        Kami tim penulis sebelumnya mohon maaf kepada Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara karena dalam edisi sebelumnya tidak menyertakan versi beliau. Dalam tulisan ini yang juga akan menjadi bahan dari Buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan cetakan kedua, kami menyampaikan versi revisi dari kejadian Tragedi Minggu Palma 11 April 1976. Tulisan ini akan menjelaskan secara detail tentang bagaimana proses pembentukan pasukan, penugasan, perlengkapan dan operasi yang dijalankan Batalyon Teratai selama Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1976.

        PEMBENTUKAN PASUKAN
        Pembentukan pasukan Batalyon Teratai sejak awal memang bermasalah karena keputusan pembentukan pasukan ini hanya berdasarkan perintah lisan. Personel yang diambil dari pasukan ini adalah anggota Polri yang pernah bertugas sebagai anggota Resimen Pelopor. Secara resmi Resimen Pelopor sudah dibubarkan pada tahun 1972. AKBP Ibnu Hadjar Adikara hanya diberi waktu selama 3 hari untuk membentuk Batalyon Teratai. Pasukan ini kemudin merekrut anggota hanya berdasarkan data yang minimal dan ingatan para bekas anggota Menpor dan selanjutnya mengirimkan radiogram ke kesatuan yang baru.
        Pada hari ke 3 terbentuklah sebuah batalyon yang terdiri dari berbagai bekas Menpor yang bisa dikumpulkan dalam waktu 3 hari itu dan rekrutmen baru dari Brimob. Menurut Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara pasukan itu adalah pasukan yang pembentukannya asal comot. Namun demikian beliau tidak begitu khawatir karena penugasan pasukan ini hanya untuk penugasan territorial dan penugasan polisi di daerah konflik.
        Profil AKBP Ibnu Hadjar Adhikara sendiri sebagai komandan Batalyon Teratai sudah memenuhi syarat sebagai komandan sebuah batalyon tempur karena beliau lulusan PTIK tahun 1961, sekolah Infanteri lanjut di Fort Lavenworth dan Pendidikan Pelopor tahun 1961. Pengalaman operasi tempur beliau adalah memimpin kompi Brimob dalam operasi penumpasan DI/TII di Jawa Barat dan Sumatera, serta operasi penumpasan PRRI di Sumatera akhir tahun 1961.
        Komandan kompi dalam Batalyon Teratai merupakan kombinasi dari perwira bekas Resimen Pelopor tahun 1960-an dan rekrutmen Akademi Kepolisian tahun 1970-an. Kombinasi ini untuk menutup kekurangan perwira berpengalaman di jajaran batalyon Teratai ini.

        PERLENGKAPAN DAN PERSENJATAAN PASUKAN
        Pada masa kejayaannya tahun 1959-1968, Resimen Pelopor mempunyai perlengkapan yang hebat untuk menunjang penugasannya sebagai sebuah pasukan khusus. Namun demikan, Yon Teratai yang dianggap penerus Resimen Pelopor hanya mendapatkan perlengkapan seadanya. Persenjataan mereka adalah senapan serbu AR 15, namun demikian setiap anggota hanya dibekali amunisi sebanyak 70-100 butir. Banyak diantara para anggota ini juga tidak dibekali dengan perlengkapan logistik standar. Sebagai contoh mereka tidak membawa ransel maupun ponco, tetapi hanya membawa koper dari seng. Perlengkapan lain seperti granat peluncur maupun granat tangan juga tidak disediakan. Hal lain yang menyedihkan adalah pasukan ini hanya dibekali dengan peta tanpa ada kompas sebagai penunjuk arah. Radio komunikasi antara markas batalyon dan kompi di lapangan atau dengan peleton juga tidak disediakan. Padahal lazimnya pada pasukan tempur, pada level peleton tersedia radio komunikasi PPRC. Bahkan khusus pasukan Menpor dalam setiap tim tersedia radio PPRC untuk melakukan komunikasi.
        Senapan serbu AR 15 ini mempunyai kelemahan ketika digunakan pada medan kering dan panas, yaitu macet. Selain itu jenis senapan otomatis ini memerlukan ketrampilan menembak pada level ahli (level 2) karena akurasi bidikan dan mengatur irama tembakan diperlukan pada saat kontak senjata dengan intensitas tinggi.
        Sebagian besar anggota Yon Teratai yang berasal dari Brimob rekrutan baru belum memahami senapan AR 15 ini, mereka juga belum mendapatkan pelatihan menembak seperti anggota Resimen Pelopor. Mereka hanya mendapatkan latihan menembak pada saat pendidikan Brimob.

        PERUBAHAN PENUGASAN
        Penugasan Yon Teratai adalah sebagai pasukan polisi di daerah konflik dan bukan sebagai pasukan tempur, hal ini berdasarkan perintah dari Mabes Polri terhadap pasukan ini. Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara berpendapat jika penugasan sebagai pasukan polisi di daerah konflik dan bukan pasukan tempur, maka perlengkapan dan kualifikasi seperti itu sudah memadai.
        Perubahan perintah terjadi karena ada perintah lisan pada waktu pasukan sudah dalam perjalanan menuju Timor Timur. Pasukan diberi perubahan tugas untuk menjadi batalyon penyekat bagi pasukan Kogasgab yang sedang bertempur di Bobonaro. Pasukan ini terdiri dari Yon Linud dari Brawijaya dan sebagian dari Densus Alap-alap Brimob. AKBP Ibnu Hadjar Adhikara segera melaksanakan perintah dengan pembagian tugas mendadak di dalam kapal. Batalyon Teratai dengan jumlah 300 personel ini diminta untuk menutup wilayah kurang lebih seluas 2400 kilo meter persegi, padahal dalam teori, sebuah batalyon tempur dengan jumlah 600 personel hanya mampu menutup wilayah seluas 200 kilo meter persegi. Kita bisa membayangkan tingkat kesulitan yang dihadapi batalyon ini di Timor Timur ini, tetapi Danyon tidak mempunyai pilihan lain kecuali melaksanakan perintah.

        SITUASI PERTEMPURAN
        Tanggal 11 April 1976, pasukan Fretilin melakukan gerak mundur dari wilayah Bobonaro karena tekanan pasukan TNI dan Polri yang tergabung dalam Kogasgab. Sebagian besar pasukan Fretilin ini adalah pasukan Tropaz yang berpengalaman tempur di Mozambique, Afrika pada saat konflik antara Portugal dengan negara jajahannya di Afrika tersebut. Pasukan Tropaz ini sangat mengenal medan tempur di Timor Timur. Mereka adalah orang asli Timor Timur yang direkrut menjadi tentara Portugal.
        Pagi hari tanggal 11 April 1976, pasukan Kompi A Yon Teratai sudah berhadapan dengan pasukan Tropaz Fretilin, namun demikian pasukan Fretilin ini dengan licik menggunakan penyamaran berupa tameng manusia. Kompi A masih mampu menghadapi pasukan Fretilin, namun demikian karena kesulitan membedakan rakyat dengan musuh, mereka terjebak dalam kontak senjata dengan intensitas tinggi. Satu hal yang diluar dugaan adalah jumlah pasukan Fretilin ternyata lebih dari 1 batalyon dengan persenjataan lengkap.
        Kompi A kemudian terpaksa mengundurkan diri karena kehabisan amunisi. Pada sekat kedua Kompi B juga mengalami hal yang sama, hal ini diperburuk dengan ketiadaan radio komunikasi sehingga komandan kompi tidak mampu menghubungi markas batalyon dan kompi lainnnya sehingga koordinasi dalam pertempuran tidak bisa dilakukan. Kompi C sebagai sekat terakhir juga harus mengundurkan diri karena kehabisan amunisi. Selain itu, anggota pasukan juga banyak mengalami senjata mereka macet ketika ditembakkan.

        KEPUTUSAN DILEMATIS KOMANDAN BATALYON
        Pada saat itu Danyon AKBP Ibnu Hadjar Adhikara menghadapi situasi sulit ketika melihat kondisi pasukannya di lapangan. Beliau melihat beberapa anggota pasukan masih mempunyai semangat tempur tinggi, namun demikian tanpa amunisi bertahan di medan pertempuran sama dengan misi mati konyol. Pada waktu itu beliau memerintahkan pada staf batalyon dan semua kompi Yon Teratai untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Beliau memerintahkan agar semua senjata dan perlengkapan dibawa ke garis belakang dan menghindari kontak dengan musuh untuk meminimalisir korban.
        Dalam wawancara per telepon, beliau menyatakan bisa saja anak buahnya diperintahkan untuk bertahan sampai titik darah penghabisan, tetapi masalahnya mereka bertahan dengan apa karena amunisi sudah habis. Kalau bertahan pasti berakhir dengan mati konyol, dan beliau menyadari keputusan mundur dari pertempuran harus dipertanggungjawabkan kelak. Beliau juga menyatakan tidak ada senjata yang dibuang atau dibakar jadi semua personel tetap membawa senjata masing-masing meskipun dalam keadaan kosong.
        Beliau menyatakan opsi mundur dari pertempuran sesuai dengan standar pertempuran. Beliau juga menyatakan pada saat mundur AKBP Ibnu Hadjar Adhikara masih memimpin pasukan Yon Teratai dan tidak melarikan diri. Yon Teratai akhirnya mengundurkan diri di wilayah Tenggara Bobonaro.

        PASCA OPERASI SEROJA
        Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara menyatakan bertanggung jawab penuh atas perintah mundur pasukan Yon Teratai, beliau tidak menyalahkan anak buahnya maupun para perwira bawahannya. Dalam penyelidikan peristiwa itu beliau juga menyatakan berpegang teguh pada tradisi militer bahwa komandan tertinggi (danyon) yang harus bertanggung jawab. Sikap ksatria ini dihargai oleh Mabes Polri.
        Komandan Batalyon Teratai Brimob Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari Dinas Kepolisian, meskipun Mabes Polri mencegahnya karena dari sisi karier masih bisa dipertahankan. Beliau memilih mundur sebagai bentuk tanggung jawab keputusan beliau dalam situasi sulit di medan tempur Operasi Seroja. Pada akhirnya Kombes Pol Ibnu Hadjar Adhikara diberhentikan dengan hormat dari dinas Polri dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi. Pasca penugasan di Polri beliau banyak aktif dalam dunia bisnis dan juga sebagai akademisi. Pengalamannya semasa dinas, membuat beliau seringkali diminta memberikan konsultasi atau rekan diskusi para Perwira Tinggi Polri saat ini.

        dodytape responded:
        Mei 14, 2012 pukul 4:24 pm

        Waalaikumussalam ya ukhti… Marhab.

    edo mandala berkata:
    Desember 30, 2010 pukul 12:34 pm

    salam kenal pak.saya mau tanya teman saya dari sat II por namanya muksin,asal maluku.wktu tu terkena tembakan revolver 4 peluru di NAD.dan terakhir dirawat di RS Bhayqangkara SUMUT dgn kondisi sehat wal afiat.saya hanya ingin tau dinas dmn beliau skrg..trims

    ifan berkata:
    Januari 19, 2011 pukul 9:30 am

    ko lapangan bola nya mau di gusur c,,,padahal itu salah satu sarana olah raga buat semuanya..gimana anggota mau sehat kalo sarana nya di gusur terus….bravo sat II..

    Dave berkata:
    Januari 26, 2011 pukul 11:06 am

    Dear Mas Anton,

    Saya sudah baca bukunya yang berjudul “resimen pelopor pasukan elit yang terlupakan” bukunya sangat bagus dan bisa dipakai oleh para Brimob yunior utk membangun satuan pelopor ini minimal bisa menyamai resimen pelopor yang dulu.

    sekedar info untuk mas Anton mengenai operasi dwikora, bahwa satgas mandau dalam operasi dwikora masih dilanjutkan lagi dengan satgas Alang2 yang dipimpin oleh Kompol Hudaya sumarya yg punya tugas menjaga perbatasan dari Palok sampai siluar di kalbar. dalam pertempuran didaerah jagoi babang inilah satuan Menpor berhasil membunuh 53 orang dari satuan gabungan Sas inggris dan Ranger Sarawak malaysia sedangkan menpor kehilangan 5 orang personil. ( buku sejarah Polri).

    Untuk Operasi Timtim: dengan dipanggilnya kembali para anggota menpor yang sudah berdinas ditempat lain sebenarnya merupakan bentuk pengakuan dari pemerintah orde baru terhadap kemampuan personil menpor yang tidak perlu diragukan lagi meski ada satuan brimob dari yon teratai yang gagal tetapi tidak bisa dijadikan justifikasi bahwa brimob gagal total di timtim. suka,tidak suka sebuah pasukan harus belajar dari satu pertempuran ke pertempuran berikutnya. dari medan lagalah pengalaman diraih dan doktrin disempurnakan. dari semua operasi2 inilah, misi2 seperti unconventional warfare, foreign internal defence, special reconnaisance, direct action, behind enemy lines, border patrol wis dilakoni oleh menpor.

    Mas Anton, untuk materi Bala juga diajarkan tehknik pelarian/pelolosan/ escape seperti yag ditulis oleh Brigjend Pol Sutrisno Ilham ex. Kas menpor dalam bukunya Pak Anton Sudjarwo. ini sekaligus menjawab diskusi di web site au yang mengatakan brimob/Menpor tidak diajarkan materi pelolosan. sesungguhnya doktrin pelopor dengan rimba dan laut/BALA itu memiliki perbedaan. Kalau Pendidikan Pelopor untuk menghadapi gerilya anti gerilya sedangkan Bala untuk menghadapi komando anti komando.

    Mas Anton Kalau melihat gaya bertempur menpor agaknya mirip Sas inggris yaitu beroperasi dalam unit2 kecil 3 – 5 orang seperti dalam satgas mandau dan satgas alang2 tetapi sejarahnya mirip dengan US ranger karena pernah bubar hampir setengah abad 1880 – 1942 dan dibentuk kembali tahun 1942 oleh William Darby lulusan akademi militer wespoint.begitu juga pelopor yang pernah bubar 1970 dan baru dibentuk kembali tahun 1997.

    mungkin Mas Anton tetap mencari info lagi untuk bukunya biar lengkap lagi karena operasi DI/TI di Jampang tengah sukabumi yang dilakoni oleh kompi 5995 ranger belum tertulis, pengmbilalihan penjagaan pelabuhan tanjung priok dari KKO kpd menpor, operasi tumpas pemberontakan OPM di irian dll. Aku pengen tahu ceritera detail bubarnya kompi C menpor akibat penyerbuan ke mako brimobda jabar ini mas.

    sebagai satuan elit yang lahir pertama kali direpublik ini, mungkin sebaiknya brimob tetap mengadopsi latihan2 Ranger/pelopor dengan membangun pusdik baru di pelbuhan ratu sebagai Ranger/Pelopor training Brigade selain Pusdik watukosek dan Brimob bisa menggunakan doktrin militer karena brimob adalah para militer yang hanya merupakan bantuan teknis Di Polri yang tugasnya jelas berbeda dengan Polisi biasa. kalau menggunakan doktrin polisi mungkin akan repot dalam penyergapan gerombolan di hutan seperti diaceh. mosok musuh yang punya kemampuan militer dan gerilya di teriakin suruh nyerah, yang ada si penyergap balik disergap. mungkin kalau gerombolan kelas teri ya okelah. tapi kalau sekelas Al Qaeda, Nanti dululah.

    Anton A Setyawan berkata:
    Januari 27, 2011 pukul 11:13 am

    Dear Mas Dave

    Terima kasih atas tanggapan dan dukungannya, jika buku ini mendapat kesempatan untuk cetak kedua, karena hal ini sangat tergantung dari penerbit, saya berjanji akan melakukan beberapa perubahan untuk melengkapi sejarah Operasi Militer Menpor. Saya juga tidak mendapatkan informasi tentang Operasi Militer DI/TII Ibnu Hadjar di Kalsel tahun 1960.
    Ada juga tanggapan menarik dari teman-teman di Satuan Gegana yang menginginkan adanya buku tentang satuan ini. Saya sanggup untuk menulisnya dengan catatan ada narasumber yang bersedia diwawancarai dan mereka memang terlibat dalam operasi yang dilakukan satuan ini. Mungkin teman2 di forum ini ada info tentang hal itu, saya dengan senang hati akan menulisnya.

    Anton A Setyawan, SE,MSc, Dr Cand
    Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta

    anwar brimob non pelopor berkata:
    Februari 6, 2011 pukul 5:16 pm

    saya brimob di makassar,sejak masuk menjadi anggota brimob memang sedikit banyaknya sdh tau ttg kehebatan MENPOR jaman dulu,terus terang saya sangat bangga dgn berbagai cerita eksistensi MENPOR,tapi sayang PELOPOR itu sdh hilang.memang kami di daerah mungkin takkan bisa menjadi PELOPOR yang sesungguhnya,karena saya sdh baca buku ttg RESIMEN PELOPOR PASUKAN ELIT YANG TERLUPAKAN,betapa beratnya resiko untuk mendapatkan kwalifikasi PELOPOR seperti jaman dulu…dibandingkan kami sekarang di daerah dengan gampangnya memasang lambang PELOPOR di bahu kiri dan kanan,..malu rasanya untuk memakai lambang tsb setelah saya baca buku ttg MENPOR.Seandainya bukan karena tuntutan(wajib pakai) dinas,saya akan mencopot lambang tsb dari semua uniform yang saya pakai saat ini.dan biarlah kebanggaan ttg PELoPOR hanya tertanam dalam hati.yang saya pikirkan sekarang bagaimana menjadi anggota brimob yang berusaha profesional dan taat hukum,berlatih dan terus berlatih walau hanya menjadi seorang BRIMOB BIASA.

    Anton A Setyawan berkata:
    Februari 19, 2011 pukul 12:23 pm

    Yth Mas Anwar,

    Saya kira Brigade Mobil non Pelopor juga berhak atas kebanggan pasukan Brimob, dalam salah satu Bab di Buku Menpor, ada cerita tentang Agen Polisi Daliman dan Agen Polisi Yakob Maleoko. Beliau berdua adalah penerima Bintang Sakti dan langsung terlibat dalam pertempuran di Tanjung Fatagar melawan Marinir Belanda di dalam Operasi Dwikora. Sebagai catatan, beliau berdua bukan anggota Pelopor melainkan dari Batalyon Perhubungan dan sampai pensiun tidak pernah mendapatkan badge Pelopor. Oleh karena itu, saya setuju bahwa anggota Brimob saat ini mungkin bisa meniru semangat dan pengabdian para anggota Pelopor dan Brimob di masa perjuangan, yang tidak menghitung apa yang akan mereka dapat dari karier mereka tetapi selalu memberikan yang terbaik untuk negaranya.

    Hormat saya,

    Anton A Setyawan
    Penulis Buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan

      awo berkata:
      Maret 21, 2013 pukul 10:19 pm

      Halo Mas Anton!…………… Saya BERSYUKUR dan SANGAT ANTUSIAS dengan kehadiran Buku RESIMEN PELOPOR Pasukan Elite yang Terlupakan karya Masy Anton. Saya adalah Guru PKN SMP kelas 7, 8, 9 di kota Bandung, banyak melakukan “Improve” terhadap Kurikulum KTSP mata pelajaran PKN SMP terkait materi PKN SMP kelas 9 Bab I tentang Pembelaan Negara, yang mana di dalamnya miskin Fakta Sejarah maupun terkini terkait peran POLRI sebagai penanggungjawab keamanan dalam negeri. Setelah saya baca buku “RESIMEN PELOPOR Pasukan Elite yang Terlupakan” Karya Mas Anton dan Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang:Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia oleh Ridwan Yasin, baru saya menyadari bahwa ada fakta sejarah yang hilang dari Republik ini dan saya adalah hasil dari sistem pendidikan di Zaman Orde Baru yang banyak sekali mengalami cuci otak terkait manipulatif fakta sejarah perjalanan bangsa dan salah satunya adalah RESIMEN PELOPOR BRIMOB yang LEGENDARIS itu!.. Dan sebagai bentuk syarat kelulusan dari Mata Pelajaran saya dengan KKM 80 ketuntasan Belajar, maka saya memerintahkan semua siswa didik saya untuk “Inquiry” dan “explorer” secara mandiri dan di supervisi langsung oleh saya terkait 2 materi utama di atas tadi yang harus siswa didik saya cari di Toko Buku Gramedia dan Internet. Hasil akhir dari penugasan ini adalah Tugas Kliping Individu, Presentasi Kelompok dan Papercraft. Saya BERSYUKUR karena siswa didik saya bisa dapatkan informasi langsung yang berkualitas dan dapat menuntaskan tugas yang saya berikan dalam mata pelajaran PKn terkait materi sejarah KORPS BRIMOB dan RESIMEN PELOPOR BRIMOB………
      Balas

    Pembaca_Setia berkata:
    Februari 23, 2011 pukul 1:33 pm

    Kpd Bung Anwar,

    Buku RESIMEN PELOPOR PASUKAN ELIT YANG TERLUPAKAN adalah salah satu buku sejarah Brimob.

    Tetapi ada juga buku2 yang ditulis oleh mantan anggota Brimob dan selain anggota Brimob tentang Brimob. Maka dari buku2 tersebut kita dapat menilai bagaimana Brimob pada waktu dahulu.

    Dalam Buku Memoar Jasin sang polisi pejuang

    D
    iceritakan bagaimana ketika panglima besar Sudirman meminta kepada komandan P3/Mobrig untuk menangkap mayor Sabarudin yang membuat onar dan menangkap Mayjen Mohamed (Komandemen TKR Jawa Timur) di MBT (Markas besar Tentara) Jogya padahal saat itu di MBT Jenderal Soedirman dan Letjen Oerip Soemohardjo sedang memimpin rapat.

    Pada saat menerima perintah dari Pak Dirman komandan P3/Mobrig mengatakan kenapa buka panglima divisi saja yang menangkap. Pak Dirman menjawab “panglima divisi itu takut kepada mayor Sabarudin, makannya saya suruh anda, semua tangung jawab panglima besar yang menanggung”.

      anwar berkata:
      Februari 25, 2011 pukul 9:19 pm

      buat mas anton trims atas bukunya,terus terang saya sangat bangga dengan almamater kami korps brimob,namun tak bisa saya sembunyikan rasa haru dalam hati tentang perjuangan MENPOR jaman dulu ketika saya membaca buku RPPEYT.Banyak yang baru saya ketahui tentang sejarah Menpor dan perjuangannya.saya harap mas anton jangan bosan2 menulis tentang Brimob,soalnya saya yakin masih banyak sejarah yang hilang tentang brimob dan tak pernah dipublikasikan.

    Jurit berkata:
    Februari 27, 2011 pukul 2:21 pm

    Sejak tahun 1997 sampai sekarang brimob belum dilatih dengan baik padahal negara kacau terus dan polisi sebagai penjaga keamanan dalam negeri masih loyo gak mampu. apa polisi ngak punya konsep? klau ngak punya mending kasih tentara aja dan kalian bisa tidur makan gaji buta terus.

    andy prasetyo berkata:
    Maret 31, 2011 pukul 6:04 pm

    assalamualaikum. slamat pagi pak haji koswara. saya adalah salah satu anggota security target didikan pak haji tahun 2006. saya ucapkan trima kasih banyak atas segala ilmu yg dah bapak sampekan ke saya.semoga ilmu ini kan bermanfaat buat saya dan lingkungan saya. amin.trima kasih. 813 pak. assalamualaikum

    salihudin berkata:
    April 2, 2011 pukul 10:21 am

    mas sy mau tanya kok semua anggota brimob sekarang memakai brevet terjun / PARA lalu brevet pemburu padahal kan itu milik infanteri AD terimakasih

      Lafaek Pelopor 48 berkata:
      Desember 7, 2011 pukul 8:34 pm

      Memang tidak semua Brimob Pernah ikut Pendidikan Pemburu….Saya adalah salah satu yg pernah ikut pendidikan Pemburu – Rajawali IV di Batujajar, totalnya hanya 1 kompi yg secara sah pernah menerima sertifikat Pemburu. Prestasi kami pun tdk jelek2 amat saat latihan…Saat kunjungan Bapak Kiki sanakri saat meninjau latihan Sermujam bahkan yg memerakannya adalah dari Regu Brimob dan saya sendiri yg memimpinnya, waktu ditanya kenapa Brimob yang peragaan, jawab pelatih karena Saat itu regu kami yang dianggap baik, begitu pun saat latihan PJD di Sespursus Regu Brimob berhasil tampil baik, kalau tdk percaya anda boleh tanya para pelatih kami di Batujajar (Iptu I Ketut Sien (Dooper), Kapten Max Rorong (Lorong Reaksi), dll). Kami sangat bangga bisa menjadi bagian dari Almamater Batujajar.Salam buat para pelatih kami….
      Kalau brivet para mah….dari dulu sudah ada..bahkan jaman pelopor dulu sudah ada sekolah Para di Pusdik Brimob Watukosek yang bekerja sama dengan Marinir Mas….kami dulu bahkan sudah punya kompi para….Begitu….
      kenapa sekarang banyak yg pakai,….saya juga pake karena saya juga sudah ikut pelatihan Para mas…kami pake parashut MC11B kalau dulu sih pake 10T begitu….mas, sekedar info…..

        Indonesia berkata:
        Maret 13, 2012 pukul 3:45 pm

        Salam Komando

    budi berkata:
    April 5, 2011 pukul 3:39 pm

    memang orang kita katanya anti militer tapi banyak yag militeristik,kalau jadi polisi ya piisi aja nggak usah gaya miiter,pakai senapan serbu, RPG,mortir dan mau minta panser segala
    ya ini yag bikin TNI polri gak akur.ribut melulu,ya percuma reformasi tapi malah balik kayak tahun 50 an om.

      Lafaek Pelopor 48 berkata:
      Desember 7, 2011 pukul 8:37 pm

      Kami tidak sok militer mas….kami para-militer….bukan Militer…tau bedanya kan..??

    brimobku berkata:
    Mei 11, 2011 pukul 11:00 pm

    buat brimob pelopor: KAMU ITU YANG SIAPA???
    memang benar ko brimob minta diselamatkan , bahkan ada yang menyerahkan senjata. kalo tidak percaya silahkan ke aceh dan tanya masyarakat disana.


    kalo bisa,disebutkan pak,brimob dari kesatuan mana(karena brimob itu se-Indonesia),namanya siapa.satuan yang dimintai tolong darimana. kapan dan diwilayah mana.
    klo semua pembaca blog disuruh ke aceh buat nanyain,aceh kan luas.klo di wilayah Bieureun pernah ada kayak gitu,tapi kebalikannya.

    polisi endud berkata:
    Mei 11, 2011 pukul 11:06 pm

    dasar pembaca setia, makanya itu sekarang polisi banyak sekali konflik dengan TNI ya gara” si brimob di umpanin nangkap jendral AD, efeknya ya liat aja sekarang.

      yogi berkata:
      Agustus 29, 2012 pukul 12:46 am

      alah brimob apaaan ,,pada dasarnya mau polisi pangkt kecil sampe jenderal klo ribut yang namanya si tni past pikir2 duu pati modar nantinya

    Didi berkata:
    Mei 13, 2011 pukul 11:37 am

    Buat Salihudin,

    Kalau boleh saya tebak anda baru berumur 10 tahun dan masih sekolah di SLB sehingga anda tidak tau apa2.

    sejak abad pertama brimob sudah menggunakan bermacam2 brevet sesuai dengan keahlian mereka. jadi kalau anda hari gini baru mempertanyakan hal2 yang sudah basi. ketahuan anda TOLOL bgt.

    Buat Budi,

    bentar lagi brimob bakal punya pesawat tempur, tank, aneka rudal termasuk rudal antar benua so anda tinggal manggut2 aja ntar.

    iwan berkata:
    Mei 30, 2011 pukul 2:00 am

    korps brimob is the best

    baeyhaqi bae berkata:
    Juni 4, 2011 pukul 12:30 pm

    ”JADILAH BRIMOB BUAT DIRI SENDIRI” RESIMEN I / SAT II PELPOR TAMPIL BEDA;;;; BUKAN MEREKA APA ADANYA,,, SALAM BUAT ATLAS ’2000 DINUSANTARA..

    Adi Rahmad Pinim berkata:
    Juni 28, 2011 pukul 5:54 pm

    hebat dan patut dibanggakan>>>>bravo buat Sat Pelopor maju terus pantang mundur

    Qunthung Dikromo berkata:
    Juli 30, 2011 pukul 5:48 pm

    kakekku dulu pelopor,pernah terjun malam di tim tim jatuh di dapur masyarakat untung gak di markas pemberontak,lempar sangkur jagonya walau udah tua,tinggal satu kenangan pas foto menggendong megawati waktu bayi,tapi sayang beliau udah wafat

    manan berkata:
    Agustus 8, 2011 pukul 5:59 pm

    Brigade Mobil oh…..pelopor……

    MARSUTIYO berkata:
    September 17, 2011 pukul 2:03 pm

    Salam buat bang Elman, kemana aja…
    Saya bangga terhadap Sat2 Pelopor Brimob Kedung Halang, saya setiap lewat depan Kesatuan, bangga dan sedih seolah2 adik saya masih tugas disana, dia (adik saya) Alm. ANTONIUS SUTIKNO (dulu tugas dikompi yang kantornya paling depan) meniggal saat Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh. Dia tugas di Pos Penjagaan Ds. Lambadeuk – Pekanbada – Aceh Besar, eks Puskesmas, satu kilo dari bibir pantai, bangunan rata hanya tinggal pondasinya saja. Saya pengen melihat pos jaga-nya, walau mungkin sekarang sudah tidak ada…mudah-mudahan saya bisa kesana, doakan ya…. sekarang almarhum istirahat di Pemakaman Katolik Gunung Tanjung – Rangkasbitung – Lebak. PROFISIAT BRIMOB –MAJU PANTANG MUNDUR–

    Syahril Machmud Oku berkata:
    September 24, 2011 pukul 12:00 am

    Saya bangga dengan KORP BRIMOB ………. saya cukup lama tinggal di Watukosek (Ayah saya adalah salah satu instruktur KESLAP di PUSDIK BRIMOB Watukosek dari tahun 1959 s/d 1972). Saya tahu persis, bagaimana pembentukan BRIMOB ketika itu. Gunung Penanggungan, Gunung Perahu, dlsb adalah saksi bisu bagi insan-insan BRIMOB yang dibentuk di Watukosek.
    Saya juga sangat bangga dengan RESIMEN PELOPOR (MENPOR) yang saat itu dipimpin oleh KOMBES ANTON SUDJARWO. Kemampuan tembak sasaran/jitu yang diujudkan dalam demonstrasi tembak balon yang diapit oleh dua kepala anggota MENPOR yang lain, dimana penembaknya dengan menggunakan cermin kecil dalam membidik sasarannya. Kemampuan tembak seperti ini, dimiliki oleh setiap anggota MENPOR.
    Sekarang …. di setiap POLDA di seluruh Indonesia, memiliki apa yang disebut dengan PELOPOR. Dulu ….. PELOPOR hanya ada di dua tempat ….. 1). Watukosek dan 2) Kelapa Dua. Yang ada dibenak saya …… apakah sama kemampuan PELOPOR yang dulu dengan PELOPOR yang sekarang yang jumlahnya begitu besar ……… ???? kemampuan tembaknya …… ??? kemampuan phisiknya …… ??? JAYALAH TERUS KORP BRIMOB POLRI ……… SAYA TETAP BANGGA ……..

    DEDEK IRWANTO berkata:
    Oktober 7, 2011 pukul 4:18 pm

    ijin,………….jgn sesumbar,jgn bangga dan jgn sombong,kt semua manusia sehebat apa sih kita, sejago apa sih kita.kt di biayai negara untuk ngamanin negara ini ngapain cerita hal yg ga perlu didengar karena tidak ada kecap no 2 semua nomor 1.apalagi kl cerita ttg kesatuan kita.sekarang ini bagaimana caranya kita bisa akrab dan saling berkerjasama mengamankan negeri ini dan mempertahankannya.krn diatas ini semua tetap tuhan yg maha kuasa, krn cerita sesumbar yg ga pas bisa membuat awan menjadi lawan. ……UNIFIIL INDOBATT 2010 Sergt. Major

      dodytape responded:
      Oktober 16, 2011 pukul 2:05 pm

      terimakasih Mas udah kasih masukan buat blog ini. Mas Dedek memang benar, tidak ada pasukan yang paling hebat dimuka bumi ini. Tim SIX nya Navy Seal Amerika yang notabene “ELITE” aja bisa di”merah”kan ama Al Qaeda di Afghanistan. Dan Tuhan adalah Yang Maha Segala-galanya. Tiada maksud tulisan ini dibuat untuk sesumbar ataupun menyombongkan diri. Namun niat menulis ini adalah ingin menunjukkan pada masyarakat,bahwa Indonesia(khususnya kepolisian RI) memiliki satuan yang bernama Sat II Pelopor.Jangan seperti yang sudah2,karena kurangnya tulisan tentang kepolisian, akhirnya buku2 sejarah sedikit yang memuat tentang perjalanan Polisi Negara ini. Dari awal tidak ada penulis yg mendiskreditkan, mengecilkan satuan lain.Apalagi Paman saya seorang Mayor dan Serma TNI AD, sodara sepupu seorang Letda baru lulus AKMIL dan temen sekelas SMU banyak yang menjadi Perwira AL(kemaren juga gabung Unifil Indobatt 2008, barengan pas saya di UNAMID).Mungkin ada komen2 yang nyerempet2,itupun saya liat sebagai counter terhadap komen2 yang bernada sumbang di tulisan ini(misal:sodara jinimuh dan sodara fighter).
      So, saya juga mendukung, mari,apa yang kita lakukan, untuk masyarakat,bangsa dan negara.

    danang mustofa berkata:
    November 2, 2011 pukul 10:58 am

    PASUKAN KHUSUS POLISI MALAYSIA Sep 10, ’10 9:03 PM
    untuk semuanya
    Pasukan Gerak Khas (Bahasa Melayu: Pasukan Gerakan Khas) atau Pasgeras merupakan sebuah satuan khusus Kepolisian Kerajaan Malaysia (Bahasa Melayu: Polis Diraja Malaysia, PDRM), satuan gabungan antara batalyon Komando Khusus 69 dan Unit Tindak Khas. Pasukan khusus berbaret maroon dan perang pasir ini dilatih khusus dalam menghadapi kegiatan teror, penyanderaan dan tindakan kriminal khusus lainnya di Malaysia.

    Pasukan Gerak Khas dirancang khusus sebagai unit elite yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris dan kejahatan kriminal mulai dari ancaman perampokan bersenapan hingga penyanderaan. Kekuatan personil unit khusus ini adalah rahsia diperkirakan efektif beroperasi pada Oktober 1997 dan terdiri dari ahli investigasi, ahli pelaksana C4-I, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu. Tiap personel PGK ini memiliki spesialisasi dalam operasi sekaligus di tiga matra, yakni di darat, laut, dan udara.

    TUGAS
    Peran satuan Pasukan Gerak Khas meliputi:

    Pengumpulan intelijen khusus dalam misi pengintaian dan operasi penanggulangan.
    Mendukung pasukan khusus Angkatan Bersama Malaysia lainnya, infanteri atau unit RDF dalam operasi menanggulangi-teror di dalam negara.
    Melaksanakan operasi khusus untuk mendukung Divisi Pengawasan Khusus PDRM dalam memerangi organisasi subversif atau aktivitas teroris.
    Penegakan hukum dalam tugas menumpasi aktivitas kriminal bersenapan di dalam negara.
    Operasi penanggulangan-teror di luar Malaysia, seperti Operasi Astute di Timor Leste.
    Tugas SAR di dalam dan luar Malaysia, seperti tsunami di Acheh, Indonesia.
    Tugas perlindungan terbuka melindungi Yang DiPertuan Agung, raja-raja Malaysia, menteri dan VVIP ternama serta diplomat.

    FUNGSI
    Unit Tindak Khas memiliki fungsi setara korps SWAT Amerika Serikat ini ditugasi menangani aktivitas kriminal bersenapan di pekan dan perkotaan dan juga untuk peran perlindungan terbuka.[2] UTK dibentuk selepas kasus sandera di bangunan AIA Kuala Lumpur oleh JRA (Japanese Red Army, Tentara Merah Jepang) pada Agustus 1975. Manakala Komando Khusus 69 (karena dibentuk pada tahun 1969) asalnya adalah batalyon khusus Field Force atau Pasukan Polis Hutan (PPH, kini Pasukan Gerakan Am) melaksanakan operasi militer di tengah hutan bersama pasukan khusus AB Malaysia untuk menanggulangi insurgensi komunis pada tahun 1969 dan sukses dalam memadamkan aksi-aksi separatis komunis. Setelah redanya teroris komunis pada tahun 1989, VAT 69 mengalami masalah dengan keberadaannya. Dilatih khusus oleh Special Air Service, prajurit Komando Khusus 69 kini memiliki spesialisasi dalam intelijen tempur.

    Ahli penembak jitu dan ahli penjinak bahan peledak (Jihandak) satuan ini pernah mendapat pelatihan khusus dari satuan elite asing Special Air Service (Australia, Selandia Baru dan Inggris), Pasukan Patroli Perbatasan (Border Patrol Police) Kepolisian Kerajaan Thailand dan beberapa unit-unit khusus Amerika Serikat seperti US Navy SEALs, FBI, Special Weapons and Tactics (SWAT) serta satuan elite lainnya. UTK diberi baret maroon dan Komando Khusus 69 dianugerah baret perang pasir, yaitu baret kebanggaan yang dianugerah oleh instruktur dari Britania’s SAS (Special Air Service).

    Pada 14 Nopember 2006, adalah menjadi sejarahnya bagi PGK apabila kepala pemerintah kerajaan Malaysia, Duli Yang Maha Mulia Seri Paduka Baginda Yang Di-Pertuan Agung Tuanku Syed Sirajuddin Syed Putera Jamalullail berkenan menganugerahnya baret Komsus 69 dan Unit Tindak Khas sebagai Baret Diraja sempena pensiunnya sebagai Yang Dipertuan Agung di Markas Latihan Polisi (Bahasa Melayu:Pusat Latihan Polis, PULAPOL) Jalan Semarak, Kuala Lumpur.

    PERLENGKAPAN
    Sesuai kualifikasinya sebagai satuan khusus PDRM, Pasukan Gerak Khas dibekali dengan persenjataan dan perlengkapan bantuan untuk mendukung operasi anti-teror dan kriminal. Disedianya daftar persenjataan dan perlengkapan PGK. Satuan pasukan anti-teror PDRM ini dilengkapi dengan persenjataan khusus buatan Amerika dan Eropa, di dalamnya terdapat pistol, shotgun, senapan submesin, senapan serbu, karabin, senapan penembak jitu, senapan mesin, dan pelontar granat.

    Pistol semi-otomatis merupakan pistol yang popular dalam mana-mana satuan pasukan khusus. Di dalam satuan ini terdapat, pistol khusus seperti Glock 17, 18 dan 19, H&K Mark 23 dan USP Compact, Sig Sauer P2022 dan pistol siri STI (di dalamnya terdapat STI Tactical 5.0, STI Grandmaster dan STI Lawman M1911A1).

    Senapan submesin khusus pilihan PGK yaitu Heckler & Koch MP5-A5, MP5-N, MP5K-A4, MP5-SD3, MP7A1 dan UMP yang menggunakan kapasitas peluru 9 mm (UMP 9 merupakan sistem senapan submesin yang paling banyak dimiliki oleh tim-tim Respons Krisis di semua jajaran kesatuan PDRM selain satuan khusus PGK dalam situasi memerangi segala gangguan krisis.).
    Shotgun yang diguna oleh satuan ini yaitu Benelli M3 Super 90, SPAS-12, Remington M870 dan M1100 dan Mossberg 590.

    Senapan serbu dan karabin PGK seperti karabin Colt M4A1 yang dilengkapi dengan perlengkapan khusus SOPMOD Block I, H&K 416 Commando dan karabin H&K G36C buatan Jerman dan Steyr AUG A2 yang diguna oleh Komsus 69. Karabin Colt M4A1, H&K 416 dan G36C diguna oleh tim khusus PDRM jika terdapat operasi yang membutuhkan polisi menggunakan senapan jarak jauh. Senapan penembak jitu seperti Accuracy-International PM, H&K PSG-1A1 dan Remington M700 diguna oleh ahli penembak jitu atau penembak runduk. Senapan mesin khusus seperti FN Minimi dan M60E2 dan senapan pelontar granat yaitu H&K AG-36, M79 dan M203 juga diguna oleh PGK.

    KENDARAAN TEMPUR
    Untuk meningkatkan mobilitasnya, satuan khusus ini memiliki kendaraan lapis baja Commando V-150D dan GKN Sankey AT105 yang dilengkapi dengan senapan mesin M60E2 oleh Pasukan Gerak Umum sebagai kendaraan tempur didarat khususnya di kawasan perkotaan dan hutan serta mengubahsuai mobil polisi (Bahasa Inggris:Mobile Patrol Vehicle, MPV), trak, van dan bas sebagai mobil taktis. Bagi pertempuran maritim pula, unit ini dibekali dengan bot tempur, jet ski dan Marine Subskimmer (bot selam mini) untuk pengoperasian amfibi dan diperairan.

    Sementara bagi kebutuhan operasi melalui udara, Pasukan Gerak Khas menggunakan pesawat angkut khusus jenis C-130 Hercules yang dipinjamkan daripada Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (TUDM) dan pesawat udara milik Unit Udara PDRM sendiri seperti Cessna 206G, Cessna 208 Caravan 1 dan Pilatus Porter PC-6 bagi pengoperasian unit payung terjun dan HALO/HAHO serta helikopter jenis E-Squirrel AS-355 F2/AS-355N bagi tugas pengintaian, rappelling dan abseiling. Semua perlengkapan yang dimiliki, termasuk materi persenjataan, perlengkapan bantuan, latihan, logistis dan mobil-mobil angkut dan taktis Pasukan Gerak Khas PDRM ini sama persis dengan apa yang dimiliki oleh satuan khusus antiteroris Amerika Serikat dan Angkatan Tentara Malaysia.

    PUSAT OPERASI
    Pusat operasi Pasukan Gerak Khas ini berpusat di Mabes PDRM Bukit Aman dan terbagi kepada 2 kawasan yang ditugasi oleh 2 detasemen PGK ini. Silahkan lihat data kawasan yang diberi.

    Data kawasan tanggungjawab PGK
    PGK Detasemen Unit A
    Johor
    Melaka
    Negeri Sembilan
    Selangor
    bandara Federasi Kuala Lumpur

    PGK Detasmen B
    Perak
    Pahang
    Perlis
    Penang
    Kedah
    Kelantan
    Terengganu

    darso wiyono sukap berkata:
    November 8, 2011 pukul 4:03 pm

    tolong dong pak kalau di penugasan brimob jgn asal nembak2, masak musuh masih 1 KM udah nembak duluan, mana disiplinnya ???? gmana musuh ga kabur habis tu gantian brimobnya di sergap am musuh, makanya di penugasan brimob bnyk yg mati, suruh masuk hutan ga mau, maunya di penggir jalan, am di pinggir kampung terus nakutin masyarakat , kalau ada wartawan macam rambo lari sana, lari sini ???? tolong dong pak Komandan kasih disiplin yg keras biar anggotanya se-disiplin Militer,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

    Muhamad Rusli berkata:
    November 10, 2011 pukul 10:25 am

    Gimana kalau lulusan SMK daftar ke sini Bisaga ??

      dodytape responded:
      November 10, 2011 pukul 8:06 pm

      trimakasih buat kunjungannya Mas Rusli. Maksutnya daftar apa ya? Kalo daftar anggota Polisi,baeknya sampeyan langsung mendaftar melalui POLDA terdekat. Untuk informasi telah dibuka pendaftaran ato tidaknya,coba cek di http://www.polri.go.id ,ato tanyakan di polsek ato polres terdekat. Trus kalo SMK biasanya yang jurusan teknik(stm).untuk lebih lanjut,liat persyaratan waktu dibuka pendaftaran(karena persyaratan tiap penerimaan belum tentu sama).demikian.

    ALEK berkata:
    November 20, 2011 pukul 12:07 am

    EH PAK …KALO SDH JADI POLISI YA POLISI AJA DONG……
    JGN SOK2 MILITER GITU……. ENEK JADINYA TAU…..
    SAYA SBG MASYARAKAT BIASA LIHAT BRIMOB INI LEBIH BAIK BUBAR AJA….
    MENDING JADI POLISI UMUM AJA…… KRN DIBILANG POLISI BUKAN,,,, MILITER JUGA BUKAN…..
    APA GABUNG AMA SATPOL PP AJA… KAN SERAGAMNYA SAMA TU……

      setia berkata:
      Desember 3, 2011 pukul 4:23 pm

      justru satpol pp yg ikut2 brimob bro,….wake up bro that’s the fact

    ALEK berkata:
    November 20, 2011 pukul 12:15 am

    SETELAH SAYA BACA KARTIKEL ANDA….. JGN BANGGA-BANGGAIN DIRI SENDIRI DONG….. SEKALI ANDA POLISI YA TETAP POLISI…….. SEMUA ORG DI INDONESIA INI JUGA TAHU KALO YG PERANG DULUNYA ITU TENTARA …. BKN MAKSUD SAYA BELA TENTARA…… KRN KATANYA BRIMOB DILATIH TENTARA AS …. KENAPA NGGAK MINTA DILATIH SAMA POLISI AS AJA….. KALO SAYA LIHAT BRIMOB INI PENGEN KALI PAKAI BAJU LORENG SAMPAI CIPTAKAN LORENG SENDIRI…. APA ITU NAMANYA POLISI GILA PENGEN JADI TENTARA MUNGKIN YA….. KALO SDH BAJU COKLAT… JGN PAKE LORENG LAGI DONG…. NANTI KITA MASYARAKAT BINGUNG LIHATNYA… INI TENTARA APA POLISI

      setia berkata:
      Desember 3, 2011 pukul 4:22 pm

      justru baju loreng brimob itu sdh ada sejak zaman revolusi kemerdekaan,bahkan pada saat alm.Jenderal Anton Soedjarwo thn 1962 melakukan penyusupan ke daerah reumbati,papua (dl irian barat) dan mengibarkan bendera merah putih pertama kalinya disana,baju loreng khas brimob itu sdh ada……u have to learn more alek,cause each words that u’ve said must based on a fact,not from what u’ve saw……

      Reza Iskandar Malik berkata:
      Mei 16, 2012 pukul 1:50 am

      Kata siapa yang perang cuma tentara aja?ga pernah baca sejarah ya?
      baca ni..!!!
      Keuntungan utama membentuk pasukan khusus pada masa konflik adalah pasukan bisa langsung diuji coba di medan pertempuran sebenarnya. Pasukan Brimob Rangers ini menjalani test mission di kawasan Cibeber, Ciawi dan Cikatomas perbatasan Tasikmalaya-Garut Jawa Barat pada tahun 1959. Dalam penugasan ini mereka sering menghadapi penghadangan oleh gerombolan DI/TII dalam jumlah besar. Teknik bertempur anti gerilya teruji dalam test mission ini. Namun demikian, dalam test mission ini akhirnya ada juga anggota Rangers yang tidak siap mental dalam bertempur dan mereka akhirnya harus keluar dari pasukan.

      Penugasan resmi operasi militer Brimob Rangers adalah dalam Gerakan Operasi Militer IV di kawasan Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Dalam GOM IV ini pasukan Brimob Rangers menjadi bagian dari Batalyon Infanteri Bangka-Belitung pimpinan Letkol (Inf) Dani Effendi. Penugasan ke Sumatera ini dalam supervisi langsung dari Letjen Ahmad Yani. Pasukan Rangers mempunyai tugas khusus menangkap sisa-sisa pasukan PRRI yang masih bergerilya di hutan Sumatera pimpinan Mayor Malik.

      Pasukan Brimob Rangers ini kemudian mengalami perubahan nama menjadi Pelopor pada tahun 1961 pada masa Kapolri Soekarno Djoyonegoro. Hal ini sesuai dengan keinginan Presiden Soekarno yang menghendaki nama Indonesia bagi satuan-satuan TNI/Polri. Pada masa ini pula, Rangers/Pelopor menerima senjata yang menjadi trade mark mereka yaitu AR-15. Penugasan selanjutnya dari pasukan ini adalah menyusup ke Irian Barat/Papua dalam rangka menjadi bagian dari Komando Trikora. Pasukan ini berhasil mendarat di Fak-fak pada bulan Mei 1962 dan terlibat dalam pertempuran dengan Angkatan Darat Belanda. Pasukan ini juga terlibat dalam konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1964. Pada masa ini pasukan Brimob-Rangers Indonesia berhadapan dengan unit elite SAS dari Inggris.

        dodytape responded:
        Mei 16, 2012 pukul 7:29 pm

        Sip..nice share mas bro..

    ALEK berkata:
    November 20, 2011 pukul 12:31 am

    KALO CERITA YG SAYA TAHU WKT DULU BRIMOB ITU BELAJAR PERANGNYA YA DARI TENTARA…. MULAI TERJUN DAN YG LAINNYA…. TAPI SAYA LIHAT SEKARANG BRIMOB2 BARU ITU BARU KELUAR DARI PUSDIKBRIMOB AJA SDH PAKE WING PARA…. KAPAN TERJUNNYA….. JADI KALO CERITA TTG MASALAH LATIHAN JGN SOK2 MILITER GITU… WKT DI TV SAYA LIHAT SAAT KONFLIK ACEH AJA BANYAK YG LARI DAN NEMBAK NGGAK JELAS GITU KALO DIHADANG GAM…… ITU PUN SDH KOCAR KACIR….
    JADI YA SADAR DIRI AJA KALO MENURUT SAYA…. KRN ANDA BRIMOB ITU DICIPTAKAN CUMA UTK DUDUK2 AJA JAGA BANK…. JGN SOK2 CERITA PERANG GITU…. NTAR MALU-MALUIN JADINYA PAK…..
    NGGAK USAH JAUH2LAH….. KAYAK KASUS TERORIS DI TEMANGGUNG…. APA ITU YG DIBILANG DGN DENSUS APA BRIMOB GITU…. NGGAK PROFEIONAL SEKALI SAYA LIHAT… RUMAH MASYARAKAT DITEMBAKI SAMPE HANCUR… ITU PUN YG ADA CUMA SATU ORG DIDALAMNYA…. KNAPA NGGAK KASIH POLSEK AJA SURUH TANGKAP… KALO SAYA NILAI ITU SUNGGUH MEMALUKAN…..
    SATU LAGI KEJADIAN TERORIS DI ACEH…. KALO BRIMOB ITU DICIPTAKAN BUKAN UTK NGEJAR GAM KEHUTAN… JADI JGN SOK2 KAYAK TENTARA GITU MASUK HUTAN GAYA-GAYAAN ,,,YA ITU JADINYA BANYAK YG KENA TEMBAK…

      setia berkata:
      Desember 3, 2011 pukul 4:10 pm

      bro alek,sejarah tdk bisa dipungkiri,anda mungkin blm pernah mengalami sendiri pendidikan di watukosek (bumi kandung brimob),dan kl anda mau mengetahui fakta riil tentang pengakuan otentik tentang kepolisian pd umumnya dan brimob pd khususnya anda bisa datang ke GEDUNG JUANG SECAPA POLRI SUKABUMI,dan anda akan melihat dari siapa sajakah pengakuan tersebut,trimaksh………….salam BRIGADE……..

      setia berkata:
      Desember 3, 2011 pukul 4:24 pm

      anda mesti tau kl brimob pnya 5 fungsi taktis

    ALEK berkata:
    November 20, 2011 pukul 12:39 am

    SATU LAGI SAYA MAU SAMPAIKAN KALO POLISI ITU BUKAN PRAJURIT… KRN SETAHU SAYA KALO KATA KATA PRAJURIT ITU UNTUK MILITER BUKAN UNTUK POLISI,,,,, JADI MALU DIKITLAH… KALO BRIMOB DI BILANG PRAJURIT….
    KRN MENURUT HEMAT SAYA…. PANGKAT POLISI ITU BUKAN PANGKAT MILITER…
    JADI KALO RAKYAT SURUH POLISI ITU DIBAWAH DEPDAGRI JGN PROTES DONG… TERIMA AJA… KRN SATPOL PP AJA DIBAWAH PEMDA NGGAK PROTES… APA TAKUT NANTI KALO POLISI DIBAWAH DEPDAGRI …. BRIMOB BUBAR….

      setia berkata:
      Desember 3, 2011 pukul 4:17 pm

      memang polisi bkn prajurit,tp seluruh rakyat indonesia adalah prajurit,apabila negara dalam keadaan genting……….satpol pp benderanya di bawah perda,sedang kepolisian (termasuk brimob di dalamnya) dibawah undang-undang no.2 thn 2002 tentang kepolisian yg di bawah kendali Presiden RI tuk anda ketahui,dan secara struktural Undang2 berada lebih tinggi di bandingkan dgn Perda

    ALEK berkata:
    November 20, 2011 pukul 12:42 am

    BRIMOB JGN SOK BANGGA – BANGGA DGN KATA RANGER… BERARTI SECARA TDK LANGSUNG ANDA JUGA BANGGA DIBAWAH MILITER… KRN YG NAMANYA RANGER ITU ADALAH PASUKAN KHUSUS ANGKATAN DARAT AS…….
    KENAPA ANDA TIDAK MINTA DILATIH SAMA POLISI AS AJA……

      setia berkata:
      Desember 3, 2011 pukul 4:12 pm

      bro alek anda harus lihat kembali fakta sejarah kenapa dulu wkt zaman revolusi kemerdekaan brimob pnya julukan ranger,……

      Lafaek Pelopor 48 berkata:
      Desember 7, 2011 pukul 8:59 pm

      Hahahaaaa….Mas Alek, saya jadi lucu lihat komentar anda, (maaf sebelumnya), memang brimob bangga dengan kata Ranger, karena awal pembentukannya kami memang berguru pada satuan tsb, bagaimana dengan pendapat anda kalau Kopasus membentuk Den Gultornya pertama kali thn 1982 dengan mengirim 2 orang perwiranya berguru ke GSG-9 yang nota bene adalah Kepolisian Jerman…?, trus bagaimana pendapat anda kalau pada tahun 1998 – 1999, Hampir semua satuan TNI belajar PHHnya Brimob, bahkan dibelikan peralatan yg lebih baik dari punya Brimob yg note bene itu adalah tugas pokok Brimob, saya termasuk salah satu orang yang sempat melatih 1 Batalyon TNI di Lapter. Suparlan Pusdik Kopasus Batujajar saat awal Reformasi bergejolak……, Jadi kesimpulannya semua tidak ada masalah kok….yang penting tau tugas pokok masing-masing, jangan terlalu overlap, saling membantu malah lebih baik Demi Bangsa dan Negara, SETUJU……..???
      oh iya satu lagi kami juga diatih oleh polisi AS, Jerman dan Prancis kok…..

    ALEK berkata:
    November 20, 2011 pukul 12:49 am

    SEMUA RAKYAT INDONESIA INI JUGA TAHU KALO BRIMOB ITU TIDAK ADA APA2 NYA… JGN NGAKU2 PASUKAN ELIT….. KRN KALO DILIHAT BRIMOB ITU LATIHANNYA AJA NGGAK ADA APA2NYA…. ANDA ITU POLISI…. YG MELINDUNGI RAKYAT.. BUKAN UNTUK NAKUTI RAKYAT DGN BAWA SENJATA SANA SINI…. MEMANGNYA INDONESIA INI SDH MAU PERANG…. DISURUH MASUK HUTAN TAKUT… BANYAK KENA TEMBAK… TAPI KALO DIKOTA GAYANYA KAYAK ABIS DARI HUTAN…. BIKIN KETAWA RAKYAT AJA PAK….
    KRN RAKYAT INDONESIA ITU TDK BODOH PAK……. SUDAH TAHU KUALITAS DAN KUANTITAS BRIMOB ITU SENDIRI SEPERTI APA….. CUMA GAYA DOANG….
    SATPOL PP AJA BISA KOK….

      setia berkata:
      Desember 3, 2011 pukul 4:13 pm

      bro alek rakyat indonesia yg mana yg anda maksud?………

        Lafaek Pelopor 48 berkata:
        Desember 7, 2011 pukul 9:06 pm

        Hahahaa,….ada betulnya juga mas alek, tapi kayaknya tidak semua deh…..tapi kalau anda termasuk yang mana kwalitasnya,….khususnya di bidang ada….? apakah yang sudah anda lakukan untuk negara ini selain hanya berkomentar di sini…..Kayaknya anda sangat anti banget deh ama Brimob, saya minta maaf atas nama Keluarga besar Brimob kalau anda pernah di sakitin Brimob….atau mungkin anda pernah gagal daftar polisi kali,….jangan menyerah Bro ayo coba lagi///…..

      yogi berkata:
      Agustus 29, 2012 pukul 1:01 am

      brimob,,pada dasarnya brimoob itu dalah bigade momok klo bawa senjata serbgu wahhh gayanya selangit kaya yabg siap perang ,,

        dodytape responded:
        Agustus 30, 2012 pukul 7:51 am

        Mas Yogi, tulisan anda bagus. Belajar lagi ya…

    bekty berkata:
    November 23, 2011 pukul 11:16 am

    :)

      zoe berkata:
      November 23, 2011 pukul 11:26 am

      :)

    bravo berkata:
    Desember 2, 2011 pukul 3:40 pm

    Si Alek ini aneh, sok tau, emang kenape kalo polisi belajar dari tentara, wong prabowo aja dedengkot kopassus belajar sama polisi tau gak anda CSG 9 itu bukan tentara

    None berkata:
    Desember 4, 2011 pukul 5:08 pm

    Ada Monyet bernama Alek mengingau disiang bolong ingin bubarin brimob? saya yakin anda ini anak h*r*m yang keluar dari seorang perempuan pel***r dmn bicaramu ngawur gak jelas ujung pangkalnya.

    Brimob berjuang sejak negara ini belum lahir dan kakek buyutmu masih bau pesing dan brimob tidak butuh pengakuan dari kau dan kelompokmu yang hanya mengingau di siang bolong.

      dodytape responded:
      Desember 8, 2011 pukul 8:49 pm

      maap mas bro None klo ada kata2 nya yang saya sensor….(^^,)
      “happy posting”

    Nudia berkata:
    Januari 11, 2012 pukul 3:49 pm

    saya punya pengalaman tidak menyenangkan dengan (ngaku2) anggota brimob yang sampai sekarang masih membingungkan dan menghilang… bingung mau cari kompi nya…

      dodytape responded:
      Januari 11, 2012 pukul 11:07 pm

      bagian tidak menyenangkannya dimananya mbak Nudia? sekarang gampang kok orang2 ngaku anggota brimob. jadi bila nemu orang yg kayak bgtu, ditanyakan kesatuannya secara jelas terlebih dahulu…jangan terburu2 melangkah ketahap selanjutnya klo masih belum jelas situasinya. demikian mbak Nudia…

    iyung berkata:
    Maret 12, 2012 pukul 8:23 pm

    saya kagum dengan kekuatan dan kemasmpuan brimob

      iyung berkata:
      Maret 12, 2012 pukul 9:16 pm

      om saya juga jd brimob sat 2 datasemen A di kedung halang .namanya briptu nor rahmat

    Indonesia berkata:
    Maret 13, 2012 pukul 3:28 pm

    Maaf Saya Hanya Meluruskan Bahwa Prabowo bukan dedengkotnya Kopassus,,,Ada Komandan Pertama Idjon Djambi, Terus Kaharudin Nasution, RE Djaelani, dan Komandan2 Kopassus lainnya, jd mohon ijin bahwa prabowo bukan satu2nya dedengkot Kopassus, tetapi pernah menjadi Komandan Jenderal Pada kesatuan elit no 3 di dunia, hanya klarifikasi tdk ada maksud lain terima kasih.,,,,salam komando

    Indonesia berkata:
    Maret 14, 2012 pukul 1:36 pm

    CSG 9 Navy Amerika,,,Angkatan Laut

    AL FAQIR BRIGADE MOBIL berkata:
    Maret 21, 2012 pukul 6:32 pm

    KAMI MASIH ADA……KAMI MASIH ADA……BRIMOB TETAP RENDAH HATI !!!!!
    JAMAN TERUS BERGANTI !!! AIR ADA PASANG SURUT!!!!
    TETAP TABAH DAN SEMANGAT !!!!

    antonasetyawan berkata:
    Maret 26, 2012 pukul 9:06 pm

    Hasil wawancara dengan Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara, mantan Danyon Teratai Brimob Ops Seroja 1976, tanggal 26 Maret 2012.

    Dr (Cand) Anton A Setyawan, SE,MSi
    Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
    e-mail: rmb_anton@yahoo.com dan anton4setyawan@gmail.com

    Penerbitan buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan memicu banyak reaksi dari berbagai kalangan militer maupun Polri. Banyak diantaranya yang memberikan dukungan dan meminta untuk dilanjutkan penulisan secara lebih detail, namun demikian banyak juga saran untuk melakukan revisi karena ada beberapa bab yang dianggap kurang pas. Salah satu bab yang paling kontroversial adalah bab 10 yang membahas keterlibatan Brimob dalam Operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Versi pertama yang muncul dalam blog ini adalah hasil wawancara dengan para anggota Yon Teratai, tentu saja karena mereka tidak memegang jabatan komando tidak memahami garis kebijakan komando dari Brimob pada waktu itu.
    Dalam versi revisi ini saya menulis berdasarkan wawancara langsung dengan Komandan Batalyon Teratai Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara yang memahami bagaimana proses pembentukan pasukan, pemberikan perintah, perlengkapan dan penugasan batalyon ini. Beliau juga membeberkan secara detail tentang situasi pertempuran yang sesungguhnya dan pilihan apa yang harus beliau ambil dalam situasi sulit saat itu.
    Kami tim penulis sebelumnya mohon maaf kepada Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara karena dalam edisi sebelumnya tidak menyertakan versi beliau. Dalam tulisan ini yang juga akan menjadi bahan dari Buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan cetakan kedua, kami menyampaikan versi revisi dari kejadian Tragedi Minggu Palma 11 April 1976. Tulisan ini akan menjelaskan secara detail tentang bagaimana proses pembentukan pasukan, penugasan, perlengkapan dan operasi yang dijalankan Batalyon Teratai selama Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1976.

    PEMBENTUKAN PASUKAN
    Pembentukan pasukan Batalyon Teratai sejak awal memang bermasalah karena keputusan pembentukan pasukan ini hanya berdasarkan perintah lisan. Personel yang diambil dari pasukan ini adalah anggota Polri yang pernah bertugas sebagai anggota Resimen Pelopor. Secara resmi Resimen Pelopor sudah dibubarkan pada tahun 1972. AKBP Ibnu Hadjar Adikara hanya diberi waktu selama 3 hari untuk membentuk Batalyon Teratai. Pasukan ini kemudin merekrut anggota hanya berdasarkan data yang minimal dan ingatan para bekas anggota Menpor dan selanjutnya mengirimkan radiogram ke kesatuan yang baru.
    Pada hari ke 3 terbentuklah sebuah batalyon yang terdiri dari berbagai bekas Menpor yang bisa dikumpulkan dalam waktu 3 hari itu dan rekrutmen baru dari Brimob. Menurut Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara pasukan itu adalah pasukan yang pembentukannya asal comot. Namun demikian beliau tidak begitu khawatir karena penugasan pasukan ini hanya untuk penugasan territorial dan penugasan polisi di daerah konflik.
    Profil AKBP Ibnu Hadjar Adhikara sendiri sebagai komandan Batalyon Teratai sudah memenuhi syarat sebagai komandan sebuah batalyon tempur karena beliau lulusan PTIK tahun 1961, sekolah Infanteri lanjut di Fort Lavenworth dan Pendidikan Pelopor tahun 1961. Pengalaman operasi tempur beliau adalah memimpin kompi Brimob dalam operasi penumpasan DI/TII di Jawa Barat dan Sumatera, serta operasi penumpasan PRRI di Sumatera akhir tahun 1961.
    Komandan kompi dalam Batalyon Teratai merupakan kombinasi dari perwira bekas Resimen Pelopor tahun 1960-an dan rekrutmen Akademi Kepolisian tahun 1970-an. Kombinasi ini untuk menutup kekurangan perwira berpengalaman di jajaran batalyon Teratai ini.

    PERLENGKAPAN DAN PERSENJATAAN PASUKAN
    Pada masa kejayaannya tahun 1959-1968, Resimen Pelopor mempunyai perlengkapan yang hebat untuk menunjang penugasannya sebagai sebuah pasukan khusus. Namun demikan, Yon Teratai yang dianggap penerus Resimen Pelopor hanya mendapatkan perlengkapan seadanya. Persenjataan mereka adalah senapan serbu AR 15, namun demikian setiap anggota hanya dibekali amunisi sebanyak 70-100 butir. Banyak diantara para anggota ini juga tidak dibekali dengan perlengkapan logistik standar. Sebagai contoh mereka tidak membawa ransel maupun ponco, tetapi hanya membawa koper dari seng. Perlengkapan lain seperti granat peluncur maupun granat tangan juga tidak disediakan. Hal lain yang menyedihkan adalah pasukan ini hanya dibekali dengan peta tanpa ada kompas sebagai penunjuk arah. Radio komunikasi antara markas batalyon dan kompi di lapangan atau dengan peleton juga tidak disediakan. Padahal lazimnya pada pasukan tempur, pada level peleton tersedia radio komunikasi PPRC. Bahkan khusus pasukan Menpor dalam setiap tim tersedia radio PPRC untuk melakukan komunikasi.
    Senapan serbu AR 15 ini mempunyai kelemahan ketika digunakan pada medan kering dan panas, yaitu macet. Selain itu jenis senapan otomatis ini memerlukan ketrampilan menembak pada level ahli (level 2) karena akurasi bidikan dan mengatur irama tembakan diperlukan pada saat kontak senjata dengan intensitas tinggi.
    Sebagian besar anggota Yon Teratai yang berasal dari Brimob rekrutan baru belum memahami senapan AR 15 ini, mereka juga belum mendapatkan pelatihan menembak seperti anggota Resimen Pelopor. Mereka hanya mendapatkan latihan menembak pada saat pendidikan Brimob.

    PERUBAHAN PENUGASAN
    Penugasan Yon Teratai adalah sebagai pasukan polisi di daerah konflik dan bukan sebagai pasukan tempur, hal ini berdasarkan perintah dari Mabes Polri terhadap pasukan ini. Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara berpendapat jika penugasan sebagai pasukan polisi di daerah konflik dan bukan pasukan tempur, maka perlengkapan dan kualifikasi seperti itu sudah memadai.
    Perubahan perintah terjadi karena ada perintah lisan pada waktu pasukan sudah dalam perjalanan menuju Timor Timur. Pasukan diberi perubahan tugas untuk menjadi batalyon penyekat bagi pasukan Kogasgab yang sedang bertempur di Bobonaro. Pasukan ini terdiri dari Yon Linud dari Brawijaya dan sebagian dari Densus Alap-alap Brimob. AKBP Ibnu Hadjar Adhikara segera melaksanakan perintah dengan pembagian tugas mendadak di dalam kapal. Batalyon Teratai dengan jumlah 300 personel ini diminta untuk menutup wilayah kurang lebih seluas 2400 kilo meter persegi, padahal dalam teori, sebuah batalyon tempur dengan jumlah 600 personel hanya mampu menutup wilayah seluas 200 kilo meter persegi. Kita bisa membayangkan tingkat kesulitan yang dihadapi batalyon ini di Timor Timur ini, tetapi Danyon tidak mempunyai pilihan lain kecuali melaksanakan perintah.
    SITUASI PERTEMPURAN
    Tanggal 11 April 1976, pasukan Fretilin melakukan gerak mundur dari wilayah Bobonaro karena tekanan pasukan TNI dan Polri yang tergabung dalam Kogasgab. Sebagian besar pasukan Fretilin ini adalah pasukan Tropaz yang berpengalaman tempur di Mozambique, Afrika pada saat konflik antara Portugal dengan negara jajahannya di Afrika tersebut. Pasukan Tropaz ini sangat mengenal medan tempur di Timor Timur. Mereka adalah orang asli Timor Timur yang direkrut menjadi tentara Portugal.
    Pagi hari tanggal 11 April 1976, pasukan Kompi A Yon Teratai sudah berhadapan dengan pasukan Tropaz Fretilin, namun demikian pasukan Fretilin ini dengan licik menggunakan penyamaran berupa tameng manusia. Kompi A masih mampu menghadapi pasukan Fretilin, namun demikian karena kesulitan membedakan rakyat dengan musuh, mereka terjebak dalam kontak senjata dengan intensitas tinggi. Satu hal yang diluar dugaan adalah jumlah pasukan Fretilin ternyata lebih dari 1 batalyon dengan persenjataan lengkap.
    Kompi A kemudian terpaksa mengundurkan diri karena kehabisan amunisi. Pada sekat kedua Kompi B juga mengalami hal yang sama, hal ini diperburuk dengan ketiadaan radio komunikasi sehingga komandan kompi tidak mampu menghubungi markas batalyon dan kompi lainnnya sehingga koordinasi dalam pertempuran tidak bisa dilakukan. Kompi C sebagai sekat terakhir juga harus mengundurkan diri karena kehabisan amunisi. Selain itu, anggota pasukan juga banyak mengalami senjata mereka macet ketika ditembakkan.

    KEPUTUSAN DILEMATIS KOMANDAN BATALYON
    Pada saat itu Danyon AKBP Ibnu Hadjar Adhikara menghadapi situasi sulit ketika melihat kondisi pasukannya di lapangan. Beliau melihat beberapa anggota pasukan masih mempunyai semangat tempur tinggi, namun demikian tanpa amunisi bertahan di medan pertempuran sama dengan misi mati konyol. Pada waktu itu beliau memerintahkan pada staf batalyon dan semua kompi Yon Teratai untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Beliau memerintahkan agar semua senjata dan perlengkapan dibawa ke garis belakang dan menghindari kontak dengan musuh untuk meminimalisir korban.
    Dalam wawancara per telepon, beliau menyatakan bisa saja anak buahnya diperintahkan untuk bertahan sampai titik darah penghabisan, tetapi masalahnya mereka bertahan dengan apa karena amunisi sudah habis. Kalau bertahan pasti berakhir dengan mati konyol, dan beliau menyadari keputusan mundur dari pertempuran harus dipertanggungjawabkan kelak. Beliau juga menyatakan tidak ada senjata yang dibuang atau dibakar jadi semua personel tetap membawa senjata masing-masing meskipun dalam keadaan kosong.
    Beliau menyatakan opsi mundur dari pertempuran sesuai dengan standar pertempuran. Beliau juga menyatakan pada saat mundur AKBP Ibnu Hadjar Adhikara masih memimpin pasukan Yon Teratai dan tidak melarikan diri. Yon Teratai akhirnya mengundurkan diri di wilayah Tenggara Bobonaro.

    PASCA OPERASI SEROJA
    Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara menyatakan bertanggung jawab penuh atas perintah mundur pasukan Yon Teratai, beliau tidak menyalahkan anak buahnya maupun para perwira bawahannya. Dalam penyelidikan peristiwa itu beliau juga menyatakan berpegang teguh pada tradisi militer bahwa komandan tertinggi (danyon) yang harus bertanggung jawab. Sikap ksatria ini dihargai oleh Mabes Polri.
    Komandan Batalyon Teratai Brimob Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari Dinas Kepolisian, meskipun Mabes Polri mencegahnya karena dari sisi karier masih bisa dipertahankan. Beliau memilih mundur sebagai bentuk tanggung jawab keputusan beliau dalam situasi sulit di medan tempur Operasi Seroja. Pada akhirnya Kombes Pol Ibnu Hadjar Adhikara diberhentikan dengan hormat dari dinas Polri dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi. Pasca penugasan di Polri beliau banyak aktif dalam dunia bisnis dan juga sebagai akademisi. Pengalamannya semasa dinas, membuat beliau seringkali diminta memberikan konsultasi atau rekan diskusi para Perwira Tinggi Polri saat ini.

      dodytape responded:
      Mei 14, 2012 pukul 4:21 pm

      Wah..ada mas Anton. Lama ngga besua nih. Maaf baru approve the comments..laptop saya dah laku, jadi lama ga buka blog. Inipun pake hape…anyway, welcome

      john abineri berkata:
      Desember 4, 2012 pukul 3:10 am

      …setau saya dari cerita beberapa mantan anggota menpor, baik kompi A, B ,dan C..Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara itu sempat beberapa kali tdk lulus pendidikan pelopor (entah akhirnya lulus atau tidak), perlu diingat, para anggota menpor itu tdk semua lulus secara qualified, yg tdk lulus pun tetap anggota menpor dan boleh mengikuti lg pendidikan nya jika sanggup..yg sdh full qualified diperbolehkan memakai tulisan menpor dilengan kanan dan kiri, sedangkan yg tdk full qualified hny sebelah saja…mungkin bs di cross check ke beliau, dgn bukti tanda kelulusanbeliau, jika memang beliau lulus (krn ada semacam ijasah…

    antonasetyawan berkata:
    Maret 26, 2012 pukul 9:10 pm

    TRAGEDI MINGGU PALMA, KISAH PERTEMPURAN YON TERATAI BRIMOB MELAWAN PASUKAN FRETILIN EX TROPAZ (Versi Revisi)
    Hasil wawancara dengan Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara, mantan Danyon Teratai Brimob Ops Seroja 1976, tanggal 26 Maret 2012.

    Dr (Cand) Anton A Setyawan, SE,MSi
    Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
    Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
    e-mail: rmb_anton@yahoo.com dan anton4setyawan@gmail.com

    Penerbitan buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan memicu banyak reaksi dari berbagai kalangan militer maupun Polri. Banyak diantaranya yang memberikan dukungan dan meminta untuk dilanjutkan penulisan secara lebih detail, namun demikian banyak juga saran untuk melakukan revisi karena ada beberapa bab yang dianggap kurang pas. Salah satu bab yang paling kontroversial adalah bab 10 yang membahas keterlibatan Brimob dalam Operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Versi pertama yang muncul dalam blog ini adalah hasil wawancara dengan para anggota Yon Teratai, tentu saja karena mereka tidak memegang jabatan komando tidak memahami garis kebijakan komando dari Brimob pada waktu itu.
    Dalam versi revisi ini saya menulis berdasarkan wawancara langsung dengan Komandan Batalyon Teratai Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara yang memahami bagaimana proses pembentukan pasukan, pemberikan perintah, perlengkapan dan penugasan batalyon ini. Beliau juga membeberkan secara detail tentang situasi pertempuran yang sesungguhnya dan pilihan apa yang harus beliau ambil dalam situasi sulit saat itu.
    Kami tim penulis sebelumnya mohon maaf kepada Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara karena dalam edisi sebelumnya tidak menyertakan versi beliau. Dalam tulisan ini yang juga akan menjadi bahan dari Buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan cetakan kedua, kami menyampaikan versi revisi dari kejadian Tragedi Minggu Palma 11 April 1976. Tulisan ini akan menjelaskan secara detail tentang bagaimana proses pembentukan pasukan, penugasan, perlengkapan dan operasi yang dijalankan Batalyon Teratai selama Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1976.

    PEMBENTUKAN PASUKAN
    Pembentukan pasukan Batalyon Teratai sejak awal memang bermasalah karena keputusan pembentukan pasukan ini hanya berdasarkan perintah lisan. Personel yang diambil dari pasukan ini adalah anggota Polri yang pernah bertugas sebagai anggota Resimen Pelopor. Secara resmi Resimen Pelopor sudah dibubarkan pada tahun 1972. AKBP Ibnu Hadjar Adikara hanya diberi waktu selama 3 hari untuk membentuk Batalyon Teratai. Pasukan ini kemudin merekrut anggota hanya berdasarkan data yang minimal dan ingatan para bekas anggota Menpor dan selanjutnya mengirimkan radiogram ke kesatuan yang baru.
    Pada hari ke 3 terbentuklah sebuah batalyon yang terdiri dari berbagai bekas Menpor yang bisa dikumpulkan dalam waktu 3 hari itu dan rekrutmen baru dari Brimob. Menurut Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara pasukan itu adalah pasukan yang pembentukannya asal comot. Namun demikian beliau tidak begitu khawatir karena penugasan pasukan ini hanya untuk penugasan territorial dan penugasan polisi di daerah konflik.
    Profil AKBP Ibnu Hadjar Adhikara sendiri sebagai komandan Batalyon Teratai sudah memenuhi syarat sebagai komandan sebuah batalyon tempur karena beliau lulusan PTIK tahun 1961, sekolah Infanteri lanjut di Fort Lavenworth dan Pendidikan Pelopor tahun 1961. Pengalaman operasi tempur beliau adalah memimpin kompi Brimob dalam operasi penumpasan DI/TII di Jawa Barat dan Sumatera, serta operasi penumpasan PRRI di Sumatera akhir tahun 1961.
    Komandan kompi dalam Batalyon Teratai merupakan kombinasi dari perwira bekas Resimen Pelopor tahun 1960-an dan rekrutmen Akademi Kepolisian tahun 1970-an. Kombinasi ini untuk menutup kekurangan perwira berpengalaman di jajaran batalyon Teratai ini.

    PERLENGKAPAN DAN PERSENJATAAN PASUKAN
    Pada masa kejayaannya tahun 1959-1968, Resimen Pelopor mempunyai perlengkapan yang hebat untuk menunjang penugasannya sebagai sebuah pasukan khusus. Namun demikan, Yon Teratai yang dianggap penerus Resimen Pelopor hanya mendapatkan perlengkapan seadanya. Persenjataan mereka adalah senapan serbu AR 15, namun demikian setiap anggota hanya dibekali amunisi sebanyak 70-100 butir. Banyak diantara para anggota ini juga tidak dibekali dengan perlengkapan logistik standar. Sebagai contoh mereka tidak membawa ransel maupun ponco, tetapi hanya membawa koper dari seng. Perlengkapan lain seperti granat peluncur maupun granat tangan juga tidak disediakan. Hal lain yang menyedihkan adalah pasukan ini hanya dibekali dengan peta tanpa ada kompas sebagai penunjuk arah. Radio komunikasi antara markas batalyon dan kompi di lapangan atau dengan peleton juga tidak disediakan. Padahal lazimnya pada pasukan tempur, pada level peleton tersedia radio komunikasi PPRC. Bahkan khusus pasukan Menpor dalam setiap tim tersedia radio PPRC untuk melakukan komunikasi.
    Senapan serbu AR 15 ini mempunyai kelemahan ketika digunakan pada medan kering dan panas, yaitu macet. Selain itu jenis senapan otomatis ini memerlukan ketrampilan menembak pada level ahli (level 2) karena akurasi bidikan dan mengatur irama tembakan diperlukan pada saat kontak senjata dengan intensitas tinggi.
    Sebagian besar anggota Yon Teratai yang berasal dari Brimob rekrutan baru belum memahami senapan AR 15 ini, mereka juga belum mendapatkan pelatihan menembak seperti anggota Resimen Pelopor. Mereka hanya mendapatkan latihan menembak pada saat pendidikan Brimob.

    PERUBAHAN PENUGASAN
    Penugasan Yon Teratai adalah sebagai pasukan polisi di daerah konflik dan bukan sebagai pasukan tempur, hal ini berdasarkan perintah dari Mabes Polri terhadap pasukan ini. Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara berpendapat jika penugasan sebagai pasukan polisi di daerah konflik dan bukan pasukan tempur, maka perlengkapan dan kualifikasi seperti itu sudah memadai.
    Perubahan perintah terjadi karena ada perintah lisan pada waktu pasukan sudah dalam perjalanan menuju Timor Timur. Pasukan diberi perubahan tugas untuk menjadi batalyon penyekat bagi pasukan Kogasgab yang sedang bertempur di Bobonaro. Pasukan ini terdiri dari Yon Linud dari Brawijaya dan sebagian dari Densus Alap-alap Brimob. AKBP Ibnu Hadjar Adhikara segera melaksanakan perintah dengan pembagian tugas mendadak di dalam kapal. Batalyon Teratai dengan jumlah 300 personel ini diminta untuk menutup wilayah kurang lebih seluas 2400 kilo meter persegi, padahal dalam teori, sebuah batalyon tempur dengan jumlah 600 personel hanya mampu menutup wilayah seluas 200 kilo meter persegi. Kita bisa membayangkan tingkat kesulitan yang dihadapi batalyon ini di Timor Timur ini, tetapi Danyon tidak mempunyai pilihan lain kecuali melaksanakan perintah.
    SITUASI PERTEMPURAN
    Tanggal 11 April 1976, pasukan Fretilin melakukan gerak mundur dari wilayah Bobonaro karena tekanan pasukan TNI dan Polri yang tergabung dalam Kogasgab. Sebagian besar pasukan Fretilin ini adalah pasukan Tropaz yang berpengalaman tempur di Mozambique, Afrika pada saat konflik antara Portugal dengan negara jajahannya di Afrika tersebut. Pasukan Tropaz ini sangat mengenal medan tempur di Timor Timur. Mereka adalah orang asli Timor Timur yang direkrut menjadi tentara Portugal.
    Pagi hari tanggal 11 April 1976, pasukan Kompi A Yon Teratai sudah berhadapan dengan pasukan Tropaz Fretilin, namun demikian pasukan Fretilin ini dengan licik menggunakan penyamaran berupa tameng manusia. Kompi A masih mampu menghadapi pasukan Fretilin, namun demikian karena kesulitan membedakan rakyat dengan musuh, mereka terjebak dalam kontak senjata dengan intensitas tinggi. Satu hal yang diluar dugaan adalah jumlah pasukan Fretilin ternyata lebih dari 1 batalyon dengan persenjataan lengkap.
    Kompi A kemudian terpaksa mengundurkan diri karena kehabisan amunisi. Pada sekat kedua Kompi B juga mengalami hal yang sama, hal ini diperburuk dengan ketiadaan radio komunikasi sehingga komandan kompi tidak mampu menghubungi markas batalyon dan kompi lainnnya sehingga koordinasi dalam pertempuran tidak bisa dilakukan. Kompi C sebagai sekat terakhir juga harus mengundurkan diri karena kehabisan amunisi. Selain itu, anggota pasukan juga banyak mengalami senjata mereka macet ketika ditembakkan.

    KEPUTUSAN DILEMATIS KOMANDAN BATALYON
    Pada saat itu Danyon AKBP Ibnu Hadjar Adhikara menghadapi situasi sulit ketika melihat kondisi pasukannya di lapangan. Beliau melihat beberapa anggota pasukan masih mempunyai semangat tempur tinggi, namun demikian tanpa amunisi bertahan di medan pertempuran sama dengan misi mati konyol. Pada waktu itu beliau memerintahkan pada staf batalyon dan semua kompi Yon Teratai untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Beliau memerintahkan agar semua senjata dan perlengkapan dibawa ke garis belakang dan menghindari kontak dengan musuh untuk meminimalisir korban.
    Dalam wawancara per telepon, beliau menyatakan bisa saja anak buahnya diperintahkan untuk bertahan sampai titik darah penghabisan, tetapi masalahnya mereka bertahan dengan apa karena amunisi sudah habis. Kalau bertahan pasti berakhir dengan mati konyol, dan beliau menyadari keputusan mundur dari pertempuran harus dipertanggungjawabkan kelak. Beliau juga menyatakan tidak ada senjata yang dibuang atau dibakar jadi semua personel tetap membawa senjata masing-masing meskipun dalam keadaan kosong.
    Beliau menyatakan opsi mundur dari pertempuran sesuai dengan standar pertempuran. Beliau juga menyatakan pada saat mundur AKBP Ibnu Hadjar Adhikara masih memimpin pasukan Yon Teratai dan tidak melarikan diri. Yon Teratai akhirnya mengundurkan diri di wilayah Tenggara Bobonaro.

    PASCA OPERASI SEROJA
    Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara menyatakan bertanggung jawab penuh atas perintah mundur pasukan Yon Teratai, beliau tidak menyalahkan anak buahnya maupun para perwira bawahannya. Dalam penyelidikan peristiwa itu beliau juga menyatakan berpegang teguh pada tradisi militer bahwa komandan tertinggi (danyon) yang harus bertanggung jawab. Sikap ksatria ini dihargai oleh Mabes Polri.
    Komandan Batalyon Teratai Brimob Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari Dinas Kepolisian, meskipun Mabes Polri mencegahnya karena dari sisi karier masih bisa dipertahankan. Beliau memilih mundur sebagai bentuk tanggung jawab keputusan beliau dalam situasi sulit di medan tempur Operasi Seroja. Pada akhirnya Kombes Pol Ibnu Hadjar Adhikara diberhentikan dengan hormat dari dinas Polri dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi. Pasca penugasan di Polri beliau banyak aktif dalam dunia bisnis dan juga sebagai akademisi. Pengalamannya semasa dinas, membuat beliau seringkali diminta memberikan konsultasi atau rekan diskusi para Perwira Tinggi Polri saat ini.

    Wuku alam berkata:
    Maret 27, 2012 pukul 8:57 pm

    Bravo brimob,jaya selalu baret biru dongker , salam kenal dari saya , om sya mau nanya ? apa betul om saya yg bernama siswo budi purnomo ada detasemen C ?mhn infonya trima kasih.

      dodytape responded:
      Mei 14, 2012 pukul 4:18 pm

      Salam kenal juga mas wuku…maap baru bales(kayak smsan ya..hehe). betul sekali, beliaunya ada di den C.

    antonasetyawan berkata:
    Maret 29, 2012 pukul 12:28 am

    REVISI TULISAN TENTANG “MINGGU PALMA DALAM BUKU RESIMEN PELOPOR, PASUKAN ELITE YANG TERLUPAKAN”
    Hasil wawancara telepon dengan Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara, mantan Danyon Teratai Brigade Mobil dalam Operasi Seroja Timor Timur tahun 1976.

    Anton A Setyawan
    Penulis Buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan
    e-mail: rmb_anton@yahoo.com dan anton4setyawan@gmail.com
    blogs: antonasetyawan.wordpress.com

    Dalam penulisan buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan ternyata memancing banyak reaksi, baik yang mendukung maupun masukan yang memberikan revisi. Salah satu bab yang mengundang reaksi adalah tulisan tentang Minggu Palma 11 April 1976 yang membahas pertempuran Batalyon Teratai Brigade Mobil dengan Pasukan ex Tropaz Fretilin di selatan Bobonaro.
    Catatan pertama adalah kami tim penulis dan penerbit mohon maaf kepada keluarga besar Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar karena kesalahan prinsip dalam tulisan sebelumnya, kami juga menyatakan terima kasih atas kebesaran hati Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara yang berkenan memberikan revisi bagi tulisan kami.
    Revisi dan ralat ini akan menjadi bahan dalam buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan Cetakan Kedua, yang akan dicetak tahun ini.
    Ralat yang perlu kami sampaikan antara lain:
    1. Profil Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara. Beliau adalah lulusan Pendidikan Inspektur Polisi tahun 1961, International Police Academy USA, Internal Defense and Development Program US Special Force dan Public Safety Program Georgetown University AS. Selain itu beliau juga lulus dari Sekolah Komando Kepolisian tahun 1973/1974 serta Sesko ABRI angkatan WIRA WIBAWA tahun 1981. Sebelum menjadi Komandan Batalyon Teratai beliau juga mempunyai pengalaman tempur dalam pasukan Brimob pada saat operasi penumpasan DI/TII di Jawa Barat dan PRRI di Sumatera, sehingga beliau mempunyai pengalamn tempur yang cukup.
    2. Pasca peristiwa Minggu Palma 11 April 1976 beliau tetap melanjutkan dinas di Kepolisian Republik Indonesia sebagai Waka Dir Samapta POLDA Jaya, dan terakhir tahun 1986, beliau memutuskan untuk mengajukan pensiun, saat menjabat sebagai Waka Denma Mabes POLRI. SK Pensiun resmi, ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada masa itu. Artinya tulisan di buku yang menyebut beliau diberhentikan dengan tidak hormat adalah TIDAK BENAR.
    3. Berdasarkan penjelasan beliau, penyebab utama kekalahan yang dialami Batalyon Teratai dalam peristiwa Minggu Palma adalah sejak awal pembentukan Batalyon ini bermasalah, yaitu:
    a. Pembentukan Batalyon Teratai hanya 3 hari dan personel yang didapatkan asal comot dari bekas Menpor yang sudah 5 tahun tidak latihan.
    b. Setiap personel Yon Teratai hanya dibekali amunisi sebanyak 70-100 butir dengan bekal uang Rp 1000 untuk setiap personel.
    c. Tidak ada radio komunikasi baik pada level tim, peleton, kompi dan bahkan batalyon.
    d. Pasukan tidak dibekali dengan kompas hanya peta yang dibawa Danton.
    e. Banyak personel baru Brimob yang belum sempat latihan dasar pertempuran, mereka hanya dibekali kemampuan kesamaptaan dan anti huru hara, dan sebagian besar belum mampu mengoperasikan senapan serbu AR 15.
    f. Jumlah personel yang mampu dibentuk hanya 300 orang yang terbagi dalam 3 kompi.
    4. Ada perubahan perintah mendasar dari penugasan Yon Teratai yang seharusnya menjadi batalyon polisi di daerah konflik berubah menjadi operasi tempur aktif untuk menutup gerak mundur pasukan Fretilin dari Bobonaro, pembagian tugas hanya dilakukan di kapal karena perubahn perintah juga dilakukan secara mendadak. Wilayah yang menjadi perimeter Yon Teratai seluas hampir 2400 kilometer persegi, padahal secara teori sebuah Batalyon dengan persenil 600 sampai 1000 hanya mampu menutup perimeter seluas 200 kilometer persegi. Maka danyon harus membagi personelnya dengan pos-pos pertahanan dengan jumlah personel setiap pos hanya 4 orang.
    5. Kondisi yang terjadi pada saat pertempuran adalah Kompi A yang bertemu pertama dengan pasukan Fretilin harus menghadapi musuh dengan jumlah lebih besar, memahami medan, mempunyai pengalaman tempur dan senjata lebih lengkap. Kompi A segera dipukul mundur karena kehabisan amunisi dan tidak ada dukungan logistik, demikian juga dengan kompi B dan C.
    6. Danyon harus menghadapi pilihan dilematis yaitu tetap bertahan di garis pertahanan tanpa ada amunisi atau mengundurkan diri dari pertempuran. Beliau menganggap memerintahkan anak buahnya untuk bertahan tanpa amunisi adalah misi bunuh diri, sehingga kemudian memerintahkan pasukan untuk mundur.
    7. Pada saat mengundurkan diri beliau menegaskan tidak ada senjata yang dibakar atau dibuang, semua personel masih membawa senjata meskipun tanpa amunisi atau amunisinya terbatas.
    8. AKBP Ibnu Hadjar Adhikara memimpin langsung proses pengunduran diri dan tidak melarikan diri dari peperangan. Dalam penyelidikan peristiwa tersebut, beliau bersikukuh memegang tradisi militer yaitu komadan tertinggi bertanggung jawab atas semua kondisi yang terjadi di lapangan. Beliau memikul sendirian kesalahan itu dan tidak menyalahkan perwira bawahannya.

    PRIYO SRONDOL berkata:
    April 6, 2012 pukul 5:22 pm

    JAYALAH NEGERIKU………………….
    BERSATULAH KAWAN KU……………..
    KITA BERIKAN ANAK CUCU KITA KEDAMAIAN
    TERATAI AKAN SELALU MEKAR DIMANAPUN BERADA

    DATANG – MENANG – MENGHILANG

    SUMBANGSIH UNTUK BRIMOB berkata:
    April 10, 2012 pukul 8:26 am

    MOHON dengan SANGAT kita ndak usah permasalahkan ini dan itu yang “” PENTING “” bagaimana caranya untuk mengembangkan BRIMOB POLRI DISELURUH NUSANTARA INDONESIA ini menjadi yang ” DI BUTUHKAN OLEH RAKYAT, DISUKAI OLEH RAKYAT, DISEGANI OLEH RAKYAT” sehingga kita semua dari unsur mana saja WAJIB HUKUMNYA untuk MENYUMBANGKAN pikiran kita , inovasi kita, untuk BRIMOB ataupun POLRI pada umumnya supaya dapat melaksanakan Tugas secara maksimal , “” JANGAN HANYA BISA MENGKRITIK SAJA “” karena BRIMOB dan POLRI pada umumnya adalah milik RAKYAT INDONESIA maka kita wajib membantu sebisa kita mampu……..coba anda bayangkan kalau hanya di kritik saja tetapi tidak pernah kita berikan sumbangan berupa inovasi dan tekhnologi kan akhirnya ndak bisa melaksanakan tugas secara maksimal kan ???? ayooo kita rakyat indonesia , dalam diri kita harus merasa memiliki BRIMOB dan POLRI pada umumnya untuk menjaga keamanan dalam negeri ………agar tercipta rasa aman dan tentram……..MERDEKA…….JAYALAH BRIMOB POLRI………..

      dodytape responded:
      Mei 14, 2012 pukul 4:16 pm

      Setuja Mas Bro…

    Febryn Budiman berkata:
    Mei 4, 2012 pukul 4:46 pm

    Salam…………..BRAVO TNI / BRAVO POLRI….ijin coment ya pak……..sy menyukai artikel2 di blog ini yg mengupas ttg sejarah Brimob.sangat bagus di jadikan pelajaran dan motivator untuk Brimob sendiri maupun tuk semua warga NKRI, ambil nilai positifnya yaitu semangat juangnya dan pasti itu akan bermanfaat untuk kita persembahkan tuk NKRI tercinta dimanapun kita mengabdi, entah di TNI,Polri,PNS,swasta atau apapun pekerjaan kita.kita smua boleh berbangga dengan apa yg di lakukan oleh pendahulu kita maupun dgn apa yg tlh kita lakukan tuk bangsa ini tapi jangan sampe lupa diri (sombong).karena kesombongan adalah musuh utama yg dapat menghancurkan kita.semua kesatuan yg ada di NKRI adalah sama mempunyai kemampuan,kelebihan dan kekurangan masing2.Jangan kita terpecah belah hanya karena ego2 untuk mendapatkan pengakuan.TNI tidak lebih tinggi dari Polri.Polri tdk lebih tinggi dari TNI.TNI/Polri tdk lebih tinggi dari rakyat dan rakyat tidak lebih tinggi dari TNI/Polri, semua sama kedudukannya sebagai warga NKRI, kita semua mempunyai hak yg sama untuk memberikan yg terbaik tuk NKRI tercinta ini. sy pribadi salut dengan blog ini telah memuat sejarah2 perjuangan walaupun masih seputar Brimob,tanpa mengurangi rasa hormatku kepada admin klo boleh beri masukan kedepan ada artikel sejarah tentang kesatuan2 TNI , maupun pelibatan2 dlm operasi2 secara bersama2 yang dikupas dari berbagai sudut sehingga dalam tulisan itu tidak hanya menceritakan satu kesatuan tertentu sehingga dan seakan2 kesatuan tsb super hero gitu.agar supaya pembaca/seluruh warga NKRI tau dan mengerti bahwa berdirinya dan tegaknya NKRI ini bukan cuma karenaTNI, bukan cuma karena Polri(Brimob) atau cuma kerena rakyat tapi melainkan karena perjuangan bersama..saya yakin klo ada artikel2 seperti itu perlahan akan mengikis sifat2 ego, sifat2 merasa satu kesatuan lebih tinggi dari yg lainnya,,sehingga Konflik2 yg terjadi antara oknum2 aparat seperti sekarang ini akan hilang..Terima kasih dan mohon maaf bila ada kata2 yg kurang berkenan………BRAVO TUK TNI/POLRI …..INGA-INGA “BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH”

      dodytape responded:
      Mei 14, 2012 pukul 4:15 pm

      Itu batul….(^^,)

    JohnDoe berkata:
    Mei 16, 2012 pukul 4:41 pm

    Saya sangat respek pada TNI maupun POLRI (utamanya BRIMOB), dan saya pernah bercita-cita untuk bergabung dgn TNI atau POLRI (tujuan utama BRIMOB) namun gagal :-(, babe dan kakek saya dulu walaupun sipil, selalu cerita kehebatan TNI (RPKAD,KKO,ARHANUD) dan sering juga membahas “MOBRIG”, cuma waktu itu saya masih kecil, jadi bahasa itu (“MOBRIG”) agak asing ditelinga saya, karena kosakata militer diotak saya saat itu adalah tentara..dan tentara..saat SMP barulah saya tau bahwa yang diceritakan oleh kakek dan babe saya ttg MOBRIG itu saat ini namanya BRIMOB..dan saya kemudian berfikir..di setiap kelompok selalu ada yang “ISTIMEWA”..jika TNI AD maka KOPASSUS, jika TNI AU maka MARINIR, KOPASKA, etc, jika TNI AU maka PASKHAS, ARHANUD jika POLISI maka BRIMOB dan DENSUS..saya rakyat biasa, dan bangga dengan kalian semua, kami dan teman2 saya juga seperti itu, hingga kami sangat menyukai membaca artikel berbau militer (TNI/BRIMOB) di forum-forum militer, bahkan mencoba berekspresi untuk berkumpul bermain AirSoft GUN..percayalah…jika KALIAN SEMUA BAIK PADA RAKYAT..RAKYAT SELALU MENCINTAI DAN MENDUKUNG..saya juga tau, selalu ada oknum ditiap-tiap angkatan yang malah berbuat seperti tidak mencintai rakyat..lalu rakyat menghujat secara pukul rata..semoga TNI/BRIMOB selalu berjaya, dan saling menjaga dan bekerja sama untuk Rakyat..jagalah kawan-kawan kalian dari berbuat zalim terhadap rakyat..jangan buat kami bangga hanya pada masa lalu kalian..bukan kalian pada saat ini.

    BRAVO TNI/BRIMOB

      dodytape responded:
      Mei 16, 2012 pukul 7:28 pm

      Trimakasih masukan dan dukungannya mas bro…semoga menjadi yang lebihbaik lagi…

    daniel berkata:
    Mei 22, 2012 pukul 9:35 pm

    selamat malam…saya baru pertama kali masuk ke blog ini itupun gak sengaja….saya baru tahu tentang sejarah pelopor brimob krn selama ini saya cm tau pelopor itu salah satu kesatuan di brimob tapi dari semua postingan yang ada ayo sama sama kita dukung polri pada umumnya dan brimob pada khususnya utuk menjadi institusi yang lebih baik lagi utk NKRI
    untuk mas anton…saya pengen baca lebih lanjut buku nya boleh ya saya contact mas anton utk keterangan lebih lanjut…
    salam kenal dan salam dahsyat utk semua rekan rekan yang ada di blog ini
    br
    daniel

      dodytape responded:
      Februari 24, 2013 pukul 6:27 pm

      maaf baru balas commentnya mas Daniel. silahkan dicontact mas Antonnya, via cp yang dah ada di setiap comment nya. salam kenal and welcome on board…

    Hendra berkata:
    Mei 27, 2012 pukul 1:31 am

    Numpang nimbrung mas dody,,,saya saat ini masih berstatus sebagai seorang mahasiswa,,,tapi saat ini saya mempunyai satu keinginan yang ingin saya wujudkan,tapi itu semua bertentangan dengan pendapat orang tua,saya ingin menjadi Anggota Brimob,selama kuliah saya sering dianggap anggota polisi oleh dosen-dosen saya, bahkan teman-teman saya ,,karena postur tubuh serta beberapa asesoris yang saya miliki,saking sukax dengan Brimob,saya mencoba mencari tahu tentang silsilah brimob lebih jauh,untuk menambah pemahaman saya.saya berharap semoga nanti saya bisa masuk kesana DAN mendapat restu dari orang tua saya,,,SALAM BRIMOB !

      dodytape responded:
      Mei 29, 2012 pukul 9:05 am

      Selamat begabung mas Hendra, welcome on board…
      Menurut hemat saya, mas Hendra jalani kuliah sampe finish. Klo ada kesempatan, daftar dikepolisian..karena apa, ijazah s1 itu nantinya ga kan sia2 alias kepake. Saya doakan apa yang menjadi cita2 dan keinginan mas Hendra dapat tercapai…amin

    isaac berkata:
    Juni 22, 2012 pukul 11:45 am

    Hi Semuanya,
    Seminggu yg lalu, ayah saya bercerita tentang ranger dan pelopor pada teman lama yg sudah lama tidak bertemu pada saat meninggalnya om saya…
    Ayah saya memang seorang polisi (sudah pensiun sekarang) sudah berusia 80 thn
    dari ceritanya yg saya tangkap sepertinya ia pernah ada di situ (di ranger/menpor)
    blog yg bagus, bercerita tth sejarah berdirinya polisi, setelah ini saya akan meminta ayah saya bercerita ttg ini.

    Terima kasih ya, penulis blog ini, saya makin bangga dengan orang tua saya.

    Bravo Polisi/Brimob

    Thanks’

      dodytape responded:
      Februari 24, 2013 pukul 6:30 pm

      senang sampeyan sudah mampir di blog ini…welcome on board

    QQ berkata:
    Juni 24, 2012 pukul 3:52 pm

    Is THE BEST TNI

      dodytape responded:
      Februari 24, 2013 pukul 6:47 pm

      do you speak english?

    jhon berkata:
    Juli 18, 2012 pukul 5:24 pm

    mau tanya apa mako kelapa dua pernah diserang kopasus?

      dodytape responded:
      Juli 18, 2012 pukul 5:57 pm

      Sepanjang saya berdinas dan yang saya tau, mako kelapadua belum pernah diserang oleh pihak manapun.. sebagai referensi, coba mas Jhon membaca buku karya Mas Anton Setiyawan: RESIMEN PELOPOR: PASUKAN ELIT YANG TERLUPAKAN. Di gramed udah ada kok

        jhon berkata:
        Juli 20, 2012 pukul 3:52 pm

        jhon pada Juli 20, 2012 pada 3:50 pm berkata:
        oh gitu bang dody, tapi saya pernah dengar cerita, penjagaan ksatrian pernah diserang dari kesatuan samping itu, tapi berhasil diatasi dan truk mereka dibakar, bahkan di simpan sampai sekarang, walau sudah gosong truknya tapi nama kesatuan pada truknya diperbaharui, untuk mengingat kejadian itu. tolong konfirmasinya kami di wilayah jadi penasaran?

      Yansen Rago berkata:
      November 21, 2012 pukul 11:51 am

      Orang tua saya mantan Ranger Angkatan pertama dengan komandan kompi Pak Anton Sujarwo Alm, cerita orang tua saya dulu ranger pernah bentrok dengan rpkad yang bermarkas di ci jantung…seorang anggota ranger bernama jonitung alm masuk ke markas dengan melemparkan granat ke dalam markas rpkad…dari hasil akhir bentrok ranger tewas dua orang dan rpkad 9 orang..

        penjaga kedaulatan NKRI berkata:
        Maret 8, 2013 pukul 10:59 am

        kamu ngomong pake dengkul TNI-Polri itu institusi negara tidak boleh di adu domba,,,,,kalo kamu tidak terima omongan saya cari saya di kopassus cijantung,,,,

        dodytape responded:
        Maret 8, 2013 pukul 5:00 pm

        maap nengahi..mungkin maksut mas yansen cuma konfirmasi aja..karena yg disebut ranger ama rpkad,yg adanya dimasa lalu. saya setuju, TNI-POLRI harus kompak karena sama2 anak republik. dan punya tugas dan peran masing-masing. TNI mengerti tugas POLRI dan POLRI mengerti tugas TNI. trimakasih buat mas penjaga kedaulatan NKRI dah mampir..

    jhon berkata:
    Juli 20, 2012 pukul 3:50 pm

    oh gitu bang dody, tapi saya pernah dengar cerita, penjagaan ksatrian pernah diserang dari kesatuan samping itu, tapi berhasil diatasi dan truk mereka dibakar, bahkan di simpan sampai sekarang, walau sudah gosong truknya tapi nama kesatuan pada truknya diperbaharui, untuk mengingat kejadian itu. tolong konfirmasinya kami di wilayah jadi penasaran?

    Ratna Mei Rahayu berkata:
    Agustus 1, 2012 pukul 1:52 pm

    Assamualaikum…wr.wb bisa minta tolong pak kegiatan personil waktu latihan khususnya wilayah surabaya alamatnya jl. raya klakah rejo surabaya saya kagum & senang waktu melintasi daerah tersebut waktu latihan pagi hari terima kasih.

      dodytape responded:
      Agustus 1, 2012 pukul 2:00 pm

      Waalaikumussalam… maaf bu Ratna. Saya kurang mengerti requestnya.. photo2nya apa liputan kegiatannya ya?

    dedie rumondo berkata:
    Agustus 29, 2012 pukul 9:46 am

    Bravo BRIGADE MOBIL ! Ane hanya usul , gimana kalau sejarah BRIMOB ditulis per daerah , contoh : Riwayat pasukan RESIMEN XII batayon M di Papua (Jayapura) ? Siapa komandannya ?Apa yg telah mereka berikan untuk ibu pertiwi ? Bagaiman mereka dengan keringat dan airmata menegakkan panji panji POLRI dari markas “RIMBA LAUT” di bumi PAPUA ?,maaf cuman usul … JAYALAH BRIMOB !!

      dodytape responded:
      September 8, 2012 pukul 7:56 pm

      Masukannya bagus mas Dedi…namun begitu untuk realisasinya dibutuhkan kerjasama dan waktu yang lumayan, mengingat dokumen2 sejarah yang ada tentang kepolisian,(brimob pada khususnya) sangat minim. berterimakasih kita pada Mas Anton yang sudah berupaya menulis sebuah buku tentang sejarah Resimen Pelopor yang merupakan cikal bakal brimob yang ada sekarang.

        awo berkata:
        Maret 19, 2013 pukul 11:42 pm

        Halo Mas Dody………..Saya adalah Guru PKN SMP kelas 7, 8, 9 di kota Bandung, banyak melakukan “Improve” terhadap Kurikulum KTSP mata pelajaran PKN SMP terkait materi PKN SMP kelas 9 Bab I tentang Pembelaan Negara, yang mana di dalamnya miskin Fakta Sejarah maupun terkini terkait peran POLRI sebagai penanggungjawab keamanan dalam negeri. Setelah saya baca buku “RESIMEN PELOPOR Pasukan Elite yang Terlupakan” Karya Anton Agus Setyawan dan Andi M. Darlis, dan Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang : Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia oleh Ridwan Yasin, baru saya menyadari bahwa ada fakta sejarah yang hilang dari Republik ini dan saya adalah hasil dari sistem pendidikan di Zaman Orde Baru yang banyak sekali mengalami cuci otak terkait manipulatif fakta sejarah perjalanan bangsa dan salah satunya adalah RESIMEN PELOPOR BRIMOB yang LEGENDARIS itu!.. Dan sebagai bentuk syarat kelulusan dari Mata Pelajaran saya dengan KKM 80 ketuntasan Belajar, maka saya memerintahkan semua siswa didik saya untuk “Inquiry” dan “explorer” secara mandiri dan di supervisi langsung oleh saya terkait 2 materi utama di atas tadi yang harus siswa didik saya cari di Toko Buku Gramedia dan Internet. Hasil akhir dari penugasan ini adalah Tugas Kliping Individu, Presentasi Kelompok dan Papercraft. Saya BERSYUKUR karena siswa didik saya bisa dapatkan informasi langsung yang berkualitas dan dapat menuntaskan tugas yang saya berikan dalam mata pelajaran PKn terkait materi sejarah KORPS BRIMOB dan RESIMEN PELOPOR BRIMOB………

        dodytape responded:
        Maret 20, 2013 pukul 1:30 am

        Terima kasih buat Pak Guru Awo, atas kunjungannya di blog ini. Saya kagum atas usaha pak Awo yg memasukkan sejarah Polri ke dalam materi pelajaran kepada murid-muridnya. Presiden pertama RI berpesan: “JAS MERAH”(Jangan sekali-kali melupakan sejarah!). Sejarah harus lurus, tidak boleh ada yang dibelokkan, diplintir, diplintut, direkayasa, dan apapun namanya. Buat generasi penerus bangsa ini mempelajari sejarah bangsanya dengan benar agar dapat membangun bangsa ini dengan benar pula.

    Adha Ekaryanto berkata:
    Agustus 31, 2012 pukul 4:40 pm

    Salam komando untuk brimob dari den bravo tni au.kami salut dengan kesatuan anda semoga kita bisa bersama menjalan kan tugas mempertahankan NKRI.Komando

      dodytape responded:
      September 8, 2012 pukul 7:51 pm

      Salam Komando juga buat Mas Adha dari Den Bravo TNI-AU. Betul Mas Adha, kita harus bahu-membahu dalam mempertahankan kedaulatan negara kita. Komando!

    QQ berkata:
    September 10, 2012 pukul 1:03 am

    yg jelas TNI yg MENANG. TNI siftx tdk suka pamer kayak BRIMOB, baru megang senjata aja sdh pd overacting. tuh liat TNI.. pny peralatan tempur yg canggih nmun mreka gk brlebihan. mrka bnyak mengukir jasa di negeri ini tp mreka gak mw memamerkan keberhasilan mreka.

      dodytape responded:
      September 11, 2012 pukul 7:57 pm

      maaf mbak, maksudnya menang apaan? mbak ceritanya mo ngadu gituh? cepek deehh

    Must Freedom berkata:
    September 20, 2012 pukul 2:01 am

    Salam Brigade ! Saya asli anak kolong BriMob Ks Tubun .. biasa sipanggil ” anak beras jatah ” . Ayah saya dulu dikompi 519 LaBa ( Lapis Baja ) Mobrig . Mungkin ada yg tahu tentang Kompi 519 Laba ?

    Must Freedom berkata:
    September 26, 2012 pukul 10:43 am

    Ass. Atas nama Panitia Penyelenggara Temu Kangen Akbar 2012
    Putra Putri Purnawirawan BriMob pada hari Minggu tgl 12 Sept , kami mengucapkan terima kasih yg tak terhingga kepada Yth. Wadan Korp , Kasat , Kadenma dan segenap jajarannya sehingga dapat terlaksananya acara tersebut . Khususnya buat Bp Sauri , Mas Harno , Bung Tarsius dan Kang Koswara yg telah menemani kami saat persiapannya . Terima kasih banyak Mas Karno secangkir kopinya .. SALAM BRIGADE .. !

    tri berkata:
    September 28, 2012 pukul 10:52 am

    Mohon ijin senor…..Saya alumni watukosek XII …….
    BRIGADE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    tri berkata:
    September 28, 2012 pukul 10:54 am

    Itu k***** k***** keparat kok petanteng petenteng….. apa mau disangkur!!!!!!!!!!!!

      dodytape responded:
      Oktober 14, 2012 pukul 1:29 am

      Maaf diedit Mas Tri…

    Rani berkata:
    Januari 13, 2013 pukul 9:41 pm

    Di sebuah buku dinyatakan bahwa loreng pertama digunakan oleh kesatuan militer oleh batalion Mobrig Ranger di tahun 1953. Apakah Brimob mempunyai museum? atau ada yang punya corak loreng yang digunakan oleh satuan ranger 1953.

      dodytape responded:
      Januari 14, 2013 pukul 7:45 am

      Brimob merupakan bagian dari POLRI. Jadi museum yang menyimpan sejarah brimob ada di museum POLRI di Trunojoyo, Jakarta Selatan. Termasuk pakaian loreng, ada didalamnya

    Evie berkata:
    Februari 19, 2013 pukul 12:28 am

    “SAT II PELOPOR KORPS BRIMOB POLRI | POLISI BARET BIRU DONGKER” was
    a superb article. If merely there were considerably more weblogs just like
    this excellent one on the actual online world. Anyway, thank you for ur precious
    time, Lorri

      dodytape responded:
      Februari 24, 2013 pukul 6:16 pm

      thank you for visiting my blog…miss Lorri or Evi?

    Indah ( Inar 131212 ) berkata:
    Maret 3, 2013 pukul 7:20 am

    Bravo…!!!!
    Salam kenal , salam hangat..buat semua anggota Brimob Mabes polri….aq bangga sekali pada semua anggota…begitu membaca semua tulisan manambah wawasan tentang bagaimana tugas anggota BRIMOB…aq salut banget deh..& merasa sudah begitu siap mendampingi salah satu anggotanya…..titip salam sayang utk seseorang di Batalyon C Singa Lodaya kompi III………semoga ALLAH selalu meridhoi ……….

      dodytape responded:
      Maret 3, 2013 pukul 4:52 pm

      amin….

        Indah ( Inar 131212 ) berkata:
        Maret 15, 2013 pukul 8:49 am

        makasih & salam kenal ya bang Dody…..atas sambung doax utk kami………sayang waktu senyum ada gigi yg lepas satu tu….. hehehe…….jaya ,sukses, semangat & tetap waspada…..!!!!!

        dodytape responded:
        Maret 16, 2013 pukul 11:51 pm

        Sama2 mbak Indah. Salam telok lemak. Sukses for both of you.

    jimy 25 berkata:
    Maret 21, 2013 pukul 2:41 am

    memang BRIMOB luar biasa,dari dulu th pengen skli ngikut DIKJUR BM,tp skrng dh ekor tiga gni pa msh bisa????,teratai emg benar2 hebat mo di mna sj ttp bsa hidup
    salam hormat dari insan bhayangkara jayawijaya papua

      dodytape responded:
      Maret 21, 2013 pukul 8:16 am

      Selamat datang di blognya brimob masa kini…(• •,) bradeh Jimy, di papua. Kesempatan dikjur lebih baik diutamakan yang muda2 saja dulu. Karena dimerekalah masa depan brimob ditentukan. Klo kita2 ini kan udh waktunya ganti suasana.. salam hormat pula dari brimob kedunghalang buat rekan-rekan disana

    steven yeuyanan berkata:
    Maret 31, 2013 pukul 12:19 pm

    for you my best friend salam brigade aku anak ex menpor/mobbrig yg jg aku adlh ex bm dasba 6000 gel 2 thn 97/98 jd gak usah repot blg zaman orla n orba bgt jg reformasi , jd bg aku tetap lah korps brimob polri jaya selalu,Tuhan Yesus memberkati Korps kebanggaan kita Bravo Brimob Nusantara

      dodytape responded:
      September 30, 2013 pukul 12:16 pm

      Maturnuwun udah gabung disini bang. Maap baru bls komennya…(⊙⊙,)

    putra berkata:
    April 3, 2013 pukul 4:15 pm

    ikutan ya.. boleh donk.. baru liat ada blog lumayan berkualitas begini. Cerita soal brimob, saya punya sodara jauh suaminya kakak sepupu ibu saya. Saya memanggil beliau Pak Kus, dan semua keluarga memanggilnya begitu. Beliau adalah veteran Brimob pada masa PRRI, ketika PRRI berhasil dituntaskan, beliau menjadi polisi biasa, pensiun sebagai Kapolsek Mandau, Kab Bengkalis. Bahkan, jalan menuju rumah nya dinamakan jalan tribrata.

    Munkin penulis atau para bloggers disini ada yang tau atau penulis bisa menambahkan beliau sebagai narasumber. Beliau menjadi purnawirawan sekitar tahun ahkir 80an. Saya lupa tepatnya.

    Bila berbicara fisik, Pak Kus ini memang kelihatan sebagai seorang mantan pasukan elit. Hingga tahun 2005 beliau masih sanggun menyetir mobil sendiri antar kota. Sungguh luar biasa untuk seumuran beliau. Nama lengkap beliau tidak saya publish karena menjaga keprivasian beliau. Mungkin penulis ingin mengontak beliau saya bisa tolong sambungkan keanaknya. thx.

      dodytape responded:
      April 8, 2013 pukul 11:33 pm

      Makasih dah mampir mas Putra di bengkalis. Begitu banyak kisah brimob dari jaman dahulu hingga saat ini. Klo mas putra ada keleluasaan, tulis aja kisah pengalaman beliau di laman komen ini. Klo memang kisahnya bisa membantu memperjelas sejarah, bisa mengontak mas Anton, cp nya ada kok di setiap tulisan beliaunya

    Wanto berkata:
    April 16, 2013 pukul 10:12 am

    sebagai satuan POLRI brimob banyak menorehkan prestasi, banyak pula personil satuan POLRI lainnya SERSE,LANTAS,RESKRIM dll yang berasal dari BRIMOB. saya mohon penjelasan bagaimana caranya personil brimob dapat pindah satuan ke satuan lain, dan apa syarat personil dapat pindah satuan?. lalu apakah di SATBRIMOB ada fungsi reserse juga? dan apa tugasnya sama dengan RESMOB yang ada di POLDA? dan apa bedanya RESMOB dengan Reserse biasa? kalau ada apakah kemampuan reserse anggota POLRI sudah dapat di tingkatkan sewaktu personil yang bersangkutan masih bertugas di BRIMOB sebelum ke Reserse. mohon penjelasan. Terimakasih. Jayalah POLRI

      dodytape responded:
      April 18, 2013 pukul 9:14 am

      Saya akan menjawab sesuai adat yang berlaku…
      Cara pindah satuan, sampeyan menghadap kepada atasan langsung yang nanti secara berjenjang beserta syarat2 administrasi yg bisa ditanyakan ke staff personil. Syaratnya, memenuhi masa dinas atau usia atau invalid atau alasan yang dapat diterima. Resmob sejatinya reserse citarasa brimob. Reserse yg anggotanya berasal dari brimob guna menghadapi kejahatan yg perlu menggunakan kekuatan brimob. Jadi di brimob ada pelatihan pelatihan resmob. Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada momen giat triwulan. Demikian mas Wanto..semoga puas dengan jawaban saya. Kalo masih belum puas, saya mohon maklumnya,karena saya sejatinya bukan alat pemuas..(^_^)

    rudi berkata:
    Mei 14, 2013 pukul 5:08 pm

    gak ada polisi istimewa,gak akan pernah ada 10 nopember 1945… hal ini tak terbantahkan oleh siapapun

    Pembacasetia berkata:
    Mei 19, 2013 pukul 8:58 pm

    Ngetest anggota Brimob nih.
    1. Kenapa asrama Brimob ada lebih dari 10 di Jabodetabek?
    2. Siapa mantan komandan Brimob yang mendapatkan Lencana Cikal Bakal TNI?
    3. Apakah pernah melihat arsip2 penugasan Brimob 1950-1955?
    4. Pernah baca buku-buku sejarah Brimob gak yaaa?

      dodytape responded:
      Mei 19, 2013 pukul 9:19 pm

      Nah, tujuan saya membuat blog ini adalah salah satunya agar anggota brimob saling men share pengetahuan yang dipunyai. Selama ini brimob (wa bil khusus resimen) disibukkan dengan tugas. Apalagi buku tentang brimob sangat sulit akibat pembiasan sejarah. Mungkin ada yang ilmunya tinggi, monggo dibabar….(^~,)

    edo aja berkata:
    Agustus 12, 2013 pukul 4:22 am

    kl cerita jaman dulu, ya semua ikut perang termasuk sukarelawan sipil.krn memang jaman perang n HAM belum segencar sekarang. Sekrng reformasi ya kita kembali ke azasinya. kita tata negara ini dgn benar. militer diciptakan utk menghadapi perang, polisi diciptakan utk menghadapi pelanggar hukum. Senjata militer utk menghancurkan musuh, senjata polisi utk beladiri dlm rangka menegakan hukum, tdk mematikan tp melumpuhkan.Krn pelanggar hukum harus dibuktikan didepan pengadilan.Misalnya masalah teror. Teror bs ditimbulkan krn criminal Organism,Insugensi dan Terorism. Utk menghadapi teror oleh Criminal organism, law enforcment didepan. Utk menghadapi Insurgensi, military didepan dibantu polisi. Utk menghadapi terorisme, military n police bekerjasama dgn penguatan di Intelijen.Lha reformasi malah kebali balik. Tentara anggaran minim sampai dilecehkan negara lain, polisi dibuat seperti tentara, sampai dibuat batalyon.Di negara maju ada satuan polisi seperti militer tapi dalam unit kecil, utk menghadapi kejahatan intensitas tinggi. Lha kalau polisi dilengkapi dgn senapan mesin,RPG n lapis baja. y sama dengan membuat dua tentara dlm satu negara. terduga teroris mati diberondong senapan serbu, padahal ternayat banyak salah tangkap dan belum dibuktikan di pengadilan dan baru terduga, belum tersangka atau terdakwa.katanya tindakan yg terukur…lha kl udah modar tindakan terukur bgm? menurut saya itu krn mind set militernya masih kental. jaga perusahaan, jaga kereta pakai senapan serbu.., memang ini negara di Palestina sana dalam situasi perang?Tinggal kita berniat reformasi atau tdk. Atau kita kembali ke jaman dahulu dimana tentara saling perang termasuk dgn Brimobnya, krn tdk dibawah satu kendali. Sekarang militer n polisi dibawah kendali masing2, tp polisi dibentuk seperti militer. Malah ada yg bilang kalau Brimob itu satuan perangnya polisi..lha nggak salah kaprah ini?…lha azasinya polisi itu apa kok punya satuan perang ….

    tislan berkata:
    Desember 23, 2013 pukul 10:51 pm

    salam komando buat rekan2 di sat 2 pelopor

      dodytape responded:
      Desember 24, 2013 pukul 3:39 pm

      Wa alaikumussalam#komando buat kang Tislan…

    bujangxxv berkata:
    Februari 11, 2014 pukul 9:20 am

    ijin saran kalau bisa membahas sepak terjang brimob di daerah sulawesi tenggara khususnya daerah poleang dan kasipute karena disana ada monumen perjuangan brimob

      dodytape responded:
      Februari 11, 2014 pukul 9:28 am

      Terimakasih atas saran rembugnya mas bujang xxv….#btw saya bujang xxxv..😌. Bila ada rekan senior ataupun sesepuh yang punya kisah brimob SulTra yg dimaksud mas Bujangxxv, monggo dibabar…..📣

    Henny Bibinurbaniah berkata:
    Maret 8, 2014 pukul 1:40 pm

    maaf om…numpang nanya sajidin yang ikut UNAMID ke sudan tahun 2009 itu masih di sat ll pelopor den c? sudah menikah kah beliau sekarang,tahun 2008 sy tugas di daerah terpencil yg sinyalnya susah sy kehilangan kontak ktika beliau bertugas di sudan handphone sy hilang jd sy tidak tau kabar beliau, sy dr kalbar hanya skedar ingin tau kabar krna sy knalnya dari tahun 2004.mohon bantuan siapapun yg tau britanya beliau…makasih banyak dan maaf merepotkan…
    kesan sya pada brimob yang dapat sy ambil dr beliau adalah aparat negara berwajah sangar yang bicaranya sangat sopan dan ramah..sukanya bcanda…gigih belajar bahasa arab sm bahasa inggris wktu mau seleksi itu smpai kerepotan bongkar gudang cari alfalink zaman baheula..salam jika bertemu dia..

      dodytape responded:
      Maret 8, 2014 pukul 5:21 pm

      Untuk bripka Sajidin sekarang di mabes polri mbak e. Sudah ga di sat 2 por lagi. Nanti insyaAllah saya sampekan bila jumpa. Demikian

    Henny Bibinurbaniah berkata:
    Maret 9, 2014 pukul 12:34 pm

    oh udah bripka ya om..sy knalnya dr dia msih bharada dulunya.sudah menikah gak dia ya om? udah lama pindah mabes nya?

      dodytape responded:
      Maret 9, 2014 pukul 12:59 pm

      Sudah lama pindahnya. Sepertinya sudah.

    Henny Bibinurbaniah berkata:
    Maret 9, 2014 pukul 1:41 pm

    ya sudah gak apa,gak ada jodoh kali ya om..salam aja ya om klo ktemu dari org kalbar gtu..beliau juga udah umurnya menikah..sya aja udah 30..hahaha..sya msih nyimpen foto-foto kedunghalang..bagus..jaga trus kebersihannya ya om..juga jajanan warung-warung depan itu rasanya masih terasa..senang bisa sdikit tau kedunghalang…
    oh iya numpang comment ya buat cwe” yang merasa dirugikan sama brimob sya cm mnyampaikan jika anda menghargai tinggi diri anda pasti orang akan lebih menghargai anda.. cinta kan gak berarti harus mendapatkan dg cara apapun..ujung’nya jadi benci kan
    ingatlah bukan brimob juga banyak berkelakuan buruk..yang salah itu cm individu bukan kelompok..
    MY BELOVED BRIGADE MOBILE INDONESIA

      dodytape responded:
      Maret 9, 2014 pukul 2:36 pm

      Trimakasih komen n sarannya mbak Heny. Semoga kita semua dapat menjadi individu yang lebih baik lagi..

    Henny Bibinurbaniah berkata:
    Maret 9, 2014 pukul 3:55 pm

    saya baru tau ada blog ini,seru jg ya baca postingan ribut” gtu,slama ini sy cm mmbayangkan baru ini liat yg asli kata”nya..om TNI jgn kaya’ bgitu ngomongnya kan sama” manusia,om Brimob jg jgn ladeni kapan slesai musuhan nya..masyarakat butuh kalian smua dg tugasnya masing..smua hebat..saya guru..mgkin sy jg bs ngomong klo gak ada guru kalian gak dapet ilmu utk bs jd hebat sprti skrg..kita juga perlu dokter krn smua manusia bisa sakit..knapa hrs mnjatuhkan satu sm lainnya..banyak jg kok TNI yg baik..bnyk juga POLRI yang baik..introspeksi aja apakah anda smua udah melakukan hal-hal yang baik..
    SALUT buat pak dodi bisa tahan matanya liat kalimat-kalimat gtu..sepupu sy juga ada TNI POLRI klo mereka saling menghujat sperti postingan diatas tak ceburin ke sungai kapuas.Alhamdulillah mreka akur malah sring jln bareng,kumpul bareng ya krn ortu mreka bs ngingetin anak”nya klo TNI POLRI hanyalah PROFESI.
    aduh ampun lah sy om dodi msih bijak nanggapi yg omgn kasar.tolong kasi tau anggota yang POLRI klo mreka mnanggapi secara frontal ya apa bedanya klakuan yg satu sm yg lain
    SARAN..buat TNI akankah lebih bijak anda membuat blog sndri kgiatan anda untuk curhat dg temen”..TNI juga keren kok sama dg BRIMOB sy aja ngefans sm Agus Harimurti Yudhoyono..sy ngefans sm Norman Kamaru…kalian orang-orang yang HEBAT..bnyk org yang ingin sprti anda-anda jd bersyukurlah apa yang anda miliki sekarang.TNI POLRI sama” manusia,sama” makan nasi(kecuali org papua ya)sama” bs mati..Om Dodi yg tabah ya..hahaha….Assalamualaikum WR.WB
    invite pin 291962A8 buat yg ingin maki” saya..saya seneng kok krna bnyk yg maki” itu berarti mengurangi dosa saya di dunia coz sya blum cukup bekal ke akhirat..ikhtiar ya om sapa tau di antara nya bisa jadi jodoh wkwkwk

      dodytape responded:
      Maret 9, 2014 pukul 4:02 pm

      Super sekali… terimakasih dah memberi masukan yang berarti. “AJINING DIRI SOKO LATI, AJINING ROGO SOKO BUSONO”.

    dodytape responded:
    Juli 31, 2012 pukul 4:30 pm

    Waalaikumussalam…
    Untuk posisi akp. Roni Faisal saya kurang 86. Namun begitu bila ada inpoh akan di87kan. Demikian

    ANILTONNELIODONASCIMENTO berkata:
    September 18, 2012 pukul 9:40 am

    hebat lho haaaaaa? tingkatkan lah

    dodytape responded:
    September 18, 2012 pukul 10:05 pm

    maksudnya om?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s