REALITAS ” BATALYON TERATAI” DI TIMOR-TIMUR

Penerbitan buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan memicu banyak reaksi dari berbagai kalangan militer maupun Polri. Banyak diantaranya yang memberikan dukungan dan meminta untuk dilanjutkan penulisan secara lebih detail, namun demikian banyak juga saran untuk melakukan revisi karena ada beberapa bab yang dianggap kurang pas. Salah satu bab yang paling kontroversial adalah bab 10 yang membahas keterlibatan Brimob dalam Operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Versi pertama yang muncul dalam blog ini adalah hasil wawancara dengan para anggota Yon Teratai, tentu saja karena mereka tidak memegang jabatan komando tidak memahami garis kebijakan komando dari Brimob pada waktu itu.
Dalam versi revisi ini saya menulis berdasarkan wawancara langsung dengan Komandan Batalyon Teratai Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara yang memahami bagaimana proses pembentukan pasukan, pemberikan perintah, perlengkapan dan penugasan batalyon ini. Beliau juga membeberkan secara detail tentang situasi pertempuran yang sesungguhnya dan pilihan apa yang harus beliau ambil dalam situasi sulit saat itu.
Kami tim penulis sebelumnya mohon maaf kepada Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara karena dalam edisi sebelumnya tidak menyertakan versi beliau. Dalam tulisan ini yang juga akan menjadi bahan dari Buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan cetakan kedua, kami menyampaikan versi revisi dari kejadian Tragedi Minggu Palma 11 April 1976. Tulisan ini akan menjelaskan secara detail tentang bagaimana proses pembentukan pasukan, penugasan, perlengkapan dan operasi yang dijalankan Batalyon Teratai selama Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1976.

Penerbitan buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan memicu banyak reaksi dari berbagai kalangan militer maupun Polri. Banyak diantaranya yang memberikan dukungan dan meminta untuk dilanjutkan penulisan secara lebih detail, namun demikian banyak juga saran untuk melakukan revisi karena ada beberapa bab yang dianggap kurang pas. Salah satu bab yang paling kontroversial adalah bab 10 yang membahas keterlibatan Brimob dalam Operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Versi pertama yang muncul dalam blog ini adalah hasil wawancara dengan para anggota Yon Teratai, tentu saja karena mereka tidak memegang jabatan komando tidak memahami garis kebijakan komando dari Brimob pada waktu itu.
Dalam versi revisi ini saya menulis berdasarkan wawancara langsung dengan Komandan Batalyon Teratai Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara yang memahami bagaimana proses pembentukan pasukan, pemberikan perintah, perlengkapan dan penugasan batalyon ini. Beliau juga membeberkan secara detail tentang situasi pertempuran yang sesungguhnya dan pilihan apa yang harus beliau ambil dalam situasi sulit saat itu.
Kami tim penulis sebelumnya mohon maaf kepada Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adikara karena dalam edisi sebelumnya tidak menyertakan versi beliau. Dalam tulisan ini yang juga akan menjadi bahan dari Buku Resimen Pelopor Pasukan Elite Yang Terlupakan cetakan kedua, kami menyampaikan versi revisi dari kejadian Tragedi Minggu Palma 11 April 1976. Tulisan ini akan menjelaskan secara detail tentang bagaimana proses pembentukan pasukan, penugasan, perlengkapan dan operasi yang dijalankan Batalyon Teratai selama Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1976.

PEMBENTUKAN PASUKAN
Pembentukan pasukan Batalyon Teratai sejak awal memang bermasalah karena keputusan pembentukan pasukan ini hanya berdasarkan perintah lisan. Personel yang diambil dari pasukan ini adalah anggota Polri yang pernah bertugas sebagai anggota Resimen Pelopor. Secara resmi Resimen Pelopor sudah dibubarkan pada tahun 1972. AKBP Ibnu Hadjar Adikara hanya diberi waktu selama 3 hari untuk membentuk Batalyon Teratai. Pasukan ini kemudin merekrut anggota hanya berdasarkan data yang minimal dan ingatan para bekas anggota Menpor dan selanjutnya mengirimkan radiogram ke kesatuan yang baru.
Pada hari ke 3 terbentuklah sebuah batalyon yang terdiri dari berbagai bekas Menpor yang bisa dikumpulkan dalam waktu 3 hari itu dan rekrutmen baru dari Brimob. Menurut Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara pasukan itu adalah pasukan yang pembentukannya asal comot. Namun demikian beliau tidak begitu khawatir karena penugasan pasukan ini hanya untuk penugasan territorial dan penugasan polisi di daerah konflik.
Profil AKBP Ibnu Hadjar Adhikara sendiri sebagai komandan Batalyon Teratai sudah memenuhi syarat sebagai komandan sebuah batalyon tempur karena beliau lulusan PTIK tahun 1961, sekolah Infanteri lanjut di Fort Lavenworth dan Pendidikan Pelopor tahun 1961. Pengalaman operasi tempur beliau adalah memimpin kompi Brimob dalam operasi penumpasan DI/TII di Jawa Barat dan Sumatera, serta operasi penumpasan PRRI di Sumatera akhir tahun 1961.
Komandan kompi dalam Batalyon Teratai merupakan kombinasi dari perwira bekas Resimen Pelopor tahun 1960-an dan rekrutmen Akademi Kepolisian tahun 1970-an. Kombinasi ini untuk menutup kekurangan perwira berpengalaman di jajaran batalyon Teratai ini.

PERLENGKAPAN DAN PERSENJATAAN PASUKAN
Pada masa kejayaannya tahun 1959-1968, Resimen Pelopor mempunyai perlengkapan yang hebat untuk menunjang penugasannya sebagai sebuah pasukan khusus. Namun demikan, Yon Teratai yang dianggap penerus Resimen Pelopor hanya mendapatkan perlengkapan seadanya. Persenjataan mereka adalah senapan serbu AR 15, namun demikian setiap anggota hanya dibekali amunisi sebanyak 70-100 butir. Banyak diantara para anggota ini juga tidak dibekali dengan perlengkapan logistik standar. Sebagai contoh mereka tidak membawa ransel maupun ponco, tetapi hanya membawa koper dari seng. Perlengkapan lain seperti granat peluncur maupun granat tangan juga tidak disediakan. Hal lain yang menyedihkan adalah pasukan ini hanya dibekali dengan peta tanpa ada kompas sebagai penunjuk arah. Radio komunikasi antara markas batalyon dan kompi di lapangan atau dengan peleton juga tidak disediakan. Padahal lazimnya pada pasukan tempur, pada level peleton tersedia radio komunikasi PPRC. Bahkan khusus pasukan Menpor dalam setiap tim tersedia radio PPRC untuk melakukan komunikasi.
Senapan serbu AR 15 ini mempunyai kelemahan ketika digunakan pada medan kering dan panas, yaitu macet. Selain itu jenis senapan otomatis ini memerlukan ketrampilan menembak pada level ahli (level 2) karena akurasi bidikan dan mengatur irama tembakan diperlukan pada saat kontak senjata dengan intensitas tinggi.
Sebagian besar anggota Yon Teratai yang berasal dari Brimob rekrutan baru belum memahami senapan AR 15 ini, mereka juga belum mendapatkan pelatihan menembak seperti anggota Resimen Pelopor. Mereka hanya mendapatkan latihan menembak pada saat pendidikan Brimob.

PERUBAHAN PENUGASAN
Penugasan Yon Teratai adalah sebagai pasukan polisi di daerah konflik dan bukan sebagai pasukan tempur, hal ini berdasarkan perintah dari Mabes Polri terhadap pasukan ini. Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara berpendapat jika penugasan sebagai pasukan polisi di daerah konflik dan bukan pasukan tempur, maka perlengkapan dan kualifikasi seperti itu sudah memadai.
Perubahan perintah terjadi karena ada perintah lisan pada waktu pasukan sudah dalam perjalanan menuju Timor Timur. Pasukan diberi perubahan tugas untuk menjadi batalyon penyekat bagi pasukan Kogasgab yang sedang bertempur di Bobonaro. Pasukan ini terdiri dari Yon Linud dari Brawijaya dan sebagian dari Densus Alap-alap Brimob. AKBP Ibnu Hadjar Adhikara segera melaksanakan perintah dengan pembagian tugas mendadak di dalam kapal. Batalyon Teratai dengan jumlah 300 personel ini diminta untuk menutup wilayah kurang lebih seluas 2400 kilo meter persegi, padahal dalam teori, sebuah batalyon tempur dengan jumlah 600 personel hanya mampu menutup wilayah seluas 200 kilo meter persegi. Kita bisa membayangkan tingkat kesulitan yang dihadapi batalyon ini di Timor Timur ini, tetapi Danyon tidak mempunyai pilihan lain kecuali melaksanakan perintah.
SITUASI PERTEMPURAN
Tanggal 11 April 1976, pasukan Fretilin melakukan gerak mundur dari wilayah Bobonaro karena tekanan pasukan TNI dan Polri yang tergabung dalam Kogasgab. Sebagian besar pasukan Fretilin ini adalah pasukan Tropaz yang berpengalaman tempur di Mozambique, Afrika pada saat konflik antara Portugal dengan negara jajahannya di Afrika tersebut. Pasukan Tropaz ini sangat mengenal medan tempur di Timor Timur. Mereka adalah orang asli Timor Timur yang direkrut menjadi tentara Portugal.
Pagi hari tanggal 11 April 1976, pasukan Kompi A Yon Teratai sudah berhadapan dengan pasukan Tropaz Fretilin, namun demikian pasukan Fretilin ini dengan licik menggunakan penyamaran berupa tameng manusia. Kompi A masih mampu menghadapi pasukan Fretilin, namun demikian karena kesulitan membedakan rakyat dengan musuh, mereka terjebak dalam kontak senjata dengan intensitas tinggi. Satu hal yang diluar dugaan adalah jumlah pasukan Fretilin ternyata lebih dari 1 batalyon dengan persenjataan lengkap.
Kompi A kemudian terpaksa mengundurkan diri karena kehabisan amunisi. Pada sekat kedua Kompi B juga mengalami hal yang sama, hal ini diperburuk dengan ketiadaan radio komunikasi sehingga komandan kompi tidak mampu menghubungi markas batalyon dan kompi lainnnya sehingga koordinasi dalam pertempuran tidak bisa dilakukan. Kompi C sebagai sekat terakhir juga harus mengundurkan diri karena kehabisan amunisi. Selain itu, anggota pasukan juga banyak mengalami senjata mereka macet ketika ditembakkan.

KEPUTUSAN DILEMATIS KOMANDAN BATALYON
Pada saat itu Danyon AKBP Ibnu Hadjar Adhikara menghadapi situasi sulit ketika melihat kondisi pasukannya di lapangan. Beliau melihat beberapa anggota pasukan masih mempunyai semangat tempur tinggi, namun demikian tanpa amunisi bertahan di medan pertempuran sama dengan misi mati konyol. Pada waktu itu beliau memerintahkan pada staf batalyon dan semua kompi Yon Teratai untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Beliau memerintahkan agar semua senjata dan perlengkapan dibawa ke garis belakang dan menghindari kontak dengan musuh untuk meminimalisir korban.
Dalam wawancara per telepon, beliau menyatakan bisa saja anak buahnya diperintahkan untuk bertahan sampai titik darah penghabisan, tetapi masalahnya mereka bertahan dengan apa karena amunisi sudah habis. Kalau bertahan pasti berakhir dengan mati konyol, dan beliau menyadari keputusan mundur dari pertempuran harus dipertanggungjawabkan kelak. Beliau juga menyatakan tidak ada senjata yang dibuang atau dibakar jadi semua personel tetap membawa senjata masing-masing meskipun dalam keadaan kosong.
Beliau menyatakan opsi mundur dari pertempuran sesuai dengan standar pertempuran. Beliau juga menyatakan pada saat mundur AKBP Ibnu Hadjar Adhikara masih memimpin pasukan Yon Teratai dan tidak melarikan diri. Yon Teratai akhirnya mengundurkan diri di wilayah Tenggara Bobonaro.

PASCA OPERASI SEROJA
Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara menyatakan bertanggung jawab penuh atas perintah mundur pasukan Yon Teratai, beliau tidak menyalahkan anak buahnya maupun para perwira bawahannya. Dalam penyelidikan peristiwa itu beliau juga menyatakan berpegang teguh pada tradisi militer bahwa komandan tertinggi (danyon) yang harus bertanggung jawab. Sikap ksatria ini dihargai oleh Mabes Polri.
Komandan Batalyon Teratai Brimob Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari Dinas Kepolisian, meskipun Mabes Polri mencegahnya karena dari sisi karier masih bisa dipertahankan. Beliau memilih mundur sebagai bentuk tanggung jawab keputusan beliau dalam situasi sulit di medan tempur Operasi Seroja. Pada akhirnya Kombes Pol Ibnu Hadjar Adhikara diberhentikan dengan hormat dari dinas Polri dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi. Pasca penugasan di Polri beliau banyak aktif dalam dunia bisnis dan juga sebagai akademisi. Pengalamannya semasa dinas, membuat beliau seringkali diminta memberikan konsultasi atau rekan diskusi para Perwira Tinggi Polri saat ini.

Hasil wawancara dengan Kombes Pol (Purn) Ibnu Hadjar Adhikara, mantan Danyon Teratai Brimob Ops Seroja 1976, tanggal 26 Maret 2012.

Dr (Cand) Anton A Setyawan, SE,MSi
Fak Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
Jl A Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
e-mail: rmb_anton@yahoo.com dan anton4setyawan@gmail.com

Pra ops di bulan mei 2012

image

Detasemen C / SL untuk sekian kali dipercaya untuk mengemban tugas dari negara yakni mengamankan suatu event nasional. Maka, guna menunjang keberhasilannya, sebanyak 2 SSK dari Detasemen ini melaksanakan pelatihan yang sifatnya merefresh kemampuan satuan maupun perorangan. Salahsatunya CQB

image

image

” Doakan kami ya….” (jadi inget takeshi castle , hwhwhw)
*by the way, kami juga mohon dukungan untuk rekan2 yang sekarang ini bahu-membahu bersama rekan2 TNI dan tim SAR lainnya dalam evakuasi korban kecelakaan pesawat sukhoi didaerah kaki gunung Salak           

Anggota brimob siaga demo kenaikan BBM

image

Sat II Pelopor menyiagakan anggotanya menyusul makin maraknya unjukrasa yg menolak kenaikan BBM. Di titik 2 rawan, termasuk obyek vital…telah ditempatkan personil POLRI, termasuk anggota brimob satuan II pelopor yang siap menanggulangi tindak anarkhis yang mungkin terjadi.  Penulis sebagai manusia biasa yg juga tak luput dari mengkonsumsi BBM(motornya…) sangat mengerti tujuan unras ini. Cuma yang bikin saya ga ngerti, kenapa harus anarkhis? Dan akhirnya polisi yang disalahkan…. * be smart, be wise

BinTra

image

Hari ini dilaksanakan pembinaan dan tradisi( bintra) dijajaran subden 2. Para pesertanya adalah bintara remaja yang diorganikkan ke detasemen c singalodaya.
Setelah hampir setahun para bintara remaja ditampung di Makosat II Pelopor…mereka akhirnya dibagi ke Detasemen-detasemen.

Ada apa dengan POLISI?

Kalimat di atas sekilas memang mirip judul sebuah film. Tapi pertanyaan ini sangat pas dengan situasi saat ini. Banyak kritik bahkan judgement negatif terhadap polisi. Meskipun berbagai hujatan mendera, saya dan temen2 ga ambil pusing dan ga mw terpengaruh dalam menjalankan tugas sehari-hari. Saya sempet teringat kata2 seorang polisi senior…,”anggota polisi itu bukan datang dari langit, tapi berasal dari masyarakat. Jadi bila anggota polisi itu kurang baik,maka itulah cerminan dari masyarakatnya. Peran tokoh masyarakat dan ulama/tokoh agama lah yang diperlukan disini. Untuk membimbing jiwa2 yang sudah mulai “jauh”.

WELCOME HOME, 3rd FPUers

Bertempat dilapangan Baharkam Mabes Polri, Kapolri jend Timur Pradopo menyambut 130 dari 140 personel FPUer III dalam sebuah upacara penyambutan. Disebutkan bahwa POLRI telah mengirim 4 kontingen Garuda Bhayangkara dalam kurun waktu 2008 hingga sekarang. Dan FPUer dari indonesia sampai kini masih dinilai terbaik oleh UN,dibandingkan dengan kontingen negara lain.
Sekelumit penggalan cerita dari darfur,bahwa tim cpc yang biasa dikawal oleh fpu Indonesia,di ambuse oleh kelompok bersenjata. Pada saat itu cpc dikawal oleh rwandan army. Sejumlah cpc dan rwandan army tewas. Padahal selama hampir setahun cpc tersebut dikawal oleh fpu indonesia,dan tidak pernah mendapat gangguan..
Aniway, welcome home brades… Selamat berkumpul dengan keluarga, dan selamat berjumpa dengan tameng sekat..(^^,)

Ied Mubarak, Iedl Qurban

Kutipan

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.., la Ilaha Illallahu Allahu Akbar.. Allahu Akbar walIllahilham..
Renungan: kambing dan sapi,dari lahir selalu dalam ketidakenakan. Ga pernah makan enak, ga pernah dibeliin pakaian pas lebaran, tidurpun ga pernah dapat tempat yg bersih. Begitu dah gede, dipotong..
Kambing dan sapi harusnya menginspirasi manusia. Bila ada orang yang berbangga telah berqurban sekian ekor kambing/sapi, maka ia harus malu pada kambing/sapi yang telah mengorbankan kehidupannya..

SELAMAT BERTUGAS FPU IV

Malam ini, sejumlah 140 personil FORMED POLICE UNIT (FPU) IV berangkat menuju Al-Fashir, Northern Darfur, Sudan. Mereka akan menggantikan kontingen Garuda Bhayangkara yang telah kurang lebih setahun bertugas disana. Selama setahun kedepan,kontingen ini akan menjalankan misi perdamaian PBB. Disana mereka akan melaksanakan pengawalan terhadap CPC, VIP, Refugees dan International Aids Org. juga akan melaksanakan patroli diseputaran IDP Camps, penjagaan terhadap staff dan aset2 PBB, bersama dengan FPU negara lain. SELAMAT BERTUGAS KAWAN. JAGA NAMA BANGSA, DAN KIBARKAN MERAH PUTIH. SEMOGA KEHADIRAN KONTINGEN INDONESIA DIDARFUR MEMBAWA PERDAMAIAN DISANA.